Menyingkap Ekshibisi "Bulgari Serpenti 75 Years of Infinite Tales" Bersama Putri Marino

Berlangsung di Seoul, Korea Selatan, Putri Marino melihat lebih dalam ke perjalanan dan kemegahan Bulgari Serpenti yang telah hadir selama 75 tahun.



Bulgari mempersembahkan ekshibisi Bulgari Serpenti 75 Years of Infinite Tales" dengan mengambil latar di Galeri Kukje, Seoul, Korea Selatan. Ekshibisi ini berfokus kepada keindahan abadi Bulgari Serpenti yang tak lekang waktu dan ikonis.

Sebelumnya, ekshibisi ini telah dilangsungkan pada bulan Februari di Thyssen-Bornemisza National Museum, Madrid diikuti dengan ekshibisi di Shanghai dan Pop-Up Serpenti di New York. Salah satu representasif dari Tanah Air yang berkesempatan pertama kali untuk menelusuri ekshibisi adalah aktris Putri Marino, ia berkunjung pada tanggal 18 Agustus 2023 untuk turut merayakan anniversary ke-75 tahun Bulgari Serpenti.

Putri Marino

Tangled Snakes (1969) karya Chun Kyung-Ja

Bulgari yang kerap menjadikan sosok wanita sebagai sumber inspirasi, lantas mengajak enam seniman perempuan di Korea dan negara lain. Galeri ini mempersembahkan karya seniman wanita legendaris Korea, Chun Kyung-Ja yang bertajuk Tangled Snakes (1969), kemudian ada juga karya seniman wanita asal Prancis, Niki de Saint Phalle, yang dikenal akan karya-karyanya yang menampilakn ekspresi-ekspresi ular di lukisan maupun patung.

Pouf Serpent jaune (1994) karya Niki de Saint Phalle

Di lantai dasar galeri ada karya lukisan abstrak dari Wook-kyung Choi dan rangkaian kanvas yang dibordir dengan aliran seni eksperimental karya seniman Kyungah Ham. Berlanjut ke lantai 2, ada lima karya seni spesial dengan grafik ular yang dipajang di antaranya adalah Trop Long (2023) dan Meeting the Morning Dew (2023) karya seniman Seung-Hye Hong dan Jeun Choi. Seluruh ekshibisi mengambil fokus terhadap 40 karya seni bertemakan ular yang selaras dengan Bulgari Serpenti.

Trop Long (2023) karya Hong Seung-Hye

Meeting The Morning Dew (2023) karya Jae-Eun Choi

Tak hanya sederetan karya seni, sebagai bagian dari anniversary, Bulgari merilis Serpenti Factory, sebuah inisiatif artistik yang menjadikan ular sebagai inspirasi utama, betapa sosok tersebut dapat dikreasikan menjadi banyak simbol dengan gabungan antara teknik dan arsip milik Bulgari serta imajinasi dan kerajinan tangan terbaik yang terkandung di Serpenti. Serpenti Factory kemudian merangkul banyak area dari mulai identitas Serpenti yang ikonis, awal mula dankualitas kerajinan tangannya, hingga teknologi multi sensory dan kampanye terbaru Bulgari Serpenti untuk anniversary ke-75.

Di area brand section ini, ada juga area yang disertai zona digital dan yang didesain untuk mengarahkan para pengunjung dari area masa lampau, masa kini, dan masa depan simbol Serpenti. Keseluruhan area diciptakan dengan unsur desain Serpenti sekaligus efek suara dan video yang dimainkan selama ekshibisi berlangsung.

Untuk ekshibisi spesial ini, ada lima model high jewelry dan jam tangan Serpenti yang secara eksklusif diciptakan untuk anniversary ke-75 tahun. Eclipse Serpenti High Jewelry merupakan percampuran dari kilauan yang terpancar langit di malam hari dan transformasi bulan. Perhiasan ini dirancang sebagai aksesori anting dan cincin.

Kemudian, Rainforest Serpenti High Jewelry mengemukakan aura misterius dan menggambarkan elemen hutan hujan yang cantik sehingga akan memeluk sang pemakai dan mengelevasi energi siapapun yang mengenakannya. Untuk jam tangan yang juga berfungsi sebagai perhiasan yang memenangkan penghargaan jam tangan paling prestisius, Grand Prix d'Horlogerie de Genève (GPHG). Jam ini dibubuhi bebatuan dengan warna yang indah dan menunjukkan makna batu mulai di high jewelry yang langka dan hanya bisa dimiliki oleh sejumlah sosok eksklusif.

Kilas balik sejarah sebuah ikon

Legenda Serpenti telah lama ada dan berakar kuat dari sejarah manusia, ular adalah wujud imajinasi budaya Timur ke Barat hingga ke era milenium. Dalam mitologi Yunani dan Romawi, ular dianggap sebagai lambang dari transformasi dan regenerasi kekuatan akibat kemampuannya untuk berganti kulit sendiri. Pembaruan terus menerus tersebut menjadi representasi akan lingkaran infinity yang tak mengenal batas atau akhir.

Debut kreasi Serpenti berawal dari kreasi jam tangan perhiasan, simbolnya dileburkan bersama dengan teknik luwes Tubogas yang fashionable dan distingtif.

Di era 1950-an, Bulgari kemudian melakukan pendekatan yang lebih ekspresif dengan aplikasi bubuhan bebatuan dari mulai berlian, emerald, hinggaruby. Sebuah evolusi yang dilangsungkan pada era 1960-an ketika simbol ular dijadikan kanvas untuk menuangkan kreativitas bersama jajaran enamels warna warni. Ini kemudian menjadi momen sang brand menciptakan jam tangan Serpenti secret jewelry dengan dial kepala ular.

Kemudian, kreativitas sang brand tak berhenti di situ saja, mereka semakin bermain dengan kombinasi warna dan material-material tak terduga tanpa menghilangkan jejak DNA Bulgari Serpenti itu sendiri. Setiap inovasinya sukses memesona banyak kolektor, motif-motif geometris kemudian dikeluarkan menciptakan wujud perhiasan yang unik dan cantik.

Menjaga relevansi, Bulgari kemudian memperkenalkan Serpenti Viper yang modern dan kontemporer dengan desain yang sleek. Sebuah transformasi emblem yang tak lekang waktu dan ikonis sekaligus pembuktian kreativitas tanpa batas Bulgari sebagaiahli perhiasan.

(FOTO: Courtesy of Bulgari)