"Watchmaker of shapes." Sebutan ini sudah lama melekat pada Cartier. Sejak awal abad ke-20, Cartier dikenal lewat kemampuannya membentuk waktu dalam siluet yang tidak konvensional, mulai dari persegi, oval, hingga bentuk asimetris yang kemudian menjadi ikonis.
BACA JUGA: Koleksi Terbaru Chanel di Watches and Wonders 2026
Di Watches & Wonders 2026, pendekatan tersebut kembali terasa. Bukan dalam bentuk yang sepenuhnya baru, melainkan melalui cara Cartier membaca ulang arsip desainnya dengan penekanan yang lebih halus pada detail, material, dan proporsi.
Baignoire
Salah satu yang paling menonjol adalah Baignoire. Jam tangan yang pertama kali diperkenalkan pada 1958 ini kini hadir dengan balutan clou de Paris, motif klasik Cartier sejak era 1920-an. Motif ini diaplikasikan secara menyeluruh, mulai dari gelang, case, hingga dial, menciptakan permukaan yang bertekstur dan ritmis, hampir seperti permukaan yang hidup. Dalam versi berlian, 100 brilliant-cut diamonds disusun dengan teknik snow-setting yang menghadirkan pantulan cahaya yang lembut dan berlapis.
Myst De Cartier
Jika Baignoire menekankan tekstur, Myst de Cartier justru bergerak ke arah yang lebih eksperimental. Tanpa clasp dan dengan konstruksi menyerupai gelang trompe-l’oeil, jam ini terasa seperti objek perhiasan yang hidup di pergelangan tangan. Kombinasi pavé diamonds, onyx, dan lacquer hitam menciptakan permainan bentuk dan cahaya yang terus berubah, seolah mengikuti gerak tubuh pemakainya.
Roadster
Energi yang lebih dinamis hadir melalui kembalinya Roadster. Pertama kali diperkenalkan pada 2002, jam ini dikenal lewat referensi otomotifnya. Tahun ini, Cartier menghadirkan interpretasi baru dengan garis yang lebih tajam, proporsi yang lebih seimbang, serta pilihan material seperti steel, yellow gold, dan kombinasi keduanya dalam ukuran medium dan large. Hasilnya terasa lebih matang tanpa kehilangan karakter aslinya.
Santos-Dumont
Santos-Dumont bergerak ke arah yang lebih refined. Dial obsidian menjadi elemen utama, menghadirkan kedalaman visual yang unik berkat karakter alami batu tersebut. Dipadukan dengan gelang logam fleksibel yang terinspirasi dari desain 1920-an, jam ini terasa ringan di pergelangan, namun kompleks dalam pengerjaannya.
Tortue
Sementara itu, Tortue kembali dengan pendekatan yang lebih lembut. Proporsinya dibuat lebih membulat dengan pilihan material mulai dari yellow gold, rose gold, hingga white gold dan diamond-set. Dalam versi yang lebih ekspresif, Cartier juga menghadirkan interpretasi métiers d’art (kerajinan tangan seni) dengan motif panther melalui teknik enamel yang kompleks, serta versi platinum dengan baguette-cut diamonds yang memberi nuansa evening watch yang lebih tenang dan elegan.
Cartier Privé
Melalui Cartier Privé, Cartier menghadirkan Opus ke-10 dengan tiga bentuk ikonis: Tank Normale, Tortue Chronographe Monopoussoir, dan Crash Squelette. Ketiganya disatukan oleh penggunaan platinum dan aksen burgundy yang memberikan kontras yang halus.
Cartier Privé: Crash Squelette
Crash Squelette menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Diciptakan ulang dengan movement manual 1967 MC, konstruksinya mengikuti garis asimetris case dengan presisi tinggi. Sebanyak 142 komponen disusun dalam ruang yang sangat terbatas, sementara bridges berbentuk angka Romawi dipalu secara manual, memperlihatkan bagaimana teknik dapat terasa begitu dekat dengan ekspresi visual.
Cartier juga memperkenalkan Cartier Privé La Collection yang menghadirkan kembali Tank Normale, Tank Cintrée, dan Cloche. Ketiga model ini tetap mempertahankan karakter aslinya, seolah mengingatkan bahwa bentuk yang kuat tidak membutuhkan banyak perubahan untuk tetap relevan.
Melalui keseluruhan dari koleksi ini, Cartier tidak seperti memberikan kesan effort untuk mengejutkan para penikmat jam tangan. Pendekatannya terasa lebih terukur, lebih tenang, dan justru itu yang membuat terasa semakin meyakinkan.
BACA JUGA:
Clash de Cartier, Pancaran Refleksi Aura Olivia Dean
10 Pilihan Jam Tangan Two Tone Terbaik untuk Tampilan Elegan
(Penulis: Devon Satrio)
