Beban Era '90-an Pada Generasi yang Terobsesi Dengan Filter

Seorang penulis berpendapat bahwa kejayaan di tahun ’90-an dianggap sebagai titik kulminasi yang memicu kerusakan hingga saat ini.



Setelah berabad-abad, wanita sudah mengalami perubahan pada tolok ukur kecantikan, mulai dari pinggang yang berukuran sangat kecil hingga payudara dengan ukuran besar, tetapi ada satu dekade yang disebut sebagai perusak standar citra kecantikan yang tidak realistis, yakni tahun ’90-an. Sering disebut sebagai masa kejayaan untuk industri fashion - the decade of grunge, Calvin Klein, dan slip dress - namun itu juga awal mula dari standar kecantikan yang tidak sehat, yang konsekuensinya masih ada hingga saat ini. Yang juga memprihatinkan adalah evolusi tentang bagaimana kita terus mengonsumsi tren yang merusak ini.


Berbeda dengan tahun ’90-an, di mana konten tersedia di majalah, papan iklan, dan televisi, awal tahun 2000-an mulai berkenalan dengan media sosial. Hari ini, ada pengguna yang jumlahnya jauh lebih besar, dengan perkiraan 3.6 miliar orang dalam satu platform tersebut; satu miliar di antaranya adalah pengguna Instagram - dengan 7 persen penggunanya berusia antara 13 dan 17 tahun. Dalam sejarah, pesan yang dibagikan di dunia fashion tidak pernah menjangkau audiens lebih besar dari sekarang ini, untuk nilai baik atau pun buruk.


“Secara konsisten kami selalu disuguhi foto dengan model yang kurus.”


Saya tumbuh besar di tahun ’90-an, ketika Heroin Chic adalah sesuatu yang menjadi cita-citakan; secara konsisten kamu selalu disuguhi foto dengan model yang kurus dan majalah mingguan dipenuhi dengan artikel tentang bagaimana menjadi ukuran nol. Saya membaca tentang bulimia di sebuah majalah dan memutuskan bahwa itulah cara saya mencapai cita-cita saya yang tidak realistis tadi - saya baru berusia 13 tahun.


Generasi muda sekarang tidak dapat memahami mengapa generasi milenial begitu vokal dengan kepositifan tubuh di media sosial, mengapa kami marah pada selebriti karena mempromosikan suntikan yang menekan nafsu makan; mengapa kami lelah melihat wajah-wajah populer yang diubah hingga tidak lagi dikenali; dan mengapa kami berbicara tentang filter yang mengubah fitur wajah. Itu karena kita sudah mengalami efek yang terlalu lama sehingga merasa hal itu adalah sesuatu yang normal - dan kita bisa melihat bencana yang akan terjadi.


Beberapa dari kami merasakan langsung seperti apa rasanya bencana tadi. Ingin terlihat seperti perempuan di majalah yang saya baca secara obsesif dari sampul ke sampul, tanpa pikir panjang saya mengambil tindakan ke tangan sendiri - tidak menyadari bahwa tindakan ini akan menggiring saya dalam perjalanan yang menyiksa selama 12 tahun dengan dampak seumur hidup. Sesungguhnya untuk kebanyakan dari kami, tren Heroic Chic bukan tentang obat-obatan terlarang, melainkan adiksi untuk menjadi ‘kurus’ dan media juga memfasilitasi fakta tersebut dengan senang hati.


Industri fashion memang selalu memperjuangkan standar yang tidak realistis, bahkan sejak akhir abad ke-19 dengan korset ketat dan menyakitkan, dapat dikatakan tahun ’90-an adalah era pertama yang membesarkan standar thin waif. Saat ini muncul gerakan ‘Strong Not Skinny’ - yang berasal dari tahun ’80-an dengan munculnya DVD untuk latihan di rumah dan juga selebriti seperti Olivia Newton-John yang berpakaian lyrcra-clad - akan tetapi tubuh kurus masih menjadi tujuan utama hal tersebut.


Di masa remajanya, Kate Moss diubah menjadi sosok ideal untuk tren Heroic Chic - dengan foto yang terkesan kumuh namun modis dari Corinne Day dan Davide Sorrenti menghiasi halaman majalah fashion ternama. Karena hal ini, Kate terbuang dari ketenarannya akan kemampuan modeling-nya, yang berubah menjadi tenar karena kehidupan sosialnya yang terkesan bebas dan hubungannya dengan rock star terkenal; Kate memiliki kehidupan yang diinginkan setiap perempuan.



Meskipun citra tubuh kerempeng menyebar secara alami sehingga menganjurkan cara yang tidak sehat untuk mencapai bentuk tubuh tersebut (beberapa model dilaporkan memakan kertas tisu untuk menangkis kelaparan), dekade itu juga mengagungkan penggunaan obat-obatan terlarang dan juga merokok. Para anak muda terlihat keren jika menggunakan kokain di kamar mandi klub malam dan menjadi perokok bak cerobong asap; tidak ada yang peduli dengan kerusakan yang ditimbulkannya, karena generasi pujaan lah yang memeloporinya.


Kedua sosok yang mengedepankan tren tersebut, Corinne Day dan Davide Sorrenti, meninggal dunia karena overdosis narkotika pada tahun 1997, mengakhiri tren populer tersebut di semua industri. Berbicara setelah kematiannya, Presiden Clinton berkata, “Anda tidak perlu mengagungkan kecanduan untuk menjual pakaian. Membenarkan penggunaan heroin itu tidak dapat dibilang sebagai langkah kreatif, melainkan merusak. Itu tidak indah; itu jelek. Dan ini bukanlah tentang seni; ini tentang hidup dan mati. Dan memuliakan kematian bukanlah tindakan yang baik untuk masyarakat mana pun.”



Di tahun 2007, Isabelle Caro, seorang model berkebangsaan Prancis, mengizinkan fotografer untuk menggunakan tubuhnya dengan berat 26.6 kilogram untuk tampil tanpa busana untuk kampanye eating disorder di Italia. Foto tersebut dipamerkan di billboard pada malam Milan Fashion Week, meski langsung diturunkan dan dilarang, foto tersebut menjadi viral secara daring, memberikan kejutan ke seluruh industri, dan tanpa jeda waktu, hal ini memicu perubahan, yakni perubahan pelarangan model dengan ukuran nol di atas panggung mode. Isabelle meninggal pada tahun 2010, saat dirinya berusia 28 tahun.


Percepat hingga hari ini, dan kami berusaha melawan hubungan yang berbahaya ini dengan kecantikan, kami berjuang melawan fillers, filter, dan aplikasi FaceTune dengan munculnya keluarga Kardashian serta reality stars lainnya yang juga hadir dengan kesempurnaan operasi. Penampilan yang diinginkan bukan lagi waif-like, melainkan lingkar pinggang yang kecil dengan bokong besar, payudara besar, garis rahang tajam seperti kaca, hidung kecil, bibir tebal, alis on-point, dan kulit halus seperti boneka. Apa yang kita lihat hari ini adalah evolusi dari standar kecantikan berbahaya yang sudah diperkenalkan dari tahun ’90-an. Mungkin terlihat berbeda, tetapi ini semua masih tidak masuk di akal - dan sekali lagi, kurus masih menjadi tujuan utamanya.


Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan dramatis pada selebriti dengan penampilan cookie-cutter, sebagian besar dari mereka mengaku itu semua alami - membuat para generasi muda bertanya-tanya mengapa mereka tidak memiliki liuk tubuh yang sama. Platform seperti SnapChat dan Instagram telah mengambil satu langkah lebih jauh, mengizinkan penggunaan filter yang pada kenyataannya merusakn platform mereka, yang memperlihatkan bagaimana mereka terlihat jika melakukan nose job dan lip fillers.



34 persen dari anak perempuan yang berusia antara 11 dan 21, mereka tidak akan mengunggah foto tanpa filter; sedangkan statistik untuk perempuan yang lebih dewasa dikatakan jauh lebih tinggi, dan ahli bedah plastik di Inggris dan Amerika Serikat telah angkat bicara tentang peningkatan pada prosedur operasi selfie. Tidak ada batasan usia legal untuk dermal filler di Britania Raya dan sebagian besar tidak perlu pengawasan, yang berarti siapa pun secara legal dapat memberikan perawatan suntik - dan terkadang dengan hasil yang mengecewakan.


Satu-satunya cara untuk menghentikan industri dengan nilai miliaran poundsterling yang telah lama memanfaatkan dan bertopang pada rendahnya harga diri ini adalah dengan menerapkan peraturan ketat yang berkaitan dengan filter, iklan, dan foto yang diedit sedemikian rupa. Sama seperti majalah, platform media sosial seperti Instagram harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan begitu pula para pengguna terbesarnya.


Baru-baru ini Dr Luke Evans MP mengajukan sebuah undang-undang untuk para selebriti menyatakan foto yang terlalu banyak diedit, karena ia yakin tren tersebut akan memicu krisis kesehatan mental. Saya juga, dan jika tidak sekarang, pasti akan terjadin. Tahun ’90-an dan Heroin Chic membentuk dan memunculkan masalah terhadap tubuh yang masih kita hadapi hingga saat ini, memikat banyak orang yang menjadi korban dengan eating disorders dan kehilangan harga diri sejak lama. Jangan lagi kita mengulang kesalahan yang sama.


(Penulis: Tristan Lee; Alih bahasa: Sabrina Sulaiman; Artikel ini disadur dari BAZAAR UK; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)