Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Edward Hutabarat Gelar Fashion Show Autumn/Winter 2022 yang Kaya akan Kain Tenun Sumba

Dengan latar Candi Borobudur yang magis, pergelaran bertajuk Kabakil ini didukung oleh Kemendikbudristek.

Edward Hutabarat Gelar Fashion Show Autumn/Winter 2022 yang Kaya akan Kain Tenun Sumba

Dua puluh tahun perjalanan menjelajahi Indonesia, di antaranya ke tanah Sumba, Edward Hutabarat menampilkan peradaban wastra nusantara lewat serangkaian presentasi karya yang mengangkat eksplorasi kain tenun Sumba. Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dipilih sebagai lokasi presentasi yang juga masih berhubungan dengan eksistensi kain tenun.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa peninggalan masa lampau, salah satunya pada relief Candi Borobudur. Di Candi Borobudur, terdapat salah satu relief yang menggambarkan seorang penenun dengan alat tenun gendong. Keberadaan sosok penenun tersebut menandakan bahwa kain tenun sudah dikenal sejak zaman dahulu. Salah satu kain tenun yang jadi kekayaan budaya adalah dari Pulau Sumba, di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Selain terkenal dengan panorama yang memukau dan alam yang masih lestari, ternyata Pulau Sumba memiliki warisan leluhur yang patut kita jaga, yaitu kain tenun ikat Sumba. Tenun ikat ini merupakan kain nusantara nan eksotis yang diciptakan oleh para artisan atau seniman tenun dari Sumba Timur. Kain tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan secara asal, yang mengerjakannya pun bukanlah sembarang orang.

Oleh karenanya, Edward Hutabarat menggandeng beberapa penenun yang sudah lulus kurasi dirinya. Kemudian ia bekerja sama untuk menciptakan rangkaian koleksi. Ratusan hasil karya dan koleksi ini ditampilkan lewat fashion show yang digelar di kawasan Candi Borobudur. Pergelaran ini pun didukung oleh Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang aktif mengampanyekan “Tenun Nusantara: Menjaga Tradisi untuk Bumi Lestari”.

Bagi Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, setiap karya Edward Hutabarat ini begitu berbeda, terlebih hasil karyanya mengangkat budaya dan hasil karya nusantara. Ia juga berharap bahwa ke depan terus memunculkan dan mengampanyekan hasil karya nusantara. "Pastinya sangat penting mengangkat yang berkualitas. Ke depan kita selalu terbuka, utamanya yang penting harus jelas dulu kelestarian apa yang akan dimunculkan dan juga harus kuat," ujar Hilmar Farid.

Seperti wastra nusantara lain yang sarat akan nilai budaya yang tinggi, kain tenun Sumba memiliki keindahan dari motif yang variatif dan nilai filosofis yang harus tetap dijaga. Hal tersebut yang membuat Edward Hutabarat selalu menjaga pakem dari kain tersebut ketika mengembangkannya. Pakem ini selalu dijaga karena Kain Sumba (juga kain-kain peradaban dari kepulauan lain) adalah Kain Peradaban. Mereka diciptakan untuk melengkapi sebuah seremoni, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian.

Di balik keindahan kain tenun ini, ada serangkaian proses yang panjang dan tidak mudah. Hal ini juga turut merepresentasikan kesabaran penenun lokal dalam membuat kain tenun tersebut. Dari mulai memintal sendiri benang dari kapas hingga nantinya menjadi kain, ada satu proses yang disebut kabakil yaitu teknik akhir dalam menyelesaikan sehelai kain Sumba, yang dikerjakan dengan arah tenunan berlawanan dan dipelintir.

Proses ini memiliki fungsi untuk melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain sehingga kain tenun yang melalui proses ini memiliki kain yang sangat rapi. Kain tenun dengan kabakil inilah yang menjadi nilai spesial dari kain tenun Sumba karena tidak semua penenun bisa membuat kabakil dan diperlukan keahlian khusus untuk itu. Kabakil ini juga yang merepresentasikan judul dari fashion show Edward Hutabarat kali ini, yang seakan menyuarakan untuk melindungi eksistensi kain nusantara supaya keindahan tersebut tidak terlepas dari identitas budaya bangsa seperti kabakil yang melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain yang menghasilkan motif indah.

Selain dari fashion show, acara ini juga terdiri dari pameran Edward Hutabarat Living yang diselenggarakan pada 30 November - 1 Desember 2022 dan dibuka untuk umum. Pameran ini seolah melukiskan sentuhan pemikiran dan pengalaman Edward Hutabarat sebagai desainer sekaligus pecinta peradaban yang mencoba mendokumentasikan hasil perjalanannya dari Tanah Sumba melalui tulisan, fotografi, dan film.

Berikut koleksi Kabakil persembahan Edward Hutabarat Autumn/Winter 2022.

(Foto: Courtesy of Edward Hutabarat)