Ketika membahas mengenai keluarga kerajaan Inggris belakangan ini, ada baiknya selalu siap menghadapi hal-hal tak terduga. Sedikit yang memahaminya sebaik Prince William dan Princess Catherine. Namun pada pertengahan Agustus, muncul kabar yang kemungkinan besar tidak mereka duga yakni, setelah enam tahun tinggal di Montecito, California, Prince Harry dan Duchess Meghan akan pindah kembali ke Inggris untuk jangka waktu yang belum diketahui.
Kabar itu datang di tengah masa perubahan yang memang sedang dijalani pasangan ini, terutama dengan putra sulung mereka, Prince George yang berangkat ke Eton College pada September lalu. Sekolah asrama itu juga merupakan almamater William. William dan Harry diperkirakan sudah empat tahun tidak berbicara, sejak pemakaman nenek mereka, Queen Elizabeth II pada 2022. Selama enam tahun terakhir, pasangan Sussex pun berada jauh di Amerika Serikat, dengan samudra yang memisahkan mereka dari kehidupan yang dibangun William dan Kate bersama tiga anak mereka. Kini, keretakan lama di antara kedua bersaudara itu berpeluang berlanjut dari jarak yang jauh lebih dekat.
Dickie Arbiter, juru bicara pers Queen Elizabeth dari 1988 hingga 2000 tidak yakin rekonsiliasi akan terjadi di antara keduanya. Dickie, penulis On Duty with the Royals meyakini, seperti banyak orang lain, bahwa “sudah terlalu banyak yang terjadi”. Namun penulis biografi keluarga kerajaan, Catherine Mayer punya pandangan berbeda. Meski tidak mengharapkan “reuni emosional yang megah”, ia menambahkan bahwa sudah sepatutnya William, sang calon raja membantu meredakan ketegangan. Sebab menurutnya, “peran utama seorang raja adalah mempersatukan”.
“Tidak ada gunanya terus menjaga [Harry dan Meghan] tetap berjarak seperti yang selama ini terjadi,” kata Catherine, penulis Divide and Rule. “Saya tahu model ‘setengah masuk, setengah keluar’ sudah ditolak, tetapi ada banyak hal yang bisa didapat dengan mengurangi ketegangan di sana.”
Tak lama setelah kepulangan Harry dan Meghan, terbit memoar Swan Song karya Charles Spencer, adik laki-laki Princess Diana. Buku itu memuat klaim bahwa King Charles III (yang saat itu masih Prince Charles) terdengar “girang bukan main” setelah Diana meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris pada 1997. Tuduhan itu begitu memicu kehebohan sehingga Buckingham Palace merilis pernyataan yang jarang dikeluarkan. Isinya, “Baginda Raja menyadari bahwa duka yang dirasakan saudara kandung bisa mengaburkan nalar, memengaruhi penilaian, dan mewarnai ingatan dengan cara yang tidak disadari orang lain, bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan itu.”
Berbeda dengan Charles, William dan Kate tidak merilis pernyataan apa pun tentang buku tersebur, maupun soal kepindahan Harry dan Meghan ke Inggris, dan kemungkinan hal itu tidak akan berubah. “Mereka diam-diam menjalankan tugas, melaksanakan acara-acara mereka dengan tekad yang tenang dan tanpa keributan,” kata sejarawan kerajaan Hugo Vickers, penulis Queen Elizabeth II: A Personal History.
Meski tidak menunjukkannya secara terbuka, William dan Kate tak diragukan lagi merasakan tekanan dari naik-turunnya situasi kerajaan. Kate memang sudah dalam masa remisi, tetapi Charles masih berjuang melawan kanker. Apa yang disebut “monarki yang dirampingkan”, yang dulu diusung Charles kini nyaris terlalu ramping hingga berbahaya. Sementara itu, Andrew Mountbatten-Windsor “mungkin adalah sumber krisis terbesar yang dihadapi monarki, dan ia terus muncul mengganggu kehidupan publik”, kata Catherine. Mantan Prince Andrew, yang ditangkap pada Februari juga masih diselidiki atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik selama bertahun-tahun menjabat sebagai utusan dagang Inggris. Sebelum penangkapan Andrew, yang terjadi tepat pada ulang tahunnya yang ke-66, anggota keluarga kerajaan Inggris terakhir yang ditangkap adalah King Charles I hampir 400 tahun lalu.
Catherine menambahkan bahwa ia “tidak pernah mengira akan melihat monarki di bawah tekanan sebesar ini dan dalam tingkat krisis seperti ini. Dan William serta Kate tidak hanya memikulnya, tetapi mereka memang harus memikulnya. Ini tugas yang benar-benar sulit.”
Penulis biografi kerajaan Sally Bedell Smith mengatakan bahwa pasangan ini “dengan sangat bijak menempatkan diri di luar drama”. Penulis Substack Royals Extra itu menyebut William dan Kate “sangat disiplin, dan menurut saya sangat fokus”, serta mencatat bahwa pasangan Wales “tahu cara menyaring semua kebisingan”.
Memang, seperti yang dikatakan Dickie, mereka “punya tugas yang harus dikerjakan, dan mereka mengerjakannya”. Namun itu tidak datang tanpa harga. “Hal itu membebani orang,” kata Catherine, yang menyebut tugas kerajaan sebagai “tekanan yang sangat besar” dan “salah satu pekerjaan paling sepi di dunia”. Dickie menambahkan bahwa yang dituntut dari pasangan ini hampir mustahil dilakukan. “Tak satu pun dari kita bisa hidup seperti itu,” katanya, “tetapi mereka bisa.”
Lalu, bagaimana mereka menghadapi tekanan itu? Cara William dan Kate selama ini adalah “menjaga teman tetap dekat, keluarga lebih dekat lagi, dan bicara sesedikit mungkin”, kata Catherine. Mereka “punya banyak hal yang harus dihadapi”, lanjutnya, dan tuntutan untuk tampil sempurna, terutama pada Kate, adalah “beban yang cukup berat”.
Sebagian orang berpendapat bahwa pendekatan William dan Kate yang bermartabatlah yang belakangan menjaga monarki tetap stabil di tengah banyaknya ketidakpastian. Para pengkritik Prince dan Princess of Wales kerap menuduh mereka malas bekerja, tetapi Dickie cepat mengingatkan para pencela bahwa “tidak terlihat di depan publik bukan berarti mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka bekerja di balik layar.” Pekerjaan kerajaan, ya, tetapi juga membesarkan ketiga anak mereka, George, Princess Charlotte, dan Prince Louis, yang merupakan masa depan monarki.
Catherine mengatakan, ketidakhadiran George di rumah “pasti akan memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka lebih dari anggota kerajaan mana pun sebelumnya”. Pasangan itu, tambahnya, “berusaha memberi anak-anak mereka pengasuhan senormal mungkin di lingkungan yang begitu tidak normal seperti tumbuh sebagai anggota kerajaan”.
Saat menyeimbangkan berbagai perubahan sekaligus menjaga monarki tetap kokoh, keduanya saling mengandalkan sebagai jangkar. William dan Kate “adalah satu kesatuan”, kata Dickie. “Saya melihat mereka bersama belum lama ini, dan mereka seperti satu orang.”
Keduanya, yang sama-sama berusia 44 tahun, sudah saling mengenal selama 25 tahun, lebih dari separuh hidup mereka. Mereka “saling memahami”, lanjut Dickie. “Mereka tahu kelemahan kecil satu sama lain. Mereka tahu cara membuat satu sama lain tertawa.” William, tambahnya, tidak akan bisa menjalankan perannya sebagai raja kelak “tanpa bantuan dan dukungan istrinya”. “Mereka saling mengenal begitu baik.”
Vickers sependapat. “Catherine telah menjadi pendukung yang teguh,” katanya. “Ia tidak pernah bersaing dengan William, seperti yang pernah dilakukan istri anggota kerajaan lain di masa lalu. Ia berasal dari keluarga yang baik dan kokoh. Ia bintang keluarga kerajaan.”
Pada November, William akan berangkat ke Mumbai, India untuk Earthshot Prize Awards. Kate belum mendampingi suaminya di acara penghargaan itu sejak 2022, dan beredar kabar bahwa sang putri bisa ikut hadir, meski belum ada konfirmasi dari pihak istana. Kehadirannya di sana “akan menjadi bonus”, kata Bedell Smith. Catherine mencatat keduanya sadar akan “kekuatan mereka sebagai pasangan” dan kemampuan Kate untuk “memanusiakan” William. Soal kabar kehadiran calon ratu itu, ia menambahkan, “Saya sama sekali tidak akan terkejut.”
Di tengah masa perubahan ini, setidaknya ada satu hal yang konstan, yaitu satu sama lain. “Rasa aman” William “ada pada Kate, dan segala hal lain adalah bencana”, kata Catherine. “Ya ampun, mereka memikul tekanan yang begitu besar. Jadi satu-satunya tempat aman adalah satu sama lain.”
Ikatan mereka kemungkinan hanya akan semakin dalam seiring mereka mendekati takhta. Lewat gejolak yang belakangan melanda keluarga kerajaan, William dan Kate “menunjukkan kepada dunia seperti apa mereka kelak sebagai raja dan ratu”, kata Bedell Smith. “Kita bisa melihatnya semakin jelas.”
“Menurut saya, cara mereka menjalankan peran semakin mendalam,” tambahnya soal beberapa bulan terakhir. “Kita hanya melihat kedewasaan yang lebih besar dari mereka.”
BACA JUGA:
Putri Kate Beri Penampilan Kejutan di Agenda Terbaru Pangeran William
Putri Catherine dan Pangeran William Mengantar Pangeran George di Hari Pertamanya di Eton College
(Penulis: Rachel Burchfield; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Bunga A Hara; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
