Setiap penggemar Taylor Swift pasti mengetahui lirik salah satu lagu paling dicintainya—“All Too Well” (beserta versi lengkap berdurasi 10 menitnya)—di luar kepala. Namun, dalam wawancara terbaru, sang superstar pop ini mengungkapkan kisah di balik lagu tersebut dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
BACA JUGA:
Taylor Swift Jadi Perempuan Termuda yang Pernah Masuk Songwriters Hall of Fame
Kemarin sore, The New York Times merilis daftar 30 Greatest Living American Songwriters, yang dipilih oleh lebih dari 250 insan industri musik, dengan masukan dari enam kritikus NYT.
Taylor, seperti yang sudah diduga, terpilih sebagai salah satu dari 30 finalis, bersama legenda hidup lainnya seperti Bob Dylan, Carole King, Mariah Carey, Kendrick Lamar, Bad Bunny, dan lainnya. Bertepatan dengan terpilihnya dirinya, penyanyi asal Pennsylvania tersebut duduk untuk sebuah wawancara dengan publikasi tersebut, di mana pada satu titik ia membahas proses pembuatan “All Too Well.”
“Keseluruhan cerita tentang ‘All Too Well’ adalah bahwa ini merupakan semacam luapan emosi yang sangat intens yang saya lakukan saat, seperti, soundcheck,” jelasnya. “Kami sedang latihan untuk tur Speak Now. Saya sedang sangat sedih, dengan cara yang, Anda tahu, ketika Anda berusia 21 tahun dan rasanya begitu menyakitkan… kesedihan adalah diri Anda. Anda adalah kesedihan. Lalu, saat jeda, saya mulai memainkan empat chord yang sama berulang-ulang. Pada dasarnya, seluruh lagu ini menggunakan empat chord yang sama secara berulang, dan itu berkembang menjadi sesuatu di mana saya mulai berbicara tanpa arah, dan ini berlangsung sangat, sangat lama.”
Lagu yang begitu menyayat hati ini secara luas dipercaya menceritakan tentang hubungan Taylor yang singkat namun penuh gairah dengan aktor Jake Gyllenhaal, yang dimulai pada akhir 2010 dan berakhir pada awal 2011, sekitar musim liburan. (Lirik terkenalnya tentang syal hijau miliknya terus teringat di benak setiap Swiftie.)
Ternyata, hanya karena kebetulan Taylor akhirnya merekam lagu yang kemudian menjadi bagian pertama dari album studio keempatnya, Red. “Luapan emosi itu berlangsung lebih dari 10 menit, dan tidak benar-benar padu, juga tidak terlalu terstruktur, tetapi setelahnya terasa seperti—saya rasa ibu saya atau seseorang menghampiri sound engineer dan berkata, ‘Apakah Anda, secara kebetulan, merekam itu tadi?’ Dan dia menjawab, ‘Ya, saya merekamnya.’ Saya mungkin akan meninggalkannya begitu saja jika dia tidak memiliki rekamannya.”
Taylor kemudian menyebut lagu tersebut sebagai “katarsis dari emosi yang intens,” dan ia mengakui bahwa versi aslinya sedikit lebih mentah dibandingkan dengan yang akhirnya didengar para penggemar. “Ada beberapa bagian yang sangat marah dan tajam yang membuat saya berpikir, ‘Sepertinya saya harus mengubah ini menjadi lagu yang sedikit lebih mudah diterima.’ Karena saya sudah merasa sangat terbuka dan rentan saat merilis lagu itu, sedetail apa pun isinya.”
Pada album Red tahun 2012, “All Too Well” awalnya dipangkas menjadi lagu berdurasi lima setengah menit, sebelum Taylor mengungkap bahwa lagu tersebut berasal dari versi yang lebih panjang dan lebih berantakan.
“Saya membuat kesalahan dengan semacam menjelaskan bagaimana lagu itu tercipta dalam sebuah wawancara,” candanya. “Namun, itu justru menjadi kesalahan yang sangat menguntungkan yang akhirnya membuat saya merasa, ‘Oh, saya sangat senang hal itu terjadi.’”
Karena permintaan para penggemar, Taylor memutuskan untuk merekam versi 10 menit yang lebih mendekati versi “rambling” aslinya, yang kemudian ia sertakan dalam perilisan ulang album studio keempatnya, Red (Taylor’s Version). (Lagu tersebut akhirnya berhasil mencapai posisi No. 1 di Billboard Hot 100, menjadikannya lagu terpanjang dalam sejarah yang mencapai posisi tersebut. Film pendek yang menyertainya, yang disutradarai oleh Taylor, juga memenangkan Best Music Video di Grammy Awards.)
Namun, prosesnya tidaklah mudah. “Selama bertahun-tahun, para penggemar berkata, ‘Berikan kami versi 10 menit, berikan kami versi 10 menit.’ Dan saya kembali membuka diary, menemukan potongan-potongan kecil darinya,” jelas Taylor. “Saya sudah tidak memiliki versi lamanya lagi. Jadi saya mencari-cari di brankas, mencoba menemukan CD-nya, tetapi saya harus kembali menyusun lirik dan sebagainya. Itu adalah proses restorasi paling luas yang pernah saya lakukan untuk sebuah lagu. Saya rasa saya tidak akan pernah mengalami hal seperti itu lagi.”
BACA JUGA:
Semua Momen Bergaya Klasik yang Mungkin Terlewatkan dari Video Musik "Opalite" Taylor Swift
Taylor Swift Kembali Tampil dengan Rambut Keriting khas Era Debutnya
(Penulis: Joel Calfee; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Alleia Anata; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Taylor Swift
- All Too Well
