Memasuki tahun yang baru, kita kerap mengaitkan pertumbuhan dengan resolusi besar, pencapaian baru, dan daftar target yang semakin ambisius. Padahal, pertumbuhan tidak selalu datang dalam bentuk penambahan. Terkadang ia hadir secara diam-diam melalui keberanian untuk melepaskan.
BACA JUGA:Melepaskan dan Memaafkan: Kunci Tenang Tidur Malam
Melepaskan keyakinan lama, kebiasaan yang sudah usang, dan versi diri yang tidak lagi selaras dengan siapa kita hari ini. Setelah melalui 365 hari perjalanan, rasanya mustahil jika tidak ada perubahan kebutuhan dalam diri. Hidup adalah perubahan itu sendiri. Maka mengakui bahwa ada bagian dari diri yang sudah tidak sesuai adalah bentuk kejujuran pertama.
Kita hidup dalam budaya yang merayakan pembelajaran tanpa henti. Menjadi lebih cepat, bekerja lebih keras, semakin mandiri, semakin sempurna. Namun jarang kita memberi perhatian pada proses yang sama pentingnya, yaitu unlearning. Menyadari bahwa sesuatu yang dulu membantu kita bertahan, kini justru menahan kita untuk berkembang.
Sebelum gelas diisi, ia perlu dikosongkan.
Bagi sebagian orang yang perlu dilepaskan adalah kemandirian yang berlebihan. Identitas sebagai pribadi yang kuat, rapi, dan tidak merepotkan siapa pun. Sulit membuka hati, sulit memberi ruang bagi orang lain untuk masuk. Dulu, sikap itu mungkin terasa seperti kedewasaan dan kekuatan. Pada fase tertentu, memang demikian adanya.
Namun waktu selalu mengajak kita berevolusi. Ada momen ketika muncul pertanyaan yang tenang tetapi mengguncang. Apakah ini masih tentang menjadi kuat atau sekadar tentang takut terluka?
Dalam psikologi, momen seperti ini disebut disorienting dilemma, sebuah situasi di manaketika realitas baru membuat keyakinan lama terasa tidak lagi pas. Di titik itulah proses melepaskan dimulai. Melepaskan gagasan bahwa mencintai diri berarti tidak membutuhkan siapa pun. Bahwa membuka hati selalu berakhir pada kehilangan. Bahwa menjadi dewasa artinya selalu mampu menahan dan menyembunyikan perasaan.
Jika dulu menjadi kuat adalah cara untuk bertahan, kini mungkin yang dibutuhkan adalah keberanian untuk merasakan. Self-love bukan tentang menutup diri dari rasa sakit, melainkan memberi izin pada diri untuk merasakan sepenuhnya, termasuk rindu, harap, dan kerentanan. Cinta diri adalah kesadaran bahwa kita layak dicintai dan layak menerima cinta.
Dari unlearning, proses relearning pun berjalan. Belajar membangun kedekatan tanpa kehilangan identitas. Membiarkan orang lain hadir tanpa merasa harus mengorbankan diri. Memahami bahwa ketergantungan yang sehat bukan lawan dari kemandirian, melainkan bagian dari kedewasaan emosional.
Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai neuroplasticity, yaitu kapasitas otak untuk membentuk pola baru. Dalam praktiknya, ia hadir melalui keputusan kecil yang konsisten. Mengatakan jujur saat lelah, menerima bantuan tanpa rasa bersalah, dan membuka ruang berkembang alih-alih membangun tembok.
Pada akhirnya, pertumbuhan bukan tentang menjadi versi diri yang lebih hebat, melainkan lebih jujur. Carl Rogers menyebutnya sebagai congruence, kondisi ketika apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan berada dalam keselarasan. Tidak ada jarak antara citra dan isi hati.
Menjadi diri sendiri bukan tujuan yang statis, tetapi perjalanan yang terus bergerak. Ia menuntut keberanian untuk terus menyunting hidup. Bukan karena versi lama salah, melainkan karena kita telah bertumbuh darinya.
Tahun yang baru pun membawa gairah yang berbeda. Bukan gairah yang terburu-buru, melainkan yang lebih tenang dan penuh niat. Gairah untuk hidup dengan kesadaran. Untuk mencintai dengan keberanian. Untuk hadir tanpa tuntutan kesempurnaan.
Proses ini tidak selalu nyaman. Tidak semua keterbukaan akan berakhir indah. Namun ada kelegaan yang tidak tergantikan ketika kita berhenti bersembunyi dari diri sendiri dan memilih hidup dari kejujuran.
Mungkin itulah semangat yang paling relevan untuk membuka tahun yang baru. Bukan menjadi lebih keras, melainkan lebih lembut. Bukan berjanji untuk tidak terluka, melainkan berani tetap membuka hati.
Karena sering kali, langkah paling berani bukanlah melangkah lebih jauh, tetapi melangkah lebih jujur. Dari kejujuran itulah, versi diri yang lebih hidup, lebih hangat, dan lebih selaras akan menemukan jalannya.
BACA JUGA:
Merayakan Kesehatan dan Self-Love Lewat #MengurusDiri
Memaknai Slow Living di Tengah Kilatnya Kehidupan