Apakah Anda Kecanduan Media Sosial?

Kenali ciri-ciri kecanduan social media, efek negatifnya, dan bagaimana cara mengatasinya.



Seberapa sering kah Anda membuka media sosial atau yang sering disebut sosmed dalam waktu sehari? Apakah Anda dapat melewati satu hari tanpa membuka media sosial sama sekali?

Anda tidak sendiri. Sekitar 90% dari jumlah tim redaksi Harper’s Bazaar mengaku langsung membuka Instagram atau Facebook ketika bangun tidur.

Dan aplikasi media sosial dengan jutaan pengguna ini terus dibuka berulang kali sepanjang hari, meskipun tidak ada notifikasi.

Dalam lingkup yang lebih besar, pada bulan Januari 2018 tercatat ada 130 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia, naik 24 juta pengguna dari Januari 2017.

Dan rata-rata penggunanya menghabiskan waktu selama 3 jam 23 menit setiap hari untuk mengecek akun media sosial.

Media sosial memang digunakan untuk berbagai keperluan sehingga kebutuhan orang yang mengaksesnya pun bermacam-macam.

Ada yang digunakan untuk mempromosikan bisnis, membantu profesi, menyalurkan hobi, berhubungan dengan teman-teman, dan lain sebagainya.

Jika memang media sosial ternyata memiliki banyak keuntungan, adakah efek negatif bagi para penggunanya? Kami berbincang dengan Rosdiana Setyaningrum, psikolog dan co-founder DZone Therapy Center, untuk mengetahuinya.

Ia mengatakan bahwa tanda-tanda penggunaan media sosial telah mulai negatif adalah, “Ketika kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, ketika kita mulai terobsesi, ketika digunakan sebagai pencitraan diri yang tidak sesuai dengan diri sendiri”.

Selain itu, menurutnya penggunaan media sosial yang terlalu sering juga dapat mempengaruhi kehidupan nyata seseorang seperti:

1. Semakin banyak Anda melihat media sosial, maka fokus pun menjadi semakin kurang.

2. Caption foto yang cenderung pendek akan membuat Anda mulai tidak terbiasa untuk membaca artikel atau tulisan yang panjang.

3. Karena sibuk di media sosial, Anda malah tidak menikmati kehidupan nyata saat sedang bersama keluarga dan teman atau ketika berlibur.

4. Anda kemudian dapat menjadi anti sosial karena lupa bagaimana cara mengekspresikan diri dengan benar di kehidupan nyata. Gestur, intonasi, mimik wajah, tidak bisa digantikan dengan emoticon.

Di sisi lain, “Ciri-ciri seseorang kecanduan terhadap sesuatu adalah ketika pikirannya menjadi terobsesi terhadap suatu hal sehingga mengganggu area kehidupannya yang lain,” jelas Rosdiana. Hal ini juga berlaku untuk media sosial secara khusus, atau gadget secara umum.


Jika Anda ingin mengetes diri sendiri apakah Anda melebihi batas dari kebutuhan menjadi kecanduan terhadap gadget Anda, ciri-ciri di atas dapat Anda selidiki.

Rosdiana lalu melanjutkan dengan memberikan sejumlah cara-cara penggunaan gadget dan media sosial yang sehat.

1. Menggunakan gadget dengan tujuan entertainment, idealnya hanya dalam waktu 2 jam per hari. Hal ini tentu saja akan berbeda jika memang Anda bekerja di bidang yang mengharuskan Anda menggunakan gadget atau memantau media sosial.

2. Ingatlah siapa yang Anda follow dan apa tujuan akun media sosial mereka. Misalnya, seorang selebriti akan lebih banyak mengunggah foto yang berupa branding produk atau diri sendiri.

3. Unggahlah hal-hal yang dapat Anda pertanggung-jawabkan, baik dalam bentuk foto atau teks.

By the end of the day, media sosial tidaklah sama dengan bersosialisasi. “Media sosial hanyalah bagian dari sebuah kehidupan sosial. Bagian utamanya adalah komunitas di kehidupan nyata,” tutupnya.


Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa perlu mulai membatasi penggunaan media sosial?


(Foto: gstockstudio ©123rf.com, Vadim Guzhva ©123rf.com)