Desain Karya Anak Indonesia Hadir di Paris Design Week 2019

Sejumlah desain kontemporer Indonesia untuk pertama kalinya hadir di Trade Fair Maison & Objet di Paris.



Setelah liburan musim panas yang panjang, kota Paris memulai aktivitasnya di bulan September ini dengan progam Paris Design Week. Dalam sinergi ini, sebuah trade fairMaison & Objet dibuka lewat sebuah ajang pertemuan bagi para profesional dan para pencinta interior designserta desain pada umumnya.

Pameran dagang yang berlangsung di luar kota tua Paris ini, tepatnya di Parc des Expositions de Paris Nord Villepinte, mengambil luas sebanyak tujuh hall. Masing-masing hall mempunyai tema tersendiri dan berlangsung dari tanggal 6 hingga 10 September 2019.

Indonesia untuk pertama kalinya ikut berpartisipasi. Di bawah nama IDentities, di mana sejumlah karya desain anak bangsa berkumpul dalam sebuah paviliun di Maison et Objet yang bertempat di hall 5 yang bernama Signature: Unique & Eclectic. Area tersebut merupakansebuah hall luas yang mempertemukan ragam desain dari beberapa negara yang menawarkan berbagai macam produk-produk unik.




Di hari pertama, tampak sebuah seremoni pembukaan dimulai sekitar jam 11 pagi di area paviliun Indonesia yang diawali oleh kata sambutan dari Duta besar Indonesia untuk Prancis, Bapak Arrmanatha C Nasir dan disambung oleh Bapak Joshua Simandjuntak selaku deputy of marketing BEKRAF.

Tampak hadir sejumlah tamu undangan, para wartawan, beberapa desainer Indonesia, para pemilik brand dan juga tidak ketinggalan pengunjung yang sudah berlalu-lalang ikut menyimak acara itu.

Paviliun Indonesia yang ditata dalam harmoni desain modern dengan sentuhan khas Indonesia, sebuah lampu gantung kreasi DUA Lighting, adalah hasil kolaborasi Rinaldy A Yunardi , Era Soekamto dan Nusantara Wisdom. Kolaborasi tersebut adalah sebuah hasil silang dari anyaman rotan dengan ornamen kuningan, kontras dengan tapestry dinding yang didominasi warna merah dari brandThreadapeutic, sebuah konsep sustainable design dengan mendaur ulang kain bekas menjadi sebuah produk baru.




Beberapa model furnitur dari bahan alam seperti rotan, kayu dan bambu menghiasi sudut-sudut ruang pameran. Dari gaya tropikal dengan anyaman hingga gaya minimalis seperti Keratons dengan meja konsol dengan sentuhan art nouveaudari kayu jati dengan motif ukiran seperti sisik ikan, produk dari BIKA, sebuah meja sudut yang kokoh dan mewah berwarna emas merah yang merupakan paduan dari kayu dan anyaman metal.




Sedangkan produk yang dipamerkan dari label Budi by Budipradono adalah furnitur dengan tampilan elegan terbuat dari rotan. Budi Pradono adalah seorang arsitek yang hadir di hari pertama itu. Ia juga sempat menjelaskan konsep produknya. Dia mengatakan bahwa acuannya adalah konsep arsitek Le Corbusier yaitu membuat sebuah tempat tinggal yang dilengkapi dan disesuaikan dengan peralatan ataupun desain yang diperlukan untuk kehidupan sehari hari.

Beberapa karya lain yang cukup menarik perhatian seperti dari Aievl, kursi dengan bahan busa, seri jam tangan yang modern minimalis dari PALA Nusantara di mana bahan strap jam tangan tersebut terbuat dari sejenis jamur, atau Spedagi dari Singgih S Kartono yang merupakan singkatan dari sepeda pagi yaitu sebuah sepeda bambu.




Sebanyak 24 desainer dan label ikut dalam acara ini berkat kerja sama BEKRAF dan HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) yang akan membawa langkah baru untuk desain kontemporer Indonesia serta harus bersaing ketat dalam pasar internasional.



(Foto: Courtesy of Rizal Halim)