Telusuri Perilaku Para Penggemar Jam Tangan

Bazaar melakukan analisis preferensi para penggemar jam tangan.

Courtesy of SEREZNIY©123RF.COM


Di tengah era yang semakin digital, jam tangan tradisional tampaknya mulai tersisihkan oleh perangkat elektronik canggih yang menawarkan beragam fitur, mulai dari pemantauan detak jantung hingga dukungan penuh untuk beragam aktivitas olahraga.

BACA JUGA: Cara Merawat Jam Tangan dan Menjaga Kinerja Kerjanya

Namun, adakah kebenaran pada klaim-klaim tersebut? Untuk menyelami hal ini lebih dalam, Bazaar melakukan survei yang disebarkan melalui akun Instagram resmi kami, @bazaarindonesia.

Hasil yang kami peroleh ternyata sangat menarik, simak lengkapnya dibawah!

Kesimpulan 1: Jam tangan manual lebih tinggi daripada jam tangan otomatis

Mengejutkan, sebanyak 64% dari responden menyatakan lebih cenderung memilih jam tangan manual, sementara sebanyak 36% memilih model otomatis.

4 Faktor paling penting saat memilih sebuah jam tangan:

  • Desain: 58%
  • Mekanisme & Teknologi: 38%
  • Prestise Merek: 9%
  • Faktor lainnya: 2%

Ketika ditanya tentang alasannya mengenakan jam tangan, 57% dari responden mengakui bahwa mereka memakainya semata-mata sebagai kebutuhan, sementara 43% sisanya menunjukkan kegemaran mereka terhadap jam tangan, yang akhirnya menjadi inspirasi untuk mengoleksinya.

Kesimpulan 2: Smartwatch tidak akan menggeser kedudukan jam tangan konvensional

Ternyata, mayoritas responden, yakni 90%, masih memilih jam tangan konvensional sebagai koleksi jam tangan pilihan mereka.

Beragam alasan yang memotivasi Anda untuk mengoleksi jam tangan mewah:

  • 39% - Menjadi warisan keluarga yang turun-temurun
  • 27% - Terinspirasi oleh teman, duta merek, dan selebriti yang dikagumi
  • 26% - Dilihat sebagai investasi jangka panjang yang bernilai
  • 9% - Alasan Lainnya

Saat pertama kali bertemu dengan sebuah jam tangan, hampir setengah dari responden, atau lebih tepatnya 49%, mengakui bahwa mereka langsung memusatkan perhatian pada dial jam, sementara 35% lainnya lebih memilih bezel sebagai titik fokus. Sebagian kecil, sekitar 14%, justru lebih terpukau oleh tali jam tangan, dan sisanya, sebanyak 2%, memilih komponen lainnya.

Dalam era yang didominasi oleh inovasi digital, terlihat jelas bahwa pesona jam tangan konvensional tetap utuh. Kesensasian saat menggulung jam, desain abadi, dan ikatan emosional yang melekat pada setiap potongan jam tersebut merupakan aspek yang sangat dihargai oleh banyak pihak.

Sementara alternatif elektronik mungkin menawarkan fitur canggih, mereka belum mampu mengalahkan daya tarik yang dimiliki oleh jam tangan klasik. Semangat koleksi jam tangan mewah tetap berkobar, didorong oleh berbagai faktor, mulai dari warisan keluarga hingga pengaruh lingkungan sosial serta potensi investasi jangka panjang.

Di dunia horologi, pikiran para penggemar jam tangan adalah sebuah ranah di mana tradisi dan inovasi berdampingan, membuat pilihan antara jam tangan konvensional dan elektronik menjadi soal preferensi pribadi dan sentimen yang mendalam.

BACA JUGA:
Jam Tangan Penyimpan Energi Cahaya dari IWC Schaffhausen
Melihat Kilau Warna-Warni Kemewahan Jam Tangan Hublot Big Bang Unico High Jewellery

(Penulis: Riza Arya; Foto: Courtesy of Jaeger-LeCoultre, Rolex, Panerai)

Artikel orisinal ini muncul di Harper's Bazaar Indonesia 2023, edisi Juni/Juli. Ditulis oleh Janice Mae, Digital Writer Harper's Bazaar Indonesia.