Perjalanan Tasya Talitha Memulai Karier Sebagai Desainer Baju Pengantin di Kota Paris

Jadikan cerita Tasya sebagai inspirasi untuk Anda memulai karier di kota cahaya tersebut.

Courtesy of Tasya Talitha


Menulis tentang karir seorang desainer di Paris, tidak dipungkiri merupakan sebuah pengalaman yang menarik, apalagi karena dia berasal dari Indonesia karena kita harus tetap objektif di balik kekaguman melihat karya-karyanya dan merasakan juga semangat berjuang untuk eksis di kota mode ini.

Namanya Tasya Talitha, seorang desainer bridal mendirikan labelnya di tahun 2016 di Prancis. Lahir di kota Bandung, kemudian bersama ibunya pindah dan tinggal di Jakarta. Sejak kecil Tasya banyak membantu sang ibu yang juga berkecimpung dalam dunia bridal dengan membuat baju pengantin. Hingga akhirnya dunia ini menjadi sebuah domain yang tidak asing.

Tasya kemudian memutuskan untuk bersekolah di Kuala Lumpur dan mengambil jurusan fashion. Setelah mendapat diploma, dia lalu melanjutkan sekolahnya ke Paris. Hingga sekarang, Tasya Talitha menjejakkan kariernya sebagai seorang desainer. Pertemuan saya dengan Tasya sebenarnya berlangsung di tahun lalu, dalam sebuah pembukaan butik aksesoris, di mana Tasya juga bekerja sama dengan brand tersebut untuk memamerkan karyanya. Dengan adanya pandemi ini dengan situasi yang tidak begitu pasti, akhirnya saya membuat janji untuk bertemu lagi dengan Tasya di kediamannya.

Courtesy of Tasya Talitha

Dalam sebuah apartement-atelier di kota Paris, akhirnya saya bisa berbincang dan melihat karya-karya secara detail dan personal. Dalam hunian yang berbentuk loft, tempat Tasya tinggal dan bekerja, terpampang sebuah gaun pengantin yang masih dalam persiapan, membalut di sebuah patung manekin, dipadankan dengan sebuah topi gaya bibi dengan teknik lipat untuk pengantin. Sulaman tangan untuk veil dan beberapa sketsa baru dengan alur garis-garis pinsil yang ekpresif diperlihatkan kepada saya.

Courtesy of Tasya Talitha

Courtesy of Tasya Talitha

Semua karya diaplikasi secara artisanal yang mengandalkan keterampilan tangan. Salah satu koleksi barunya mengadopsi gaya kimono, terbuat dari renda khas Prancis berwarna krem. Ini merupakan satu kreasi untuk boudoir yang ditujukan untuk para wanita yang sedang mempersiapkan diri di hari istimewanya. Desain ini sengaja dibuat untuk perempuan yang sedang dirias sebelum akhirnya berjalan di pelaminan atau altar. Busana ini mudah dikenakan, dan tetap memancarkan keeleganan.

Courtesy of Tasya Talitha

Kreasi feminin dan detail modern tercermin di setiap koleksinya, misalnya pada koleksi terbarunya yang berjudul Identity. Terlihat siluet romantis juga sensual dengan bahu dan punggung yang terbuka. Penggunaan bahan dari sutera, tulle dengan lipit, detail kancing dari mutiara atau pun korset dengan lapisan renda Prancis yang dirancang secara elegan dan timeless dengan dominasi warna-warna monokromatik yang lembut.

Di bawah suasana sejuk dan matahari musim semi yang menerobos jendela, kami mulai berbincang. Hari itu, Tasya mengenakan baju loose berwarna putih, terpancar bahwa ia adalah seorang yang optimis, energetik dan ramah. Cerita seru mengalir tanpa ragu tidak henti dibagi oleh Tasya yang beraksen Sunda bercampur dengan bahasa Prancis.

Mengapa kota Paris?

Setelah sekolah, kemudian saya meminta izin untuk belajar bahasa Prancis kepada ibu. Saya kemudian beranjak ke kota Rennes yang terletak sebelah barat Prancis itu. Saat itu saya melihat ada open house untuk banyak sekolah, salah satunya adalah Ecole de la chambre syndicale de la couture Parisienne, yang menurut pengetahuan saya adalah sekolah terbaik untuk haute couture. Desainer Yves Saint Laurent saja pernah sekolah di tempat ini. Lalu, saya akhirnya memutuskan untuk masuk ke sekolah tersebut guna memperdalam teknik pembuatan baju.

Tidak butuh waktu lama untuk saya menjatuhkan hatinya terhadap kota Paris, terlebih dengan kota dan gaya hidupnya. Kemudian saya pun memutuskan untuk memulai hidup di kota yang indah ini.

Apa yang sangat Anda senangi saat di sekolah?

Courtesy of Tasya Talitha

Saya belajar banyak dan lebih mendalam bukan hanya dari segi teknik, tapi juga styling hingga sejarah mode. Kelas favorit saya adalah drapping. Drapping itu seperti membelit dan mencetak kain pada sebuah manekin, sehingga secara visual saya bisa melihat langsung bentuk gaun yang mengekpresikan kreativitas saya. Teknik drapping ini berbeda sekali dengan teknik drafting.

Tentang magang di rumah mode haute couture, Stéphane Rolland?

Saya diterima magang untuk desainer Stéphane Rolland sebagai asisten stylist. Saya diterima di rumah mode ini mungkin karena saya mengembangkan teknik drapping dengan ide sendiri yaitu dengan teknik origami. Saya banyak berdiskusi dengan Stéphane, dan dia suka sekali dengan teknik yang saya buat, seperti origami dari kertas yang dilanjutkan ke kain katun, kemudian dipotong lalu di diterapkan ke patung manekin.

Courtesy of Tasya Talitha

Ada beberapa pelajaran yang saya dapat dari magang ini, seperti sosialisasi, bertukar pikiran dengan orang-orang kreatif, mendapat kontak para supplier. Saya juga ikut hadir saat fitting haute couture, dan di sanalah saya melihat sebuah proses yang berbeda sekali dengan ready-to-wear, terutama untuk finishing touch, di mana semuanya memerlukan keterampilan tangan. Sampai sekarang saya pun masih memakai ilmu tersebut untuk baju yang saya buat. Saya cukup demanding untuk sentuhan akhir dengan jahitan tangan karena bagi saya ini bagian yang penting dan sangat delicate sekali.

Tentang kompetisi pembuatan gaun opera di Opera de Paris?

Saya mendapat penghargaan utama ketika saya ikut kompetisi di Opera de Paris, yang saat itu bertema opera La voix Humaine dari komposer Prancis, Francis Poulenc. Saat itu saya mengajukan beberapa desain dengan cerita dari setiap desain, detail, serta tekniknya. Kemudian saya membuat satu model sebagai contoh untuk penyanyi soprano-nya. Setelah membaca tema opera itu, saya membayangkan peran dari karakter yang akan dibawakan oleh sang penyanyi soprano, dan saya melihatnya lebih dari sisi perasaan yang sensitif.

Dan menurut para juri, mereka tersentuh karena baju ini mampu menginterpretasikan sesuatu yang personal. Saya membuat sebuah jumpsuit berwarna hitam dari bahan sifon dengan aksen renda pada bagian kiri dan kanan yang saya jahit tangan. Sebelumnya memang saya banyak mendalami bagaimana penampilan seorang penyanyi opera, karena mereka banyak bermain dengan pernapasan sehingga perutnya kembang kempis. Jadi saya membuat jumpsuit ini tidak terlalu ketat, namun tetap membentuk alur tubuh sehingga nyaman dipakai, dan tetap menjaga estetik yang feminin.

Tentang pengalaman bekerja?

Saat lulus dari sekolah, saya diterima disebuah perusahaan mode yaitu Iris Cantabri, sebuah brand ready to wear mewah dan saya menjadi penanggung jawab studio seta atelier selama beberapa tahun. Di situlah saya belajar banyak untuk berorganisasi dan sisi administrasi.

Tentang pembuatan label di tahun 2016?

Courtesy of Tasya Talitha

“Awalnya susah,” ujarnya sambil tertawa lepas. Syukur saya punya semangat dan mental yang kuat, saya sudah hampir kembali pulang ke Indonesia. Salah satu yang cukup sulit karena saya harus melewati adiminstrasi, saya harus memperhitungkan perencanaan label ini selama tiga tahun kedepan, dan juga segi keuangan yang mencukupi. Beruntung saat itu saya sudah cukup banyak menabung. Awalnya saya merasa sedikit minder, karena sebagai seorang Asia, tetapi ingin mempunyai label made in France. “Apakah akan diterima?” tanyanya meragukan diri. Sehingga saya banyak berkonsultasi dengan sekeliling saya tentang hal ini.

Courtesy of Tasya Talitha

Selama dua tahun, saya terus menggali tentang dunia pernikahan di Prancis dan akhirnya saya bertemu dan bekerja sama dengan seorang direktur dari sebuah blog pernikahan yang terkenal dan juga seorang penyelenggara sebuah showroom. Koleksi pertama saya dengan sepuluh looks untuk wedding dress ternyata mendapat perhatian dan sambutan yang baik sehingga kemudian saya dapat ikut berbagai pameran, acara profesional, lalu berkolaborasi dalam pemotretan, syuting video, dan bertemu dengan orang-orang baru.

Awalnya saya merasa sedikit minder, karena sebagai seorang Asia, tetapi ingin mempunyai label made in France. “Apakah akan diterima?” tanyanya meragukan diri. Sehingga saya banyak berkonsultasi dengan sekeliling saya tentang hal ini.

Pengalaman dengan pelanggan Prancis?

Menurut pengalaman saya, banyak wanita Prancis yang kurang percaya diri sehingga saat konsultasi dengan saya mereka selalu didampingi keluarga atau teman yang akhirnya membuat calon pengantinnya sendiri pun ragu karena terlalu banyak saran. Mereka kadang tidak berani mengambil keputusan untuk membuat baju pengantin yang diimpikan.

Courtesy of Tasya Talitha

Kebanyakan pelanggan saya adalah pasangan campuran atau Eropa selain Prancis. Biasanya, mereka datang sendiri dan sudah tau apa yang mereka inginkan. Itu juga yang menginspirasikan koleksi terbaru saya, yaitu sebuah sikap di mana wanita mengerti apa yang mereka mau. Tetapi disamping itu, rata-rata orang di Eropa mempunyai apresiasi tinggi terhadap kualitas. Misalnya bagian luar dan dalam gaun itu harus dengan finishing touch yang bagus.

Bagaimana relasi Anda dengan para pelanggan ?

Saya menjaga relasi dengan para klien karena itu penting. Saya juga memberi penjelasan dari awal hingga akhir untuk proses pembuatan gaun yang mereka pesan. Itu membuat mereka merasa ikut terlibat dalam setiap langkah ini dan juga membuat hubungan desainer dan klien menjadi lebih erat. Ini mungkin yang membedakan saya dengan para designer lain, saya mencari tahu kain-kain untuk gaun. Kemudian saya mengajak sang pelanggan untuk ikut memilih dan membeli bahan bersama-sama, sehingga ada transparansi yang membuat mereka merasa lebih yakin.

Rencana untuk masa depan?

Saya mempunyai strategi untuk masa depan, karena saya ingin semua berjalan secara long term, lagipula saya mengerjakan sesuatu yang saya suka. Saya mementingkan sebuah kualitas yang bagus, menjaga image yang baik dan juga membentuk sebuah relasi yang baik dengan para pelanggan. Hingga sekarang, hampir 90 persen, saya diundang oleh pelanggan ke pesta perkawinan mereka, ini menunjukkan bahwa para pelanggan merasa dekat dengan saya karena saya bekerja semaksimal mungkin dalam semua proses pembuatan gaun.

Courtesy of Tasya Talitha

Saya suka dalam bidang haute couture ini dan saya mempunyai rencana untuk mengembangkan mini capsule, membuat sesuatu yang eklusif tetapi bukan hanya baju pengantin, tetapi juga sesuatu yang lain seperti misalnya evening dress.