Persamaan Perempuan Tanah Jahanam dan The Last of Us Menurut Christine Hakim

Konferensi pers The Journey of Christine Hakim yang terasa sebagai sebuah masterclass tentang sang sineas legendaris dan perfilman Indonesia.

Courtesy of The Publicist


Acara The Journey of Christine Hakim resmi dimulai akhir Agustus lalu. Satu tahun lho durasinya!

BACA JUGA: Menguping Obrolan Christine Hakim dengan Reza Rahadian

Enggak perlu khawatir ketinggalan, Anda bisa mengikuti update selama satu tahun lewat media sosial @TheJourneyofChristineHakim dan juga sang legenda @ChristineHakimOfficial .

Untuk Anda yang ingin menonton film-film lawas ibu, begitu panggilan Christine Hakim pada orang terdekat sampai awak media, ini merupakan saat yang tepat.

Pemutaran film Daun di Atas Bantal di XXI Plaza Senayan; Courtesy of The Publicist

Kemarin di XXI Plaza Senayan, pemutaran film Daun di Atas Bantal jadi yang pertama. Sesi diskusi bersama Garin Nugroho, selaku sutradara film Leaf on a Pillow, jadi penutup rangkaian acara.

Banyak pihak ternama yang berperan besar dalam karier ibu. Sama rupanya dengan The Journey of Christine Hakim. Seperti Reza Rahadian yang menjadi penggagas ide. Begitu juga dengan Raya Rasa Management yang berdiri bersamanya.

Ada Kemendikbudristek RI yang diwakilkan oleh Bapak Edy Suwardy. Sebagai Ketua Tim Pokja Apresiasi dan Literasi Film, Direktorat Perfiman, Musik, dan Media. Menurut beliau, The Journey of Christine Hakim ini mampu “menguatkan ekosistem perfilman nasional,” ucapnya di press-conference tempo hari.

Berkat beliau juga lah film Daun di Atas Bantal didiigitalisasi, dan bisa dilakukan screening!

Kemudian ada Adila Suwarmo, selaku produser dari buku biografi Christine Hakim. Banyak sekali materi dari buku tersebut yang hampir dibocorkan oleh dua rekan ibu di sesi Retrospektif Christine Hakim, tak lain dari dua kerabatnya, Garin Nugroho dan Slamet Rahardjo.

Retrospektif Christine Hakim dari Garin Nugroho dan Slamet Rahardjo; Courtesy of The Publicist

Keduanya sepakat kalau Christine itu keras kepala. Namun jika tidak demikian, sinema Indonesia, dan juga dirinya, tak akan berada di titik sekarang ini.

Ada satu yang menggambarkan keakraban Garin dan Christine adalah pendapat dari sang sutradara, “Mengikuti peta sinema Indonesia itu sama dengan mengikuti Christine Hakim.”

Cerita memori lain turut dibagikan di konferensi pers itu. Seperti adegan ranjang pertama Christine Hakim dengan Slamet Rahardjo, persahabatan keluarga Slamet dan Christine, hingga rasanya tergabung dalam satu proyek bersama ibu.

Bahkan ada yang project Garin, Christine, dan Reza. Yang disebut sebagai "duet maut Christine Hakim dan Garin Nugroho setelah 12 tahun oleh Reza Rahadian" di wawancara Bazaar bersama ibu dan Reza beberapa tahun silam. Semua cerita seru ini dapat Anda baca di buku biografi yang akan segera dipublikasikan.

Christine Hakim di konferensi pers The Journey of Christine Hakim; Courtesy of The Publicist

Sosok di balik nama Christine Hakim juga turut memberi sambutan. Baginya “film adalah produk bangsa”. Sosok ibu bagi banyak orang, terutama di industri perfilman ini, sempat tidak ingin melanjutkan kariernya sebagai aktris.

Namun, ketika sang ibu (Oma) menunjukkan kepercayaan begitu mendalam, Christine pun memutuskan kalau film akan menggantikan bangku kuliah untuknya. Ia akan terus belajar di film. Dan salah satu inspirasinya adalah masyarakat Indonesia.

Saya tertarik menonton web series The Last of Us, jujur, karena cuplikan adegan Christine Hakim yang lewat berulang kali di laman media sosial. Nah, pada kesempatan ini, ibu yang menjadi seorang ilmuwan di The Last of Us berbagi sudut pandangnya akan karya yang dibuat di sini dan di Amerika.

“Pesan moral yang saya dapatkan di Perempuan Tanah Jahanam, dan di The Last of Us itu sama. Bedanya, satu dibuat orang Indonesia, pendekatannya mistis dan religius. Yang satu dibuat oleh orang Amerika, pendekatannya science, jelasnya di atas panggung. (The Last of Us) Bicara masalah kekuatan otak yang begitu powerful. Kalau Perempuan Tanah Jahanam bicara masalah kekuatan rasa. Itu yang saya dapatkan dan diajarkan dari seorang Slamet Rahardjo. Itu yang amat sangat berharga. Bukan hanya saya sebagai aktris dan produser, tapi juga sebagai manusia. Penting untuk menjaga keseimbangan antara rasa kepekaan sebagai manusia dan juga akal sehat,” pungkasnya.

Baru dari press conference pertama saja sudah dapat begitu banyak informasi, edukasi, serta pemahaman baru soal industri seni ini. Gimana kalau Anda mengikuti rutin selama satu tahun?

Nah, penasaran apa saja yang akan menjadi bagian dari The Journey of Christine Hakim ini?

  • Rangkaian kegiatan pemutaran film yang dibintangi, dan juga diproduksi oleh Christine Hakim
  • Pemutaran serta diskusi film yang dipilih sendiri oleh ibu. Berlangsung di beberapa kampus di Jakarta, dan juga komunitas film di lima kota
  • Pameran yang akan berkolaborasi dengan tiga seniman. Tunggu pengumumannya di bulan Januari 2024
  • Peluncurkan buku biografi
  • Program retrospektif di beberapa festival film dalam (JAFF, Madani Film Festival, Jakarta Film Week. Dan juga luar negeri (Amerika Serikat, Timor Leset, Malaysia, Jepang, dan Belanda)

BACA JUGA:
5 Menit Bersama Christine Hakim
Christine Hakim Tetap Sibuk & Bahagia di Masa Pandemi