Musik adalah sesuatu yang sulit ditentukan harganya. Namun budaya kita kerap terobsesi mengukur kesuksesan bintang pop lewat jumlah tiket yang terjual, rekor yang dipecahkan, dan jumlah streaming yang diraih. Di saat meraih kesuksesan dalam industri musik terasa semakin sulit, angka-angka ini membantu menempatkan para bintang pop masa kini dalam sorotan yang lebih megah. Spotify bahkan memiliki konsep bernama Billions Club untuk menghormati artis yang lagunya telah menembus lebih dari satu miliar streaming; nama-nama seperti Bad Bunny, The Weeknd, Ariana Grande, Miley Cyrus, dan lainnya telah menerima penghargaan tersebut.
BACA JUGA: Britney Spears Nikmati Slumber Party Penuh Tawa Bersama Keluarga Kardashian
Lalu mengapa pada 2026, konsep seorang artis menjual master rekamannya terasa begitu… menyedihkan? Baru-baru ini terungkap bahwa Britney Spears menjual seluruh katalog musiknya kepada Primary Wave, salah satu penerbit musik independen terkemuka. Meski angka resmi belum dikonfirmasi, nilainya dilaporkan mendekati $200 juta, angka yang kurang lebih serupa dengan yang diterima Justin Bieber tahun lalu dan menjadi salah satu penjualan katalog terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka bukan satu-satunya penyanyi yang memilih langkah ini; Justin Timberlake, Shakira, Bruce Springsteen, dan lainnya juga telah melepas hak atas karya musik mereka dengan imbalan pembayaran besar di muka. Bahkan, pihak pengelola warisan mendiang artis seperti Prince dan Queen juga telah menyerahkan hak atas musik mereka untuk kesepakatan bisnis yang mungkin akan membuat Prince, dengan segala hormat, geleng kepala mengingat dedikasinya sepanjang karier untuk mendorong artis memiliki karya mereka sendiri.
Namun dalam kasus Britney Spears, bahkan angka $200 juta terasa terlalu kecil jika melihat dampak dan pengaruhnya, bukan hanya dalam musik pop tetapi juga budaya pop secara luas. Album terakhirnya memang dirilis satu dekade lalu, ia jarang terlihat keluar dari rumahnya di Los Angeles dan unggahan video menarinya di Instagram menjadi satu-satunya bentuk komunikasi langsung dengan penggemar akhir-akhir ini. Meski begitu, sulit membayangkan gelombang bintang pop saat ini tanpa Britney Spears yang lebih dulu membuka jalan. Tahun lalu, nama-nama seperti Sabrina Carpenter, Tate McRae, dan Addison Rae yang dikenal sebagai pengagum setianya tampak memberi penghormatan pada gaya fashion awal 2000-an yang ikonik miliknya. Nuansa vokal berbisik yang sensual dan kini mendominasi radio serta TikTok lewat penyanyi seperti Tate McRae dan Selena Gomez juga jelas terinspirasi dari karakter vokal Britney Spears yang dulu mungkin kurang diapresiasi. Selain itu, semakin sedikit artis masa kini yang memiliki katalog lagu yang benar-benar layak dijaga nilainya. Singkatnya, hampir tidak ada lagi hitmaker seperti Britney Spears, kecuali nama besar seperti Beyoncé dan Taylor Swift. Taylor Swift sendiri baru saja membeli kembali master rekamannya setelah perjuangan panjang melawan eksekutif industri Scooter Braun. Kedua perempuan ini tentu berada dalam posisi unik, di mana kepemilikan penuh atas karya justru menguntungkan mereka karena industri seakan berputar di sekitar kreativitas mereka.
Penjualan katalog Britney Spears juga menandakan sesuatu yang mungkin selama ini disangkal oleh banyak penggemarnya, termasuk Bazaar sendiri, sejak ia berhenti tampil dan akhirnya bebas dari konservatorship yang mengendalikan hidupnya selama 13 tahun. Mungkin ini benar-benar berarti ia telah selesai dengan industri, dengan konsep selebritas, dan dengan satu hal yang dulu memberinya kebahagiaan namun kemudian diambil dan dikendalikan oleh orang-orang di sekitarnya: musiknya.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa menjual katalog bukan berarti akhir dari segalanya. Justin Bieber baru saja merilis album Swag yang dinominasikan Grammy tahun lalu dan akan menjadi headliner Coachella dalam beberapa minggu mendatang. Shakira juga baru menyelesaikan tur global paling sukses dalam sejarah artis Latino. Keduanya jelas masih jauh dari kata pensiun. Jika Britney Spears suatu hari ingin kembali memegang mikrofon dan merekam atau tampil di atas panggung—dengan syarat dan ketentuannya sendiri—tidak diragukan lagi akan ada banyak orang yang menyambutnya. Dan jika tidak? Kita akan selalu memiliki musiknya, meskipun Britney Spears sendiri memilih untuk tidak lagi menjadi bagian darinya.
BACA JUGA:
Semua Cerita Mengejutkan Seputar Justin Timberlake di Buku Britney Spears
9 Hal Terbesar dari Memoar Britney Spears: The Woman in Me
(Penulis: Bianca Betancourt; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Alisa Putri Ramadhina; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Britney Spears
- Musik
- Hollywood
