Setelah tiga tahun menjabat sebagai creative director, Seán McGirr meninggalkan McQueen. Koleksi Spring/Summer 2027 yang membawa rumah mode Inggris tercinta itu kembali pulang ke London menjadi karya terakhirnya.
BACA JUGA: Kim Kardashian Berenang penuh Romansa Mengenakan Busana McQueen Arsip Bertema Kapal Karam
Lahir di Dublin pada 1988, Seán menempuh pendidikan di Central Saint Martins sebelum berkarier di sejumlah rumah mode seperti Dries Van Noten, Uniqlo, dan Burberry, hingga akhirnya menjabat sebagai head of ready-to-wear di JW Anderson. Di McQueen, ia ditugaskan untuk mengembangkan warisan sebuah merek dengan DNA yang sangat kuat. Didirikan pada 1993 oleh Lee McQueen, sosok visioner muda yang subversif, rumah mode ini dibangun di atas peragaan busana yang teatrikal dan mendobrak batas, serta desain yang digerakkan oleh emosi. Fashion menjadi medium untuk berkomentar tentang beragam hal, mulai dari penindasan historis Mahkota Inggris terhadap Skotlandia (Fall 1995) hingga pemborosan industri mode (Fall 2009).
Setelah Lee meninggal dunia pada 2010, tangan kanannya, Sarah Burton, memegang alih kepemimpinan selama 13 tahun. Pada masa itu, ia menghadirkan kesan ringan yang baru ke dalam akar rumah mode ini yang lebih gelap. Ketika Sarah beralih ke Givenchy, Seán ditunjuk sebagai penggantinya, dan dengan itu dimulailah sebuah era yang singkat namun menentukan dalam perjalanan McQueen.
Berdedikasi untuk menghormati romantisme dan subversi dalam karya Lee, sekaligus menghadirkan fokus baru pada budaya London kontemporer, Seán memadukan kode tradisional rumah mode ini dengan eksplorasi dunia klub, seni lokal, dan tren jalanan. “Visi saya untuk Alexander McQueen berpijak pada interaksi antara keindahan manusiawi yang mentah dan menggugah dengan presisi serta kedisiplinan yang menjadi inti rumah mode ini,” ujar Seán dalam pengumuman kepergiannya. “Saya sangat bangga atas energi progresif yang kami tumbuhkan bersama sebagai tim, dengan menambatkan kreativitas kami pada budaya kontemporer dan melihatnya beresonansi dengan sosok-sosok paling terus terang dan ekspresif di dunia seni, musik, sinema, dan bidang lainnya. Saya pergi dengan rasa terima kasih yang mendalam atas dedikasi studio, atelier, dan para pengrajin. Saya menantikan babak baru saya dan mendoakan yang terbaik bagi rumah mode ini.”
Peragaan debutnya, yang digelar di sebuah gudang di pinggiran Paris, secara harfiah membawa industri mode ke klub. Lewat kerah shearling, rajutan chunky, dan sentuhan warna neon, ia membidik demografi yang lebih muda. Koleksi yang memecah opini itu membuat sebagian puritan McQueen menjauh, namun berhasil menggaet generasi penggemar yang benar-benar baru, seperti Chappell Roan.
Sepanjang masa jabatannya, Seán terus bergulat dengan ulasan yang beragam. Karya terakhirnya, yang diperlihatkan di Lincoln’s Inn Chapel yang muram dan bergaya gotik di London saat London Fashion Week, menandai kepulangan yang menggembirakan bagi rumah mode ini sekaligus kembalinya ke akar McQueen yang twisted. Koleksi tersebut bercerita tentang “malaikat dalam kegelapan”, lengkap dengan tailoring bergaya “sayap malaikat”, baju zirah logam, bahkan tanduk. Namun pada akhirnya, koleksi ini terasa hambar di mata para kritikus, yang menilai bahwa koleksi tersebut kesulitan menangkap jiwa dan gairah di balik presentasi teatrikal mendiang sang pendiri.
Seán belum mengumumkan langkah selanjutnya, dan McQueen pun belum mengumumkan penggantinya.
BACA JUGA:
Jenna Ortega dan Setelan McQueen-nya Memberikan Pelajaran Tentang Tailoring yang Nonchalant
Lady Gaga Kembali ke Era “Bad Romance” Lewat Dua Busana Arsip Alexander McQueen
(Penulis: Sophie Wang; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Bunga A Hara; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
