Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apakah Archival Fashion Benar-Benar Investasi yang Menguntungkan?

Siapa butuh pasar saham kalau gaun Alexander McQueen vintage bisa memberi imbal hasil finansial?

Apakah Archival Fashion Benar-Benar Investasi yang Menguntungkan?
Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pada Desember lalu, gaun pengantin Bob Mackie yang terinspirasi dari Betty Boop dilelang ke publik. Sebagai salah satu sorotan dari koleksi legendaris 20th Century Legends tahun 1992, gaun ini menampilkan siluet mini yang mengikuti tubuh, taburan manik-manik vermicelli, payet berbentuk hati dan polkadot, garis leher sweetheart yang menjuntai, serta ujung bawah berombak. Sepotong sejarah ini terjual seharga USD 16.000 kepada MJ Gray, seorang kreator konten berusia 30 tahun yang tinggal di Los Angeles yang bahkan berencana mengenakannya untuk pemotretan pre-wedding. Sekalian, ia juga membeli satu set busana berpayet dari 1991 dan gaun malam bergaris mariner dari 1986. Tunangannya kerap membeli karya seni dan memorabilia olahraga di lelang, lalu mengapa ia tidak melakukan hal yang sama untuk minatnya sendiri?

BACA JUGA: Rawan Spoiler, Tapi Ini Deretan Busana Chanel yang Dipakai Go Youn-Jung di "Can This Love Be Translated?"

Foto: Courtesy of BAZAAR US

MJ bukan pelanggan tetap rumah lelang, tetapi kehadirannya di sana merupakan kelanjutan yang alami. Ia mulai mengoleksi busana vintage sejak remaja melalui Goodwill dan pasar loak. Lalu berkembang ke platform seperti The RealReal dan Depop, hingga kini juga mengakses What Goes Around, Sotheby’s, dan sumber spesialis. Bagi MJ, pasar primer adalah untuk kebutuhan harian, sementara pasar barang bekas adalah untuk busana spesial, yang kini mendominasi isi lemari pakaiannya. Sekitar 20 persen koleksinya kini tergolong arsip, atau “busana yang tidak bisa dibeli begitu saja, bahkan jika Anda punya anggaran tak terbatas.” Persentase ini meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. “Lemari saya kini lebih seperti sebuah koleksi daripada sekadar alat pakai,” katanya.

Archival fashion kini tak lagi hanya milik arsip museum. Ia tengah “direklasifikasi,” menurut Morgane Halimi, Global Head of Fashion and Handbags Sotheby’s, “dari barang mewah bekas menjadi aset budaya.” Tas, perhiasan, dan jam tangan telah lama terbukti mempertahankan, bahkan meningkatkan nilainya di pasar sekunder. Namun kini, permintaan terhadap busana arsip meningkat di berbagai platform, dari reseller independen hingga rumah lelang berusia ratusan tahun seperti Sotheby’s.

“Beberapa tahun lalu, archival fashion identik dengan pelestarian sejarah: busana langka runway, koleksi museum, atau karya kolektor yang hanya dipelajari dan dikagumi,” ujar Morgane. “Kini arsip telah terbuka dan memberi pengaruh besar terhadap mode kontemporer.” Konsumen pun kini menjadi bagian aktif dari pasar ini.

Pada 2017, Millie Adams mulai menjual ulang busana vintage di Depop dengan nama Studded Petals saat masih menjadi mahasiswa di Inggris. Dari merek kelas menengah, ia mengumpulkan modal untuk beralih ke koleksi yang semakin langka. Pada 2020 ia meluncurkan situs web, menjual item seperti set sutra Emilio Pucci Spring 2007 dan sepatu bot Gucci by Tom Ford bermotif GG. Nilai pesanan rata-ratanya hampir tiga kali lipat antara 2020–2025, dengan total penjualan mencapai £250.000 pada tahun lalu.

Millie sepenuhnya belajar secara otodidak. Sepanjang perjalanannya, ia menyaksikan bagaimana informasi seputar archival fashion semakin mudah diakses dan semakin banyak diperbincangkan. Ia cukup muda untuk menikmati akses ke buku, media sosial generasi awal, serta arsip peragaan busana yang telah didigitalisasi. Namun, kurang dari satu dekade sejak ia meluncurkan Studded Petals, platform seperti TikTok kini dipenuhi oleh para “influencer arsip” yang saling bertukar pengetahuan dan opini tentang koleksi-koleksi penting dari abad ke-20 dan awal abad ke-21. “Sekarang ada begitu banyak informasi tentang busana desainer vintage di internet, sehingga siapa pun yang tertarik bisa belajar sendiri dengan mudah,” ujarnya, seraya mencatat adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan para konsumennya.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

       Foto: Courtesy of BAZAAR US   

Studded Petals juga sangat diuntungkan oleh meningkatnya minat selebritas terhadap archival fashion, dengan klien seperti Zendaya dan stylist Law Roach, Dua Lipa, Addison Rae, serta Bella Hadid. Tarikan busana arsip untuk karpet merah dan penampilan selebritas telah membantu membawa percakapan ini ke arus utama.

Tahun ini saja, Hailey Bieber mengenakan gaun sutra biru es dari koleksi Gucci Spring 1998 karya Tom Ford saat makan malam, Chappell Roan memilih gaun tulle penuh warna dari koleksi couture Jean Paul Gaultier Spring 2003 untuk ajang Grammy, dan Emma Stone tampil dengan set hijau serasi dari runway Donna Karan Spring 1996, nilai tambahnya, Gwyneth Paltrow pernah mengenakan tampilan yang sama dalam film Great Expectations (1998). Masih ada banyak contoh lainnya.

Dalam setiap kasus tersebut, percakapan lanjutan mengenai asal-usul dan sejarah busana itu pun ramai dibahas di media sosial.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Diskusi serupa juga bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, seiring pergantian direktur kreatif di berbagai rumah mode legendaris. Koleksi debut karya Matthieu Blazy di Chanel dan Pierpaolo Piccioli di Balenciaga memicu perdebatan tentang bagaimana mereka merujuk pada sejarah rumah mode tersebut serta karya para desainer pendahulu.

“Begitu institusi dan merek mulai menampilkan ulang koleksi arsip, menarik referensi langsung dari musim-musim terdahulu, serta memamerkan mode sejajar dengan seni rupa, pasar pun mengikuti,” ujar Morgane. “Lelang adalah cerminan dari validasi budaya ini.”

Pada musim panas ini, lelang Fashion Icons di Sotheby’s mencatat rekor penjualan tas Birkin original milik Jane Birkin. Termasuk biaya, harganya mencapai USD 10,1 juta. Posisi tertinggi berikutnya ditempati oleh set Christian Dior untuk Virevolte dengan bodis wol abu-abu, rok, dan jaket pendek dari koleksi couture Fall 1955 yang terjual seharga €6.350, siluet serupa kembali diinterpretasikan dalam koleksi busana perempuan Dior terbaru.

Di masa lalu, daftar arsip Sotheby’s juga mencakup gaun bercermin karya Paco Rabanne dari Spring 1967 serta gaun Yves Saint Laurent Fall 1976 yang masing-masing terjual seharga €35.000 pada 2018 dan €52.500 pada 2017. Pada 2025, tas Chanel milik Karl Lagerfeld sendiri terjual seharga €94.500 setelah perang penawaran sengit.

Secara internal, mereka mampu memprediksi item apa yang akan meraih harga tinggi, dan faktornya jauh lebih dari sekadar kelangkaan.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

“Dampak budaya, konteks, dan waktu jauh lebih penting,” ujar Morgane. “Beberapa busana dengan cepat menjadi ‘arsip’ karena berhasil menangkap sebuah momen baik secara politis, estetis, maupun teknologi meskipun belum berusia puluhan tahun. Secara keseluruhan, archival fashion telah berkembang menjadi sebuah dialog antara masa lalu dan masa kini.”

Di Sotheby’s, “minat sangat jelas terkonsentrasi pada momen kepengarangan dan momen terobosan, periode ketika seorang desainer mendefinisikan ulang sebuah rumah mode atau memadatkan sebuah pergeseran budaya,” lanjutnya. Permintaan institusional yang kuat selalu terlihat pada koleksi “blue-chip archival” seperti revolusi Mondrian karya Yves Saint Laurent pada 1965. Penawaran menjadi jauh lebih agresif pada koleksi di mana desainer kultus berubah menjadi kanon, seperti karya apa pun yang disentuh Lee McQueen antara 1995 hingga 2003, baik saat ia di Givenchy maupun pada era awal Alexander McQueen Savage Beauty.

Beberapa karya awal Prada juga menunjukkan performa luar biasa, seperti motif subversif dari koleksi “ugly chic” ikonis karya Miuccia Prada. Sebaliknya, barang mewah vintage yang tidak memiliki konteks era yang jelas, atau hanya mengandalkan keterkaitan selebritas tanpa signifikansi desain, cenderung kurang diminati. Dalam kasus ini, “daya pakai menjadi kurang penting dibandingkan kekuatan narasi,” kata Morgane.

Lalu ada pula “unicorn pieces”, karya langka yang menggabungkan nilai kanonis dengan keterkaitan selebritas, seperti tas Birkin original yang pantas meraih harga tertinggi.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Seiring meningkatnya minat terhadap lelang-lelang ini, penjualannya pun ikut melonjak. Martin Nolan, salah satu pendiri sekaligus direktur eksekutif Julien’s Auctions, rumah lelang yang mengkhususkan diri pada memorabilia menyebut koleksi milik Putri Diana dari lelang tahun 1997 sebagai contoh nyata.

“Gaun yang dulu terjual seharga 30.000 hingga 40.000 dolar, kini kami jual kembali seharga 600.000, 700.000, bahkan satu juta dolar,” ujarnya. “Kita harus mulai memandang ini dengan serius dan mengatakan, ya, ini adalah sebuah kelas aset.”

Martin meninggalkan Wall Street pada 2005  untuk terjun ke dunia koleksi. “Ini adalah aset berwujud, seperti saat saya menjual saham dan obligasi di Wall Street, tetapi dengan sebuah cerita,” katanya. “Seperti komoditas apa pun yang diperdagangkan di bursa mana pun di dunia, semuanya bergantung pada penawaran dan permintaan. Semakin langka, semakin istimewa, dan semakin kuat ceritanya, semakin besar pula nilai yang bersedia dibayar orang.”

Namun, sebagian besar item mereka masih terjual di bawah USD 5.000, memenuhi minat konsumen yang jauh lebih muda. Julien’s Auctions kini memberi perhatian lebih besar dari sebelumnya pada pembeli di bawah usia 40 tahun. Sotheby’s pun melakukan hal serupa.

Pembeli archival fashion mereka umumnya lebih muda, mayoritas perempuan, dan merupakan klien baru, seperti MJ. Tunangannya bekerja di bidang keuangan, sehingga ketertarikannya berinvestasi dalam busana arsip menjadi titik temu minat mereka. Sang tunangan dapat melihat potensi imbal hasil yang jelas dari koleksi yang diburunya.

“Saya memandangnya sebagai bagian dari portofolio keuangan saya. Itulah sebabnya, meskipun saya ingin mengenakannya dan memberinya kehidupan, saya tetap melihatnya sebagai aset finansial yang diharapkan dapat mempertahankan nilainya,” kata MJ. “Dan saya yakin hal ini akan memainkan peran penting dalam portofolio keuangan perempuan.”

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pasar penjualan kembali mode mewah diperkirakan akan tumbuh dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan pasar primer hingga 2027, menurut laporan BoF, McKinsey State of Fashion 2026. Semakin banyak konsumen merasa terasing oleh siklus “kebaruan” yang konstan, yang sering kali berjalan seiring dengan penurunan kualitas, semakin besar pula kecenderungan mereka untuk beralih ke alternatif secondhand. Namun, archival fashion berada di kategori yang berbeda.

Archival fashion memenuhi hasrat kreatif sekaligus kebutuhan investasi. “Siklus percepatan dalam dunia mewah telah mengikis nilai yang dirasakan. Ketika segalanya terus diperbarui, tidak ada lagi yang terasa benar-benar ikonis atau definitif. Busana arsip menawarkan dampak budaya yang telah teruji,” ujar Morgane.

Gaun Comme des Garçons Spring 1997 Lumps and Bumps adalah sebuah aset yang sarat emosi. “Para kolektor tidak hanya membeli pakaian; mereka membeli makna yang telah mengendap, dan ini sangat penting bagi Gen Z.”

BACA JUGA:

Bella Hadid Jadi Sosok Terbaru yang Adopsi Tren Headwear Bergaya Mid-Century

Kilas Balik Penampakan Industri Fashion di Tahun 2016

(Penulis: Camille Freestone; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Syiffa Pettasere; Foto: Courtesy of BAZAAR US)