Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Bagaimana Maskara Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Dunia Kecantikan

Tampilan mata yang lebih ringan dan alami perlahan menggantikan peran maskara.

Bagaimana Maskara Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Dunia Kecantikan
Foto: Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Ada satu momen yang terasa seperti penanda menjadi seorang perempuan dewasa. Ketika akhirnya diizinkan menukar maskara lama milik ibu dengan versi hitam pekat. Saat sikat spoolie yang penuh pigmen itu disapukan ke bulu mata, wajah seolah langsung terlihat lebih hidup. Atau mungkin, saat itu justru baru disadari bahwa bulu mata alami sudah memiliki daya tariknya sendiri.

BACA JUGA: 8 Rekomendasi Maskara Terbaik Versi Bazaar

Selama ini, maskara dikenal sebagai satu produk yang benar-benar mampu menghidupkan tampilan mata. Ia menjadi sentuhan akhir yang terasa penting dalam rutinitas makeup. Bahkan, bagi banyak orang, riasan mata adalah hal pertama yang dipelajari ketika mulai mengenal makeup.

Tren makeup memang terus berubah, namun maskara selalu berhasil bertahan. Ia melewati era no makeup makeup di tahun 1990-an, kembali populer di 2010-an dengan pendekatan yang lebih natural, hingga hadir dalam estetika clean girl yang banyak digemari beberapa tahun terakhir dan turut dipopulerkan oleh figur seperti Hailey Bieber. Ketika eyeshadow dan bulu mata palsu mulai ditinggalkan, maskara dalam formula yang lebih lembut tetap menjadi pilihan.

Namun, musim runway terakhir menunjukkan pergeseran yang cukup jelas. Tampilan tanpa maskara atau ghost lashes mulai mencuri perhatian, termasuk pada kemunculan Sofia Richie Grainge dan Lorde di Met Gala tahun lalu. Di panggung mode, maskara bahkan kerap dihilangkan sepenuhnya.

Pada runway Burberry Spring 2026, eyeliner yang intens dan smoky eyes menggantikan peran maskara. Di Chloé, tampilan dibuat minimal dengan fokus pada lipstik bernuansa lembut, sementara di Lacoste, lipstik oranye terang menjadi pernyataan utama tanpa tambahan maskara sama sekali. Di Dior, satu-satunya sentuhan pada bulu mata hanyalah penjepit untuk memberi lengkungan alami.

Lalu, mengapa maskara mulai kehilangan tempatnya? Menurut Peter Philips, maskara memberi kesan yang lebih sensual dan dramatis, sesuatu yang tidak selalu diinginkan dalam konteks runway saat ini. Tanpa maskara, tampilan justru terasa lebih segar, menonjolkan pantulan cahaya, luminositas, dan kilau alami kulit.

Perubahan ini juga tercermin pada konsumen. Data menunjukkan penurunan minat terhadap produk bulu mata, termasuk maskara hitam. Ada kecenderungan menuju tampilan mata yang lebih ringan, lembut, dan terlihat alami. Menurut Mary Phillips, riasan wajah totalitas akan selalu memiliki tempatnya, namun saat ini banyak orang lebih tertarik pada tampilan yang segar. Melewatkan maskara menjadi salah satu cara paling mudah untuk menjaga tampilan tetap modern sekaligus memberi ruang pada kulit untuk tampil lebih sehat.

Rutinitas makeup yang kompleks juga mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi Z yang menjadi pendorong tren tanpa maskara ini.

Di sisi lain, tren ini berjalan beriringan dengan meningkatnya minat terhadap solusi estetika jangka panjang. Prosedur seperti Blepharoplasty semakin banyak dipilih untuk menciptakan tampilan mata yang lebih cerah. Dengan meningkatnya perawatan area mata, banyak orang justru tidak ingin terlalu menarik perhatian pada bagian tersebut, seperti yang dijelaskan oleh Daniel Martin.

Menurut Romy Soleimani, keputusan meninggalkan maskara juga berkaitan dengan kenyamanan. Tanpa maskara, tampilan terasa lebih santai dan effortless, seolah tidak perlu berusaha terlalu keras.

Meski demikian, bukan berarti definisi pada mata sepenuhnya dihilangkan. Pendekatan yang digunakan kini lebih halus. Eyeliner dapat menciptakan ilusi bulu mata yang lebih penuh tanpa terasa berat. Penjepit bulu mata tetap menjadi langkah sederhana yang efektif untuk membuka tampilan mata.

Ada pula cara lain yang lebih subtil untuk merawat bulu mata tanpa menambahkan warna. Menggunakan primer untuk mempertahankan lengkungan, atau mengaplikasikan sedikit balm seperti Vaseline untuk memberi efek lentik sekaligus kilau alami. Concealer dengan coverage tinggi di area bawah mata juga dapat membantu membuat mata tampak lebih segar dan terbuka.

Karena tampilan tanpa maskara cenderung lebih natural, teknik complexion pun ikut menyesuaikan. Underpainting menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk menciptakan hasil yang lebih menyatu dengan kulit. Blush, bronzer, dan highlighter membantu membentuk wajah sekaligus memberi dimensi tanpa terlihat berlapis. Formula yang lebih creamy juga dipilih untuk menjaga kulit tetap segar, dengan tambahan highlight halus di area tulang alis.

Sebagai penyeimbang, fokus riasan dapat dialihkan ke bibir. Warna-warna cerah seperti merah atau pink dapat menjadi pernyataan utama tanpa membuat tampilan terasa berlebihan. Untuk hasil yang lebih halus, penggunaan lip liner yang dibaurkan dapat membantu menciptakan efek bibir yang lebih penuh tanpa garis yang terlalu tegas.

Pada akhirnya, tampil dengan bulu mata alami menjadi semacam latihan dalam menahan diri. Sebuah cara untuk membingkai ulang rutinitas makeup sehari-hari dan memahami bahwa tidak selalu perlu menambahkan lebih banyak.

Ada kekuatan dalam kesederhanaan. Seperti konsep quiet luxury dalam mode, keindahan tidak selalu harus ditampilkan secara mencolok. Ketika bulu mata dibiarkan alami, ada sesuatu yang terasa lebih jujur, bahkan aspiratif.

Dan mungkin, di situlah letak perubahan ini. Bukan karena maskara sepenuhnya kehilangan tempatnya, melainkan karena cara kita memaknai kecantikan sedang berkembang.

BACA JUGA:

15 Rekomendasi Makeup Remover untuk Area Mata yang Teruji Ampuh untuk Angkat Maskara dan Eyeliner

Apakah Maskara Cokelat Kembali Untuk Selamanya?

Baca artikel Beauty Bazaar yang berjudul "The Naked Eye" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - April 2026; Penulis: Katie Intner; Alih Bahasa: Alisa Putri Ramadhina; Foto: Courtesy of Dok. Bazaar