Mengenal Desainer Indonesia: Didi Budiardjo

Talentanya dalam menciptakan karya-karya yang indah untuk wanita Indonesia mengantarkannya menjadi salah satu desainer terbaik di Tanah Air.

Foto: Kay Moreno untuk Harper's Bazaa Indonesia; Stylist: Michael Pondaag


Nama Didi Budiardjo dan gaun-gaun feminin berstruktur apik yang indah tidak akan pernah dapat dipisahkan. Hal itu dikarenakan sudah lebih dari 25 tahun lamanya seorang Didi Budiardjo bergelut di industri mode dan berkontribusi dalam mempercantik penampilan para wanita di Indonesia melalui karya-karyanya yang apik.

Talentanya dalam menciptakan struktur pada gaun, beading, serta embroidery yang rumit bukanlah sebuah talenta yang mudah dicapai oleh banyak orang. Hal itulah yang kemudian mengantarnya menjadi salah satu desainer gaun terbaik di Tanah Air hingga sekarang dan membuatnya tetap dikagumi oleh generasi ke generasi.



Didi Budiardjo telah memilih untuk mendalami dunia mode sejak dirinya baru saja menyelesaikan pendidikan SMA, di mana keputusannya itu bukanlah hal umum yang dilakukan orang pada zamannya.

Hal itulah yang mengantarnya untuk mengenyam pendidikan mode di Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo dan di Atelier Fleuri Delaporte, Paris.

Melalui sebuah wawancara dengan Bazaar di tahun 2013, Didi menjelaskan bahwa Ia terinspirasi dengan desainer Jepang Yohji Yamamoto dan Kenzo Takada yang pada saat itu sukses di Paris saat memutuskan kota Paris sebagai tempat studi modenya di tahun 1991.

Sekembalinya ke Indonesia, tepatnya di tahun 1996, Didi pun meluncurkan label couture yang Ia namakan "Didi Budiardjo". Sejak awal mendirikan label Didi Budiardjo, ia telah menjadikan gaun malam dan gaun pernikahan sebagai fokusnya dan telah mengadopsi aliran gaya feminin ala Parisian yang anggun ke desain-desainnya di masa itu.



Bentuk Didi dalam menciptakan busana yang terinspirasi dari gaya Parisian, ia representasikan dengan koleksi gaun-gaun yang dibuat dengan siluet klasik penuh keanggunan, dan kemudian dikombinasikan dengan unsur glamor yang melekat di desain-desainnya hingga sekarang.

Namun layaknya desainer-desainer lain, perjalanannya hingga dapat menemukan estetikanya yang kemudian menjadi ciri khasnya hingga sekarang tidak langsung ditemukannya begitu saja.

Sebelum memutuskan untuk mendirikan label Didi Budiardjo, Didi telah terlebih dahulu mendirikan sebuah label pakaian ready-to-wear beraliran avant garde yang bertajuk Anonymous. Namun kemudian, Ia memutuskan untuk berfokus di busana couture beraliran klasik yang menjadi titik balik di langkahnya untuk menciptakan label Didi Budiardjo.




Ada dua hal yang dapat ditemukan di hampir setiap gaun rancangan seorang Didi Budiardjo yaitu aplikasi beading dan bordir. Kegemarannya dalam menaburkan kristal di atas desain-desainnya itu kemudian dianggap sebagai ciri khas dari karya lansiran Didi.

Nyatanya, ada sebuah cerita di balik kegemarannya menaburi kristal dan bordir di gaun rancangannya. Sulitnya menemukan kain berkualitas tinggi yang eksklusif saat merancang sebuah gaun, membuatnya harus memutar otak agar kain terbaik yang bisa ia peroleh tampak berbeda dari yang lain.

Caranya dalam mengombinasikan bordir dan kristal yang juga meningkatkan nuansa glamor di gaun rancangannya itulah yang kemudian sukses membuat bahan-bahan yang ia gunakan menjadi spesial dan tiada duanya.




Meskipun Ia mengubah sisi estetika rancangannya ke gaun-gaun klasik ala Parisian di label eponimnya, hal itu tidak membuatnya meninggalkan sisi avant garde yang menjadi fokusnya di label buatannya sebelumnya.

Didi tetap berinovasi dan mengaplikasikan unsur avant garde di beberapa karyanya dengan menggabungkan sisi avant garde dengan sisi klasik nan anggun.

Cara itu dilakukan seorang Didi beriringan dengan gambarannya tentang tipe wanita yang menurutnya pantas mengenakan rancangannya seperti yang ia pernah ceritakan kepada Bazaar, "Mereka adalah wanita yang menghargai kualitas serta memiliki semangat untuk mencoba hal yang baru," ujar Didi.



Untuk menjadi seorang desainer yang tetap berjaya hingga sekarang bukanlah hal yang mudah. Namun hal itu telah dicapai Didi Budiardjo hingga sekarang yang membuatnya menjadi salah satu desainer gaun malam terbaik.

Perjalanannya untuk seperti sekarang bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan atensi yang mendalam terhadap detail-detail terkecil agar dapat menelurkan karya adibusana yang apik.

Mengutip dari wawancaranya dengan Bazaar, "Couture is about design and quality. Mulai dari bahan, teknik sampai desain. Ketika menyebut diri sebagai desainer couture, maka harus ada tanggung jawab penuh. Contohnya, seseorang itu harus belajar piano klasik dulu baru memainkan musik jazz. Jangan sampai jadi kacau," ujar Didi Budiardjo saat mengemukakan pandangannya terhadap seni menciptakan couture.



Tidak ada hal yang bisa tetap relevan tanpa terus menerus melakukan inovasi tiada henti. Hal itu dibuktikan dengan cara Didi yang tidak terlena dengan posisinya sebagai salah satu desainer terbaik di Indonesia dengan terus menciptakan inovasi baru.

Salah satu inovasi yang dilakukan olehnya adalah dengan menyambut kemajuan teknologi yang semakin maju di zaman sekarang. Didi pun menggunakan teknologi sebagai medium yang berguna bagi banyak orang dengan melakukan live streaming pergelaran busananya sejak tahun 2012. Hal itu yang membuat seorang Didi Budiardjo menjadi desainer pertama Tanah Air yang menampilkan pertunjukan busananya melalui fitur live streaming.

Langkahnya untuk menampilkan fashion show dengan live streaming sukses membukakan kesempatan untuk banyak orang agar dapat melihat karya-karyanya yang ciamik dan menginspirasi siapa pun yang menyaksikan.

Walau Didi menghilangkan label eksklusivitas di panggungnya, Ia tetap menganut nilai ekslusivitas melalui karyanya di label Didi Budiardjo tempat ia tidak akan pernah membuat gaun yang sama dan akan selalu memberikan sentuhan eksklusif berbeda di setiap rancangannya.


(Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia)