Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Cerita Teddy Soeria Atmadja tentang Metafora Dapur dan Hubungan Manusia

Koneksi sesama manusia selalu menjadi pusatnya dalam berkarya, terpancar dalam serial terbaru Netflix buatannya, Luka, Makan, Cinta.

Cerita Teddy Soeria Atmadja tentang Metafora Dapur dan Hubungan Manusia
Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia

Di tengah lanskap perfilman Indonesia yang terus bergerak dinamis, Teddy Soeria Atmadja hadir dengan pendekatan yang tenang namun berlapis mengutamakan kejujuran emosi dibandingkan sensasi. Melalui karya terbarunya untuk Netflix, Luka, Makan, Cinta, ia tidak sekadar merangkai visual yang menggugah selera, tetapi juga menyusun sebuah narasi tentang relasi manusia yang intim, rapuh, dan kerap dipenuhi luka yang tak terucap.

Bagi Teddy, perjalanan menuju kursi sutradara tidak dibentuk oleh jalur akademis formal, melainkan oleh kebiasaan menonton dan ketertarikan mendalam terhadap cerita sejak usia muda. Tumbuh di era '90-an, ia menemukan dunia film sebagai ruang eksplorasi emosional yang nyaris tak berbatas. Meski sempat mengambil jalur studi di bidang human behavior, justru disiplin itulah yang membentuk kepekaan naratifnya hari ini membaca gestur, memahami diam, dan menangkap ketegangan halus dalam relasi manusia.

BACA JUGA: Harry Styles Memulai Era Barunya dengan Bantuan dari Netflix

Menariknya, Luka, Makan, Cinta tidak lahir dari obsesi terhadap dunia kuliner. Sebaliknya, cerita ini berakar dari hubungan ibu dan anak sebuah dinamika yang, menurut Teddy, paling dekat dengan pengalaman personalnya. Dapur dan makanan kemudian hadir sebagai semesta visual yang memperkaya narasi, bukan mendominasi. Setiap plating, setiap uap yang mengepul, menjadi metafora bagi perasaan yang tidak selalu menemukan kata. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang tidak hanya memanjakan indera, tetapi juga menyentuh lapisan emosional yang lebih dalam.

Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia

Human connection selalu menjadi inti,” ungkapnya. Dalam setiap frame, terlihat bagaimana ruang, cahaya, dan keheningan bekerja sebagai bahasa kedua. Ada kehangatan yang terasa familiar, namun juga jarak yang sulit dijembatani, ada cinta yang hadir, tetapi tak pernah sepenuhnya sederhana. Kontras inilah yang menjadikan narasi terasa hidup tidak hitam putih, melainkan penuh nuansa.

Proyek ini sendiri mengalami transformasi yang tidak terduga. Awalnya ditulis sebagai film layar lebar dengan pendekatan arthouse, Luka, Makan, Cinta sempat berulang kali tidak menemukan rumah produksi. Hingga akhirnya, di masa pandemi sebuah periode yang memaksa industri kreatif berhenti dan berefleksi, Teddy memutuskan untuk merestrukturisasi ceritanya menjadi format serial. Keputusan tersebut membuka kemungkinan baru, memungkinkan eksplorasi karakter yang lebih mendalam sekaligus memperluas ruang emosional yang ingin disampaikan.

Courtesy of Netflix

Dalam prosesnya bersama Netflix, pemilihan pemain menjadi bagian dari evolusi kreatif yang organik. Nama Mawar Eva de Jongh dan Deva Mahenra hadir melalui diskusi dengan tim kreatif, bukan sebagai keputusan yang telah ditetapkan sejak awal. Hasilnya adalah chemistry yang terasa subtil dan tidak dipaksakan sebuah kualitas yang sulit direkayasa, namun esensial bagi cerita yang bertumpu pada emosi.

BACA JUGA: Netflix Umumkan Adaptasi Rapijali, Perahu Kertas, dan Aroma Karsa Karya Dee Lestari

Ketika ditanya mengenai pesan yang ingin disampaikan, Teddy justru menolak untuk mengurung karyanya dalam satu tafsir tunggal. Baginya, film atau serial bukanlah medium untuk menggurui, melainkan ruang refleksi yang terbuka. Setiap penonton membawa pengalaman personalnya sendiri, dan dari situlah makna terbentuk berlapis, berbeda, dan sering kali tak terduga.

Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia

Pendekatan ini sejalan dengan keyakinannya bahwa cerita yang paling personal justru memiliki daya jangkau paling universal. Emosi yang jujur tidak mengenal batas geografis, apa yang terasa intim di satu tempat dapat beresonansi di tempat lain dengan cara yang sama kuatnya.

Di tengah industri yang kerap digerakkan oleh angka dan validasi instan, Teddy menawarkan perspektif yang lebih hening namun bertahan lama kembali pada kejujuran. Karena pada akhirnya, karya yang benar-benar membekas bukanlah yang paling keras bersuara, melainkan yang paling tulus dirasakan.

Look 1:
Kemeja, MYMD by Deden Siswanto
Outerwear, Raegitazoro

Look 2:
Kemeja dan jaket, Tanah Le Saé
Celana, MYMD by Deden Siswanto

Portofolio ini: 
Fotografer: Gustama Pandu
Interview & Editor Fashion: Geofanny Tambunan 
Makeup & Hair: Daniella Kesya
Asisten stylist: Jennifer Marshiela