Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengapa Semua Orang Kembali Meromantisasi Era 2010-an?

Jika siklus nostalgia terasa semakin cepat, Anda tidak salah.

Mengapa Semua Orang Kembali Meromantisasi Era 2010-an?
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Tenang dan teruslah melangkah. Era 2010-an kembali menjadi tren. Meski nostalgia bukan hal baru karena telah mendominasi perbincangan seputar mode dan budaya pop selama satu dekade terakhir, kali ini ada sesuatu yang berbeda.

BACA JUGA: Apakah 2016 Tahun Terakhir yang Benar-Benar Baik?

Awal 2020-an ditandai dengan kebangkitan tren Y2K. Headphone berkabel kembali menggantikan versi Bluetooth, padu padan denim menjadi pilihan yang lebih diterima, sementara jepit rambut kupu-kupu, aksesori berhiaskan rhinestone, dan tas Baguette kembali menjadi andalan. Menjelang 2024, sisi Y2K yang cerah dan penuh warna mulai bergeser ke estetika yang lebih grunge. Tas Balenciaga City dan Chloé Paddington menjadi simbol status, sedangkan estetika clean girl digantikan oleh gaya perempuan pesta era Brat. Lalu, seolah terjadi dalam semalam, siklus nostalgia melaju semakin cepat. Internet mulai meromantisasi era yang bahkan belum genap sepuluh tahun berlalu. Yang lama digantikan oleh sesuatu yang juga lama, tetapi terasa baru.

Data memperlihatkan fenomena ini dengan jelas. Pada musim panas tahun ini, pencarian TikTok untuk “Mugler 2011 Lady Gaga” meningkat 1.000 persen hingga mencapai 3,5 juta pencarian. Ya, juta. Sementara itu, “2018 Gunna outfits” mencapai 4,4 juta pencarian, dan “OG Garage Tops”, merujuk pada masa kejayaan merek retail mall tersebut pada awal 2010-an, mencapai rekor tertinggi sebanyak 4,9 juta pencarian. Pada akhir Agustus, pencarian “nostalgia about returning to 2010” melonjak 195 persen menjadi 3,79 juta, sedangkan “2010 style shirts” naik 191 persen hingga mencapai 4,45 juta. Bahkan pencarian umum “2010 fashion trends” mencapai 4,38 juta, meningkat 192 persen hanya dalam 24 jam.

Tren ini pun tidak mereda seiring turunnya suhu udara. Dalam sepekan terakhir, pencarian “2018 trend ideas” melonjak 197 persen menjadi 3,49 juta, sementara “nostalgia for the year 2018” mencapai 1,83 juta pencarian. Di luar tahun 2018, topik seperti “2012 shoes”, “2013 outfits”, “2010s club”, dan “2015 outfits” juga mengalami peningkatan signifikan, masing-masing dengan ratusan ribu pencarian. Angka-angka ini menunjukkan kerinduan terhadap berbagai hal dari dekade tersebut, mulai dari gaya berpakaian sehari-hari hingga penampilan selebritas di acara mode kelas atas dan para musisi yang mendominasi panggung.

Nostalgia era 2010-an sebenarnya telah tumbuh secara perlahan selama lebih dari setahun. Pada musim panas 2025, Tyla mulai memberi petunjuk tentang era APOP-nya dengan mengenakan kaus bertuliskan “Keep Calm and Party”, mengingatkan pada kaus “Keep Calm and Carry On” yang populer pada awal 2010-an. Tidak lama kemudian, 7 For All Mankind menjadi salah satu peragaan busana yang paling banyak dibicarakan pada musim Spring/Summer 2026 berkat koleksi yang menampilkan celana skinny jeans, kalung berukuran besar, dan kacamata hitam dengan bingkai tebal.

Celana ripped jeans, yang dahulu dikenakan oleh banyak selebritas mulai dari Ashley Tisdale hingga Rihanna dan Bella Hadid, kini kembali populer di kalangan Irina Shayk, Alex Consani, dan Myha’la. Bahkan, Myha’la mengenakannya di karpet merah pada Januari lalu. Gaya tersebut juga muncul dalam koleksi Dior Cruise 2027 serta peragaan Coach, Area, Acne, dan sejumlah rumah mode lainnya pada musim Spring/Summer 2026. Memasuki pergantian tahun, dunia maya turut merayakan 2016 dengan menelusuri kembali tren mode dan estetika digital pada masa itu.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Tyla mengenakan t-shirt "Keep Calm and Party" miliknya.

Seiring mendekatnya 2027, semakin banyak tren dari era 2010-an yang kembali muncul. Gaya athleisure mulai meninggalkan citra lamanya berkat pendekatan yang lebih modis, seperti yang terlihat pada Tank Air, Other Normal, dan koleksi mewah terbaru dari Alo. Skinny jeans kembali dianggap modis, didorong oleh peragaan busana dan para influencer. Warna yang sempat dianggap ketinggalan zaman, seperti millennial pink, teal, dan warna-warna pastel, kini kembali mendominasi. Termasuk di antaranya busana berbahan kain kasa dari Los Angeles Apparel, yang mengingatkan pada kebangkitan kembali American Apparel, salah satu merek ikonik era 2010-an.

Cara mengunggah foto di media sosial pada dekade tersebut juga kembali populer. Berjalanlah di sekitar SoHo dan Anda akan melihat perempuan berusia 20-an mengenakan ripped jeans serta atasan V-neck berwarna teal. Namun, mereka tidak memotret pakaian dengan Canon G7X, iPhone terbaru, atau bahkan kamera digital lawas. Sebaliknya, mereka berpose bersama teman-teman di depan iPhone 5c, iPhone 4 putih dengan retakan di bagian belakang yang diwarnai menggunakan Stabilo, atau ponsel retro apa pun yang berhasil mereka temukan.

Alasannya beragam. Kamera dengan kualitas gambar yang tidak terlalu tajam dianggap menghasilkan tampilan yang lebih menarik, membuat foto terasa lebih menyenangkan, dan tidak memenuhi penyimpanan ponsel utama. Foto-foto terbaik pun dapat langsung dipindahkan ke perangkat modern melalui AirDrop tanpa memerlukan aplikasi, kartu SD, atau komputer. Saat mengunggahnya ke media sosial, mereka menggunakan filter yang mengingatkan pada era VSCO, menambahkan emoji dan teks bernuansa ironis, serta meninggalkan format photo dump berbentuk karusel demi satu foto tunggal. Arah kreatif akun Instagram grup perempuan Gen Z, Say Now, menjadi salah satu contohnya.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Amelia Onuora dari Say Now di Instagram

Dunia hiburan juga mencerminkan keinginan untuk kembali menikmati dekade sebelumnya. Serial Girls dan Glee baru saja mengumumkan kebangkitan masing-masing, menyusul kesuksesan serial tentang kehidupan anak muda seperti I Love L.A., Adults, dan Sterling Point. Era 2010-an menghadirkan adaptasi buku ke layar lebar seperti The Hunger Games dan Twilight. Semangat serupa terlihat pada sejumlah film populer tahun ini, mulai dari Verity hingga The Odyssey, yang berangkat dari karya sastra.

Grup perempuan juga kembali meramaikan industri musik. Nama-nama seperti Say Now dan Prelude kini menjadi perbincangan bersama grup yang lebih besar, seperti Katseye dan Flo, memenuhi kerinduan terhadap fenomena yang dahulu melahirkan Fifth Harmony dan Little Mix. Sementara itu, Tinashe, Adéla, Zara Larsson, PinkPantheress, dan sejumlah musisi lainnya memanfaatkan produksi musik elektronik untuk menciptakan lagu-lagu populer tahun ini. Pendekatan tersebut mengingatkan pada lagu-lagu dengan pengaruh electronic dance music (EDM) dari Sia, Halsey, dan Rihanna pada 2010-an.

Berbeda dengan nostalgia terhadap era Y2K dan 1990-an yang biasanya berpusat pada estetika, kerinduan terhadap 2010-an juga mencakup pengalaman hidup, terutama bagi Gen Z. Untuk pertama kalinya, generasi saya merasakan nostalgia terhadap masa yang benar-benar dapat diingat. Ketika menengok akhir 1990-an atau era 2000-an, kita mungkin dapat mengapresiasi modenya, tetapi budaya pada masa itu terasa asing. Kita tidak memiliki gambaran langsung tentang kehidupan sebelum kamera digital menghasilkan foto dengan rona hangat. Sulit membayangkan bagaimana orang bertemu teman tanpa mengirim pesan terlebih dahulu, atau menemukan musik baru, serial televisi, dan rekomendasi restoran tanpa bantuan algoritma. Cara hidup seperti itu terasa sulit dibayangkan.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Girls (HBO)

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan kebiasaan menggulir halaman For You tanpa henti, era sekitar sepuluh tahun lalu menjadi masa yang lebih mudah dirindukan. Kita masih dapat mengingat masa ketika internet terasa hangat dan membangun kebersamaan, bukan dingin dan dibuat-buat. Media sosial hadir untuk menghubungkan kita dengan teman, bukan menjebak kita selama berjam-jam dalam pusaran algoritma. Dalam banyak hal, generasi TikTok merasa terbebani oleh teknologi yang membentuk masa remaja mereka. Gen Z tidak dapat membayangkan dunia tanpa internet, tetapi masih bisa membayangkan internet yang tidak mengambil alih seluruh kehidupan.

BACA JUGA:

Seperti Apa Rasanya Generasi Milenial yang Akan Menginjak Usia 40 Tahun?

Nostalgia Gaya Era Confessions, Madonna Tampil Memukau dengan Busana Pesta Penuh Warna di Paris

(Penulis: Zizi Strater; Artikel ini disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)