Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Silk Scarves Ada di Mana-Mana. Tapi Kenapa?

Sejak lama, perempuan menjadikan selembar kecil sutra sebagai aksesori andalan, tapi musim ini, foulard tampil dengan pendekatan yang lebih eksperimental.

Silk Scarves Ada di Mana-Mana. Tapi Kenapa?
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Pada suatu hari yang gerimis di bulan Juli di Paris, sebuah scarf sutra berukuran sebesar kolam renang Olimpiade tampak berkibar di halaman headquarters Celine. Scarf dengan motif chain-link-and-ribbon berfungsi sebagai tenda bagi para editor, buyer, dan selebritas yang hadir untuk menyaksikan debut Michael Rider sebagai direktur kreatif rumah mode tersebut. Sebenarnya, scarf ini dapat dianggap sekadar properti yang Instagrammable. Namun saat para model mulai melangkah di runway, terlihat jelas bahwa scarf sutra—atau foulard dalam bahasa Prancis—menjadi penanda arah baru bagi Celine.

BACA JUGA: Intip Cara Memakai Scarf Pendek di Leher

Dalam koleksi debut Michael maupun koleksi womenswear musim semi berikutnya, foulard tampil sebagai motif yang dominan. Versi primary-hued dengan motif khas equestrian atau monogram rumah mode tersebut ditata seolah mengintip dari balik lapel mantel, diikat longgar di leher di atas blazer, dan juga tersampir melintang di bahu seperti sash. Lebih dari sekadar aksesori, foulard juga digunakan sebagai lining trench, rok patchwork, hingga atasan dengan detail shirring.

Diana Vreeland
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Ini bukan sekadar obsesi foulard yang muncul begitu saja. Pada musim panas yang sama, semua orang—dari Alexa Chung sampai Kylie Jenner hingga Leandra Medine Cohen—terlihat mengenakan scarf yang diikat seperti sarung kecil di atas celana dan shorts. Lalu, di berbagai runway musim semi di setiap ibu kota mode utama, scarf kembali muncul dalam cara yang tak terduga, bahkan cukup mengejutkan. Di London, Conner Ives memadukan polo lengan panjang oranye terang dengan rok dari scarf sutra hijau kelly bermotif burung. Sementara di Hermès, yang dikenal dengan estetika Prancis yang klasik, Creative Director Nadège Vanhee menggunakan carré khas rumah mode tersebut (scarf sutra berbentuk persegi) dengan menyelipkannya ke dalam harness kulit bergaya BDSM.

“Saya rasa silk scarf kembali terasa begitu dominan di zeitgeist karena ia merupakan ide lama yang bisa menjadi medium untuk menghadirkan konsep baru,” ujar penulis dan tastemaker Medine Cohen, yang kerap bereksperimen dengan tren ini musim panas lalu. “Bentuknya familiar dan mudah dipahami, tapi cara penggunaannya bisa dikembangkan dengan banyak cara baru.” Medine Cohen sendiri pernah mengenakan scarf Hermès favoritnya sebagai halter top dengan shorts, sebagai bra top, di rambut, hingga di bawah perutnya saat hamil “untuk menyamarkan ritsleting celana yang terbuka.” Bagi dirinya, foulard merupakan alat styling yang esensial. “Ketika pola pikir tidak lagi tentang kepraktisan dan sepenuhnya tentang ekspresi diri, silk scarf menjadi elemen akhir yang melengkapi tampilan dengan kontras yang tajam.”

Saya tidak pernah melihat diri saya sebagai seseorang yang dapat mengenakan silk scarf. Aksesoris ini dimiliki oleh ibu dan nenek saya yang stylish, yang mengenakannya di bahu jaket rajut St. John mereka. Ia juga identik dengan teman-teman preppy saya, yang sejak usia 15 tahun sudah tahu cara mengikat carré Hermès di leher mereka. Silk scarf merepresentasikan kesan yang lebih buttoned-up dan ladylike, seperti Queen Elizabeth dengan scarf Hermès yang terikat rapi di atas rambutnya yang tertata, saat berjalan bersama corgi atau berburu di Balmoral.

Grace Kelly
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Silk scarf selalu terasa terlalu dewasa untuk saya, bahkan sedikit kaku—seperti potongan kecil glamor yang tidak benar-benar menyatu dengan lemari pakaian saya yang terus berubah dan serba campur. Namun, koleksi musim semi membuat saya mulai mempertimbangkannya lagi: apakah memang harus mengikat silk scarf di leher dengan cara yang begitu formal? Apakah saya akan terlihat seperti nenek-nenek jika mengikatnya di kepala ala bandana? Bagaimana kalau saya justru memakainya dengan lebih bebas?

Silk scarf yang Julian Klausner lilitkan pada celana di koleksi debut spring menswear Dries Van Noten terasa begitu menarik: pareo yang bisa dipakai dari kantor hingga ke bar. Di Gucci, Demna mengambil salah satu headscarf sutra bermotif floral ikonik rumah mode tersebut dan menyematkan struktur berupa headband di dalamnya. Dalam catatan koleksinya, sang desainer merujuk pada salah satu interpretasinya atas motif floral milik Gucci sebagai “a nocturnal incarnation.”

Ada pula blus tacky-glam berkancing bermotif silk scarf ala 1980-an di Versace, serta gaun petal-skirted scarf yang romantis di Chanel. Di Lanvin, Peter Copping mengadaptasi siluet flapper menjadi tampilan head-to-toe dari silk scarf dengan sentuhan era 1920-an. Di Miu Miu, Mrs. Prada, yang kerap mengikat scarf sutra bermotif di lengan atau di dada, menampilkan ascot scarf yang diselipkan di bawah sweter dan polo, dipadukan dengan apron kulit bergaya utilitarian yang tebal. “Fashion belakangan ini memiliki kecenderungan bourgeois,” ujar Chloe King, director of fashion and lifestyle di Saks Global, “jadi wajar jika silk scarf klasik kembali menjadi elemen penting.”

Diana Ross
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Chloe, yang dikenal di dunia street style dengan gaya flamboyan dan idiosinkratiknya, masih menemukan cara untuk memadukan scarf sederhana ke dalam tampilan yang lebih skulptural. “Dulu saya mengenakan scarf sesuai fungsinya, tapi belakangan ini saya suka mengikatnya di kepala dengan nuansa ’70s,” ujar Chloe. “Saya juga selalu membawa beberapa scarf saat bepergian. Bisa saya pakai sebagai bandeau top, halter, atau bahkan rok—saat saya butuh elemen tambahan.”

Sulit membicarakan fenomena silk scarf saat ini tanpa menelusuri asal-usulnya, yaitu Hermès. Asal mula foulard dapat ditelusuri ke Tiongkok, di mana potongan sutra bersulam digunakan untuk menandai pangkat militer. Melalui Silk Road, material ini kemudian masuk ke Eropa dan dikenakan oleh tokoh seperti Queen Victoria. Namun, Hermès-lah yang mempopulerkan silk scarf bermotif seperti yang kita kenal sekarang, merilisnya pada tahun 1937 sebagai alternatif yang lebih terjangkau daripada tas kulit mereka (yang bahkan saat itu sudah mahal). Produk ini pun langsung populer. Jackie Kennedy mengenakannya saat berlibur bersama Aristotle Onassis, sementara Grace Kelly menggunakannya sebagai sling setelah mengalami cedera pada lengannya. Audrey Hepburn memakainya dengan kemeja putih saat mengendarai Vespa dalam Roman Holiday. Pada 1979, Jean-Louis Dumas, chairman Hermès saat itu, meluncurkan kampanye yang menampilkan anak muda Paris mengenakan carré dengan jeans—sebuah langkah yang menimbulkan kontroversi di dalam keluarga Hermès, namun pada akhirnya berhasil membawa silk scarf ke dalam lemari pakaian perempuan modern.

Kiri ke kanan: Rihanna, Leandra Medine Cohen, Ayo Edebiri, Kaia Gerber.
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Yang membuat scarf terasa menarik saat ini, di tengah banyaknya desainer yang kembali mengolah gaya ladylike—mulai dari drop waist, sepatu ala 1950-an, setelan rok, bros, hingga motif floral yang halus di runway—adalah bagaimana ia mencerminkan keinginan generasi muda untuk tampil lebih dewasa. Namun, berpakaian dengan kesan sophisticated tersebut kini berarti mengolah siluet klasik dan aksesori dalam interpretasi yang baru. Skirt suit terasa lebih santai jika tampil sedikit kusut (seperti di Rachel Comey), bros bisa disematkan pada jeans Vaquera daripada lapel, dan sarung tangan opera dapat hadir dengan bentuk longgar dalam warna-warna cerah ala Muppet. Foulard pun demikian, bisa dikenakan sebagai atasan, diikat di atas celana tuksedo, atau digantung pada gagang tas yang sama dengan Labubu.

“Nostalgia sangat populer saat ini,” ujar Laia Farran Graves, penulis buku The Story of the Hermès Scarf yang terbit pada 2023. “Silk scarf merepresentasikan warisan dan tradisi, menarik bagi mereka yang mencari authenticity.” Ia juga menambahkan bahwa di tengah meningkatnya minat pada barang vintage, “banyak scarf Hermès diwariskan lintas generasi, memberikan makna emosional. Aspek storytelling dan pencarian identitas juga menjadi alasan mengapa aksesori ini kembali relevan saat ini.” Hal ini juga terlihat di platform resale mewah The RealReal, di mana penjualan silk scarf Hermès naik sebesar 36 persen tahun lalu, dengan harga jual rata-rata yang turut bertambah 13 persen.

Sambil menulis artikel ini, saya sempat tertarik pada sebuah T-shirt dari label independen August Barron. Di situs resminya, produk ini diberi nama Foulard Top—sebuah T-shirt katun tebal berwarna abu-abu dengan lengan princess dan kerah V dengan dua lubang di bagian depan. Scarf polkadot hitam-putih dikenakan di leher dan dimasukkan melalui lubang tersebut. T-shirt ini dipadukan dengan pencil skirt tule serta sepatu yang merupakan perpaduan antara combat boots dan sepatu round-toe. Bentuknya terasa seperti Frankenstein dalam fashion—pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara granny cool dan elegansi perempuan era 2026. Foulard tidak lagi harus menjadi milik ibu atau nenek kita; ia bisa sepenuhnya menjadi milik kita untuk diikat dan dipelintir—aksesori kecil dengan potensi yang tak terbatas.

BACA JUGA:

5 Cara Mengenakan Scarf yang Tak Biasa Untuk Musim Panas yang Stylish

Kylie Jenner Kembali Mengenakan Head Scarf dan Mantel Panjang Cashmere

(Penulis: Brooke Bobb; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Karen Silitonga; Foto: Courtesy of BAZAAR US)