5 Pesan Berharga dalam Film Korea, Minari, yang Perlu Anda Ketahui: Mulai dari Perjuangan Meraih Impian hingga Dinamika Keluarga

Barangkali, paparan berikut dapat menggerakan hati Anda untuk menonton film memukau ini. 

Foto: Courtesy of Instagram @minarimovie


Film Minari sedang ramai dibicarakan oleh para penikmat film, khususnya setelah film tersebut mengantongi enam nominasi dalam Academy Awards 2021, di mana salah satunya adalah nominasi bergengsi Film Terbaik. Dalam kategori nominasi tersebut, film besutan Lee Isaac Chung ini bersanding dengan Mank, Nomadland, Judas and the Black Messiah, Promising Young Woman, dan film-film spektakuler lainnya. Minari pun mencatat sejarah baru dalam ajang penghargaan tersebut, di mana Steven Yeun menjadi aktor Amerika-Asia pertama yang mendapatkan nominasi Aktor Terbaik dan Youn Yuh-jung menjadi aktor Korea Selatan pertama yang menerima nominasi Aktris Pendukung Terbaik. Aktor mungil Alan S. Kim pun baru saja dianugerahi sebagai Aktor atau Aktris Muda Terbaik dalam perhelatan Critics Choice Awards 2021.

Pencapaian-pencapaian yang digapainya itu membuktikan kecemerlangan yang dimiliki oleh sang film. Selain berkat para aktor-aktris dan sinematografi yang mengagumkan, kecermatan film Minari hadir melalui intisari dan nilai yang dikandung dalam cerita dan plotnya. Menawan dan relevan, nampaknya dua kata tersebut dapat mewakilkannya.

Berkisah mengenai keluarga imigran berkebangsaan Korea Selatan yang diperankan oleh Steven Yeun (Jacob), Han Ye-ri (Monica), Alan S. Kim (David), dan Noel Cho (Anne). Jacob membawa keluarganya pindah, dari California ke Arkansas, lokasi di mana ia ingin memulai hidup barunya demi mencapai impian terpendamnya. Ia pun turut mengajak ibu mertuanya, Soonja yang diperankan oleh Youn Yuh-jung, untuk menemani dan menenangkan istrinya yang tidak sepenuhnya setuju akan ide ekstrem sang suami.



Dalam kesempatan kali ini, Bazaar akan menunjukkan dan mengupas intisari cerita dan pesan bermakna yang terkandung dalam film rilisan tahun 2020 ini. Paparan berikut barangkali dapat menggerakan hati Anda untuk menonton film memukau ini.



Perjuangan meraih impian

Foto: Courtesy of Bazaar UK

Nampaknya, bahasan yang satu ini menjadi poin utama dan intisari yang memayungi keseluruhan cerita. Segala hal berawal dari keinginan Jacob untuk meraih impian terpendam yang dimilikinya. Tentunya, impian tersebut bukanlah keinginan yang datang silih berganti. Ia telah mengantongi motif kuat yang mendasarinya (akan di bahas di poin selanjutnya).

Kepindahannya ke belahan lain Amerika Serikat demi menaruh nasib cukup mencerminkan kondisi berbagai pihak, menjadikannya cukup relevan untuk dipahami. Hingga saat ini, masih banyak orang yang percaya bahwa mereka dapat memperbaiki nasib dengan meninggalkan asal tempat tinggal mereka dan mengarungi samudra hingga ke Amerika Serikat. Walaupun tidak ada jaminan sukses sedikitpun, mereka tak mengindahkannya dan tetap berusaha. Hal tersebutlah yang dilakukan oleh Jacob dalam mengharapkan kehidupan yang lebih baik.

Tentu, tidak semuanya berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan. Tanah yang ia beli, untuk dijadikan ladang pertaniannya, tidak sesuai dengan iklan yang ia terima, di mana tanahnya kurang subur sehingga ia perlu usaha lebih perihal pengairannya. Hari demi hari, kelelahan yang ia rasakan pun mulai tak tertahankan. Tanah seluas itu perlu ia kondisikan sebagai ladang pertanian subur untuk menumbuhkan berbagai tanaman dari negara asalnya. Lambat laun, optimisme kuatnya mulai dilunturkan oleh rasa frustasi dan keraguan yang menyelimutinya.

Tetapi, itulah yang harus dihadapi dalam mencapai sebuah impian. Rasanya bukan impian namanya jika didapat tanpa melalui rintangan yang berarti.



Bakti untuk negara asal

Foto: Courtesy of Bazaar UK

Impian Jacob adalah menciptakan sebuah ladang pertanian. Namun, Jacob tidak akan mengejar impiannya dengan sekuat tenaga jika tidak didasari dengan motif yang kuat. Nyatanya, ladang tersebut akan ia penuhi dengan buah dan sayuran khas atau asal Korea Selatan, salah satunya adalah sayuran minari.

Melalui ladang tersebut, ia ingin menghidupkan kembali ‘Korea Selatan’ di tempat tinggalnya saat itu. Walaupun telah lama tinggal di Amerika Serikat, Jacob tidak ingin serta merta melupakan negara asalnya. Ladang tersebut juga ia hadirkan untuk membantu rekan senegaranya yang juga tinggal di sana.

Nampaknya, judul Minari tepat untuk merepresentasikan keseluruhan isi yang disuguhkan oleh sang film. Terlepas dari kehidupan dalam rentang waktu yang lama di Amerika Serikat, Jacob dan keluarga terus mempertahankan identitas mereka sebagai orang berkebangsaan Korea Selatan. Mereka pun terlihat mencoba untuk hidup berdampingan dengan kedua budaya tersebut.


Rekonsiliasi antar dua budaya


Kebudayaan dan kebiasaan orang Amerika Serikat dan Korea Selatan memiliki jurang perbedaan yang cukup dalam. Hal tersebut tentu memengaruhi sikap, pemikiran, serta cara pandang seseorang. Oleh karena itu, film bergenre drama ini menyuguhkan dinamika keluarga yang terperangkap akan budaya negara Timur dengan negara Barat. Perbedaan budaya tersebut tidak hanya dijumpai antara keluarga Jacob dan warga Amerika asli, namun juga muncul di dalam keluarga itu sendiri.

Soonja (mertua Jacob), yang sebelumnya tinggal di Korea Selatan, diminta Jacob untuk menemani sang istri. Namun, seperti yang diketahui, Jacob, Monica, David, dan Anne sudah lama tinggal di Amerika Serikat. Oleh karena itu, tentu terjadi sebuah bentrokan budaya di antaranya, khususnya antara David dan Soonja.

Dalam trailer film tersebut, Anda dapat melihat David yang merasa bahwa Soonja tidak merepresentasikan sosok nenek yang ia ketahui, yaitu sosok nenek yang khas dikenal dalam budaya Barat, seperti mampu membaca, membuat kue, dan memiliki watak lembut. Soonja pun kerap memperkenalkan David dengan warisan budaya Korea Selatan, negara yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Namun David enggan mempelajarinya dan memilih menjadi “anak Amerika Serikat”. Walaupun memiliki situasi yang sama dengan David, ayah dan ibunya lebih dapat memahami perbedaan budaya yang tercipta, mengingat umur David yang masih belia sehingga sulit untuk beradaptasi dan memahami segala hal tersebut.



Stereotip yang tak terhindarkan



Tidaklah asing mendengar istilah ‘stereotip’ dalam cerita yang bersentuhan dengan kebudayaan. Stereotip pun beragam, dapat dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Kondisi tersebut tercermin dalam film Minari. Kepindahan keluarga kecil tersebut ke Arkansas memang disambut dengan cukup baik oleh warga di sana. Namun berbagai stereotip tidak dapat terhindarkan untuk dilontarkan oleh mereka. Walaupun begitu, beberapa di antaranya adalah bentuk dari ketidaksengajaan, di mana mereka sepenuhnya tidak menyadarinya atau sekadar ingin mengenal lebih baik keluarga Jacob.



Kepercayaan dan dinamika sebuah keluarga

Foto: Courtesy of Bazaar UK

Ikatan keluarga menjadi salah satu poin yang ditonjolkan dalam film Minari. Nampaknya, Lee Isaac Chung ingin menunjukkan dan memasukkan nilai bahwa keluarga adalah segalanya dan berperan penting dalam kehidupan tiap anggotanya. Dinamika keluarga Jacob berhasil digambarkan dengan sangat, mulai dari senang, sedih, tawa, hingga sulit bersama-sama.

Dalam film tersebut, tiap anggota keluarga berusaha menopang dan mengisi kekosongan satu sama lain. Namun, tentu, semua itu dilalui dengan berbagai “drama”. Monica pun berperan penting dalam hal tersebut. Sejak awal, ia meragukan keputusan sang suami dan khawatir jika nantinya anak-anaknya terdampak akan kesalahan pilihan yang dibuatnya. Ketika Jacob mulai menunjukkan keputusasaan terhadap ladang impiannya, Monica semakin frustasi dan ingin menumpahkan segala konsekuensi kepada sang suami.

Namun, dalam keadaan tersebut, Soonja hadir untuk menenangkannya. Ia mencoba mengobati kerinduan anaknya terhadap negara asalnya dengan menyuguhkan citarasa dan aroma makanan yang mampu membawa kenangan bahagia Monica.

Hubungan Jacob dan Monica yang memburuk pun dirasakan oleh kedua anaknya, David dan Anne. Tidak sanggup akan keretakan orang tuanya, mereka pun mencari cara untuk meredakan ketegangan tersebut. Salah satunya adalah dengan menerbangkan kertas bertuliskan “Jangan bertengkar!”.

Namun, di balik drama tersebut, mereka mampu menguatkan satu sama lain, khususnya ketika keadaan semakin sulit. Nampaknya, segala kesukaran tersebut mampu mendekatkan mereka dan membuat mereka paham akan pentingnya peran dan kehadiran keluarga dalam hidup mereka, yang mana hal tersebut sangat kental dalam budaya Timur.


(Penulis: Fatimah Mardiyah; Foto: Courtesy of Instagram dan Bazaar UK)