Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengenal Tie-Dye, Teknik Pewarnaan yang Sarat Makna Budaya Dan Upaya Ramah Lingkungan

Langkah yang juga membuat kita semua lebih ramah kepada Bumi.

Mengenal Tie-Dye, Teknik Pewarnaan yang Sarat Makna Budaya Dan Upaya Ramah Lingkungan
(Foto: Courtesy of UNSPLASH/ Sharon McCutcheon)

Jika tahun 2020 dan pandemi mengajarkan satu hal, mungkin pemahaman akan hubungan kita dengan bumi yang kerap kali tidak bersahabat.

Mulai dari polusi udara, kemasan plastik sekali pakai, hingga limbah tekstil, banyak kebiasaan yang semula mencemari bumi, kini perlahan disadarkan akan bahaya yang berpotensi untuk tidak hanya merusak alam sekitar, tetapi juga manusia.

Satu hal yang perlahan mulai berkurang adalah penggunaan kemasan plastik sekali pakai dan semakin banyak orang yang membawa tas guna ulang ketika berbelanja keperluan sehari-hari.

Memasuki tahun yang baru rasanya dapat menjadi langkah baik untuk memulai pola hidup baru agar lebih ramah terhadap lingkungan. Setelah tas berbelanja, mungkin saatnya berkreasi dengan apa yang ada di dalam lemari.

Industri fashion merupakan salah satu industri yang paling banyak menghasilkan polusi di dunia, setidaknya menyumbang 20 persen dari limbah air di dunia. Rasanya menjadi penting bagi kita semua untuk menilik lemari pakaian masing-masing dan mulai memilah pakaian-pakaian yang Anda miliki, tidak untuk dibuang, tetapi untuk kembali menghidupkan busana yang lama tidak terpakai.

Banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menjaga pakaian-pakaian di dalam lemari sehingga tidak menghasilkan limbah (sekaligus berhemat), salah satunya adalah dengan memperbaharui pakaian Anda dengan teknik pewarnaan atau dikenal dengan tie-dye.

Tie-dye, simbol perubahan budaya masyarakat Amerika

Di balik paduan ragam warna cerah yang menghiasi kaus-kaus, tie-dye adalah sebuah bentuk ekspresi diri yang digunakan selama berabad-abad. Khususnya, pada era 1960-an hingga 1970-an, teknik pewarnaan ini menjadi bentuk penolakan terhadap norma sosial yang mengikat sejak 1950-an.

Kebudayaan hipster yang menentang kekerasan, kapitalisme, materialisme, dan keseragaman, tie-dye dengan pilihan warnanya yang cerah memancarkan cinta dan perhatian, serta menekankan pentingnya menghargai keunikan setiap orang melalui motif-motif yang ditunjukan pada kreasi tie-dye.

Pada 2019, tie-dye kembali mengisi tren fashion musim panas ketika banyak label fashion ternama seperti Urban Outfitters, Prada, Stella McCartney, dan Michael Kors menggunakan tie-dye untuk menjadi bagian dalam koleksinya.

Tie-dye sendiri merupakan teknik pewarnaan yang mengikat atau memutar bagian pakaian untuk menghindari warna masuk ke bagian-bagian tertentu sehingga hasilnya akan membentuk sebuah pola. Banyak negara-negara di Asia yang mengadopsi teknik pewarnaan serupa, seperti batik dari Indonesia; bandhani dari India, serta salah satu yang tertua adalah shibori dari Jepang.

Shibori kerap disalahartikan sebagai teknik indigo tie-dye

Sekilas teknik tie-dye dan shibori tidak jauh berbeda. Kedua teknik pewarnaan yang merupakan bagian dari resist dyeing ini pada dasarnya membentuk pola untuk menghindari pewarnaan pada bagian tertentu. Namun, dua teknik populer ini memiliki catatan sejarah berbeda.

“Teknik shibori muncul akibat masyarakat kelas bawah di Jepang tidak mampu untuk membeli baju baru sehingga mereka memiliki untuk revamping baju-baju lama mereka dengan teknik shibori. Mewarnai ulang, mencelup ulang, atau teknik lain seperti tambal sulam, sashiko (patching) sehingga bagian yang rusak dapat tertutup,” jelas pendiri label fashion lokal ByBinzu, Bintang Aziizu.

(Foto: Courtesy of @bybinzu)

ByBinzu merupakan label lokal yang menerapkan teknik shibori dalam rangkaian produknya. Namun, dalam pembuatannya, Bintang memilih untuk menggunakan pewarna alami sebagai misinya untuk menghadirkan sebuah koleksi yang lebih ramah lingkungan dan juga kepada para perajin yang ia pekerjakan.

Warna biru yang khas melekat pada label fashion ini merupakan hasil dari proses pembelajaran Bintang untuk mendalami proses pembuatan warna indigo di Ambarawa, Jawa Tengah.

Setelah menjadikan biru sebagai warna khas dari label ByBinzu, Bintang sempat bereksperimen dengan warna-warna lain seperti cokelat muda dari kayu merbau; cokelat bata menggunakan kayu tingi, serta warna kuning cerah menggunakan kayu tegeran.

Ketiga warna tersebut memiliki warna turunan yang didapatkan melalui proses fiksasi atau penguncian warna, “Kita menggunakan zat tambahan yaitu kapur tohor atau menggunakan air kapur sehingga warna tersebut dapat menjadi lebih terang atau lebih gelap,” ungkap Bintang.

Baginya, penting untuk menghasilkan produk yang tidak hanya berkualitas baik dan tahan lama, tetapi juga ramah bagi lingkungan. “Tidak ingin membuat sesuatu yang cepat jadi. Benar-benar ingin membeli sesuatu yang khas dari Binzu [ByBinzu].”

Langkah sederhana untuk tampil bergaya dengan lebih bertanggung jawab

(Foto: Courtesy of @bybinzu)

Fashion ramah lingkungan atau dikenal dengan sustainable fashion adalah gerakan maupun perubahan yang dilakukan baik label fashion maupun konsumen untuk menghasilkan industri mode yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Ragam cara dapat dilakukan untuk menjaga kualitas atau bahkan menghidupkan kembali pakaian-pakaian Anda yang masih layak pakai untuk menunjang penampilan sehari-hari. Namun, semua diawali dengan mendalami gerakan fashion ramah lingkungan dan langkah-langkah sederhana yang dapat Anda lakukan untuk memulainya.

“Kalau melihat baju Anda yang lama tidak terpakai, mungkin sobek dapat dijahit dengan kain lain. Bila ada noda sedikit, dapat diwarnai ulang dan tidak harus pakai pewarna alami selama Anda mengerti cara penggunaannya.

Mulai dari hal-hal yang sederhana dan dapat dikerjakan di rumah, serta mengakses video-video di YouTube untuk mengetahui cara pewarnaan tie-dye,” ungkap Bintang ketika berbincang tentang fashion berkelanjutan.

Dengan misi untuk membangun fashion yang lebih ramah lingkungan, workshop pun dipilih Bintang untuk mengenalkan teknik shibori kepada masyarakat lebih luas. Tentunya, dengan membawa pesan untuk menjaga penggunaan dan konsumsi pakaian yang dimiliki.

“Menggunakan workshop sebagai touchpoint saya kepada masyarakat yang mungkin belum paham dan tertarik ingin lebih tahu [tentang pewarna alami dan sustainable fashion], karena untuk memberitahu ke banyak orang sebatas membagi informasi saja, enggak semua orang akan tertarik dan menggunakan pewarna alami itu rata-rata, kalau yang saya lihat, harganya lebih tinggi dibandingkan produk fast fashion,” ungkap Bintang.

(Penulis: Vanessa Masli)