Di balik sebuah busana, selalu ada gagasan yang dapat diterjemahkan ke dalam bentuk. Pengalaman, ingatan, hingga logika dari disiplin lain bisa menjadi titik berangkat. Semua itu kemudian diwujudkan melalui potongan kain, pilihan material, serta detail jahitan. Prosesnya sendiri tidak selalu berjalan lurus. Ada hal yang hilang dan ada yang ditemukan kembali. Dari perjumpaan keduanya, sesuatu yang baru pun mulai terbentuk.
BACA JUGA: Menembus Lorong Waktu Bersama Yosafat Dwi Kurniawan
New Mode, salah satu segmen dalam rangkaian Senayan City Fashion Nation 20th Edition, menjadi puncak penutup perayaan dua dekade Fashion Nation pada 25 September 2026. Meski bukan pertunjukan terakhir dalam keseluruhan rangkaian acara, New Mode menempatkan proses penerjemahan sebagai inti presentasinya melalui empat kolaborasi yang masing-masing menerjemahkan hal berbeda, mulai dari sinema, fotografi, teknologi, hingga desain itu sendiri.
Berikut adalah empat presentasi yang membentuk New Mode:
Dua Karakter, Satu Arah Baru
Dana Maulana dari Danjyo Hiyoji dan Dery Rizkianto dari The Rizkianto membuka sekuens pertama melalui ddrue dan koleksi La Collezione 2027. Jenama baru ini awalnya hanya direncanakan sebagai satu koleksi kolaborasi untuk edisi Fashion Nation yang ke-20, sebelum keduanya sepakat menjadikannya sebuah jenama tersendiri. Nama ddrue merupakan gabungan inisial kedua desainer, dipadukan dengan kata rue, yang dalam bahasa Prancis berarti “jalan” dan melambangkan awal perjalanan mode baru mereka.
Presentasinya terasa cepat, dinamis, dan lugas, khas identitas Danjyo Hiyoji, tetapi tetap membawa sentuhan rumit khas Dery yang terlihat jelas pada detail koleksi. Hasil akhirnya adalah streetwear deluxe dengan daya pakai tinggi, menghadirkan siluet yang tidak sepenuhnya berpihak pada satu karakter. Koleksi ini mempertemukan kesederhanaan bentuk dengan kerumitan detail, menciptakan ketegangan visual yang justru menjadi daya tarik utama koleksi.
Membaca Warisan lewat Lensa Fotografi
Studio Vian Heritage, melalui Vivian Mazuki, berkolaborasi dengan fotografer Ray Gracious dalam In Translation, mempertemukan fashion dengan fotografi melalui sebuah eksplorasi visual. Siluet feminin bernuansa oriental ala cheongsam tampil dalam palet warna netral dan klasik, dengan merah sebagai aksen. Dari dekat, koleksi ini memperlihatkan detail subtil yang dikerjakan secara rumit, mulai dari kerah tegak, garis asimetris, hingga sulaman tangan yang dikerjakan dengan presisi.
Warisan budaya Tionghoa di sini tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus direplikasi secara harfiah, melainkan dibongkar elemen-elemennya dan disusun kembali melalui bahasa desain yang lebih kontemporer. Pendekatan ini membuka ruang untuk membaca identitas budaya sebagai sesuatu yang cair, bukan tetap. Pemilihan fotografi sebagai medium pendamping pun terasa relevan, mengingat identitas yang terus bergerak semacam ini memiliki ruang lebih luas untuk diceritakan melalui gambar daripada dipaksa menetap dalam satu siluet final.
Membawa Arisan! 2 ke dalam Busana
Yosafat Dwi Kurniawan menghadirkan koleksi pria bertajuk Elsewhere, yang merupakan eksplorasi fashion yang menangkap esensi film Arisan! 2 (2011) karya Nia Dinata. Nuansa resort wear yang santai tetapi tetap bergaya diterjemahkan ke dalam koleksi yang turut dihiasi eksperimen teknik, mulai dari slashing hingga pencelupan gradasi pada material lyocell.
Yosafat juga berkolaborasi dengan seorang seniman, Jerome Jonathan, yang melukis langsung menggunakan cat air pada selendang yang dikenakan di pinggang model, serta pada jaket yang terinspirasi dari debur ombak yang memecah di pantai Lombok. Detail tersebut memberikan sentuhan personal yang menjauhkan koleksi dari kesan resor konvensional. Di baliknya, Elsewhere lahir dari kegelisahan Yosafat terhadap kompleksitas hidup pada usianya sekarang, bukan semata-mata dari citra liburan.
Ketika Excess Menjadi Estetika
Sebagai penutup, Dibba berkolaborasi dengan Purwarupa untuk mempertemukan fashion dengan teknologi melalui XS, koleksi yang namanya merupakan permainan kata dari excess. Konsep tersebut diterjemahkan melalui pendekatan yang berani dan tegas, sekaligus merujuk kuat pada estetika glamor era 1980-an. Sejak model pertama muncul di landasan, para penonton langsung terkesima. Rasanya seperti membuka arsip fashion spread dari era 1980-an, ketika kemewahan dan keberanian dalam berpakaian menjadi bagian dari karakter visual dekade tersebut. Faisal Shah, desainer di balik Dibba, membaca kembali estetika tersebut melalui pendekatan material dan konstruksi yang khas dunia teknologi.
Bagi generasi muda, XS barangkali mengingatkan pada gaya para ibu mereka saat berpesta, ketika tampil berlebihan justru menjadi bagian dari daya tarik. Semangat excess hadir melalui siluet, material, serta detail yang tidak berusaha mengecilkan volumenya. Dibba turut berkolaborasi dengan sejumlah perajin lokal dalam menciptakan detail busana serta aksesori pelengkap koleksi, menyisipkan logika konstruksi teknologi ke dalam bentuk yang secara visual terasa akrab. Hasilnya adalah siluet yang terasa familiar sekaligus asing pada saat yang bersamaan.
Selain empat kolaborasi utama, rangkaian New Mode turut dimeriahkan oleh penampilan Tuan TigaBelas yang membawakan dua lagu, serta kolaborasinya dengan Ary Kirana melalui interpretasi ulang lagu “Cinta Terlarang” dari film Arisan!. Keduanya tampil mengenakan kacamata hitam dari koleksi Optik Seis, menambah lapisan kolaborasi lain dalam rangkaian pertunjukan.
“Melalui kolaborasi, kita tidak hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam melihat dan menerjemahkan fashion,” ujar Halina, Leasing & Marketing Communications Director Senayan City.
Sebagai penutup rangkaian Senayan City Fashion Nation 20th Edition yang telah menjadi bagian dari perjalanan fashion Indonesia selama dua dekade, New Mode menegaskan bahwa Fashion Nation tahun ini tidak sekadar merayakan apa yang telah dicapai, tetapi juga membuka ruang bagi cara-cara baru dalam membaca fashion. Dari La Collezione 2027 milik ddrue hingga Dibba yang menghidupkan kembali semangat excess di era 1980-an, setiap presentasi menawarkan penerjemahan yang berbeda dan terasa hidup.
BACA JUGA:
Karya Kreatif Indonesia 2026: Memperkuat UMKM Lewat Pesona Aceh dan Sentuhan Kontemporer
(Foto: Courtesy of Studio One, Yosafat Dwi Kurniawan, dan Senayan City)
