Zoom Fatigue Pada Anak Itu Nyata, Pelajari Cara Mengatasinya

Sebagian besar usaha harus mulai dari Anda, sebagai orang tuanya.

Courtesy of Instaphotos©123rf


Tidak seperti yang Anda bayangkan, ternyata anak-anak pun merasa lelah saat berhadapan dengan layar terus menerus. Namun, bukankah mereka menginginkan screen time yang tidak terbatas? Well, not like this.

Datangnya pandemi memberikan pelajaran yang selama ini sering disangkal oleh manusia, yaitu dampak dari teknologi. Setelah memahami pemicu dan juga cara pintar menghadapi Zoom fatigue pada orang dewasa, kali ini Bazaar mengajak Anda untuk melihatnya dari sisi sang buah hati.

Pertemuan virtual sudah menjadi norma baru di mana-mana, mulai dari tempat kerja, bermain, hingga sekolah. Tidak ada yang dikecualikan dari keadaan ini, oleh karena itu langkah yang sangat penting untuk diambil pertama kali adalah menerima bahwa keadaan ini tidak dapat ditawar lagi.

Mudah untuk Anda mengenali rasa penat pada diri sendiri, tapi jangan samakan itu dengan buah hati Anda. Bertanya mengenai kondisi Zoom fatigue pada anak, Bazaar berbincang dengan beberapa narasumber terpercaya. Berbagai cara untuk Anda terapkan di rumah pun tak lupa kami tanyakan.

  1. Terapkan waktu istirahat
    “Mini breaks is very important!” ujar seorang guru bahasa dan matematika yang sebelum pandemi banyak dikenal dengan sebutan Miss Bianda. Rentang perhatian anak tersebut dapat digolongkan lewat usia. Semakin kecil umurnya, semakin pendek juga attention span yang ia miliki.

    Normalnya, rentang perhatian anak adalah 3 hingga 5 menit per tahun sesuai usia anak. Anak berumur dua tahun dapat berkonsentrasi pada tugas tertentu setidaknya selama enam menit, dan untuk yang duduk di bangku kindergarten setidaknya selama 15 menit. Harus diingat bahwa attention span seorang anak saat menonton televisi bukanlah ukuran yang akurat.

    Meski sempat merasakan takut, sebagai seorang guru, Bianda ingin memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Cara yang sering ia lakukan apabila muridnya mulai kehilangan fokus adalah lakukan aktivitas lain, seperti menonton video. Bukan sembarang video, namun video dengan visual menarik, mendidik, dan berhubungan dengan bahan pelajaran.

    Lakukan ini: Saat istirahat, jauhkan anak Anda dari layar laptop, komputer, hingga smartphone sekalipun. Lakukan aktivitas yang menggunakan seluruh tubuh Anda agar merasa lebih segar.

  2. Ketahui kemampuan anak Anda
    Tidak bisa dipukul rata, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu penting adanya untuk setiap orang tua mengetahui kemampuan anak-anaknya

    Seperti yang dialami oleh Ernest Prakasa. Putra keduanya, Snow Auror Arashi berhenti belajar secara daring. Memiliki sisi humor yang tinggi, sang sutradara juga menulis caption yang realistis tentang situasi tersebut. Meski keadaan memaksa sekolah dijalankan secara daring, Ernest melihat bahwa ia tidak dapat memaksakan keinginannya pada Snow. Menurut seorang psikolog yang fokus pada perkembangan anak, Dr. Lori Baudino, berpendapat bahwa sulit bagi anak-anak untuk mengontrol sistem virtual yang baru ini. Dari penelitiannya, banyak murid yang menjalani school from home ini tidak sepenuhnya fokus pada layar.

    Lakukan ini: Seperti Ernest, ia merasa rugi telah membayar uang sekolah dalam tarif normal namun tidak mendapatkan edukasi yang anaknya butuhkan. Ada dua cara, yaitu Anda dapat mencari guru tutor sebagai pengganti sekolah wajib setiap hari, atau Anda bisa buat kegiatan, bahkan kurikulum sendiri.

  3. Diskusikan jadwal Anda dan si kecil
    Ambil secarik kertas, lalu tulis kegiatan Anda dan juga anak Anda. Ingat bahwa Anda juga dapat merasakan burn out dari situasi Zoom fatigue anak Anda. Luangkan waktu yang cukup untuk anak Anda dan juga diri sendiri.

    Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga tidak menyanggupi jika harus hadir secara virtual setiap hari. Jangan lupa bahwa diskusi dengan anak juga memberikan mereka apresiasi terhadap waktu tersebut.

    Lakukan ini: Diskusikan kepada anak hal-hal seperti apa yang mereka inginkan. Beberapa di antaranya adalah apakah mereka memilih belajar selama 4 hari dengan durasi yang panjang, atau lima hari dengan jam yang lebih pendek?

  4. Prepare a good learning environment
    Belajar secara online bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Salah satu manfaatnya adalah anak Anda dapat menciptakan ruangan sendiri di mana ia akan mencoba memberikan fokus yang penuh saat sesi belajar.

    Banyak sekali yang dapat Anda lakukan guna menciptakan ruangan yang nyaman untuk mereka belajar. Pilih tempat duduk dan meja yang sesuai dengan ukuran tubuh anak Anda, dan dekatkan mejanya dengan sumber cahaya dari luar.

    Lakukan ini: Semakin besar layar yang digunakan anak Anda untuk belajar, semakin mudah untuk mereka memusatkan perhatian. Jadi, hindari belajar dengan smartphone, tablet, hingga laptop. Pilihan terbaik adalah komputer dengan layar yang lebar. Jangan lupa untuk menempatkan ini sejajar dengan eye level mereka, ya!

  5. Jangan lupa ini adalah situasi yang baru untuk semua manusia
    Selalu ingat bahwa situasi ini akan lebih sulit bagi anak-anak daripada orang dewasa. Mereka terbiasa dengan social interaction, dan suatu ketika mereka harus melakukannya secara digital.



    Lakukan ini: Jika anak Anda terlihat tidak semangat untuk menghadiri sesi belajar virtual, maka jangan dipaksa. Pahami perasaan mereka, dan ajaklah mereka untuk melakukan aktivitas lain.

Sebenarnya, semua poin di atas juga dapat Anda aplikasikan pada diri sendiri. Sebagai orang tua, jangan merasa sendiri dalam hal ini, banyak orang tua di luar sana yang merasakan hal serupa dengan Anda. Begitu juga dengan anak Anda, jangan biarkan mereka merasa sendiri, dan jauh dari teman-temannya karena situasi ini.

Jadikan ini kesempatan Anda untuk memperkenalkan ke anak-anak Anda bahwa banyak yang menarik di dunia ini selain televisi, handphone, dan laptop. Ada satu hal yang tidak pernah salah menjadi penawar Zoom fatigue, untuk anak-anak maupun dewasa, ialah alam semesta.

BACA JUGA: Kenali Pemicu Zoom Fatigue dan Cara Pintar Menghadapinya

(Portofolio ini: Fotografer: Rakhmat Hidayat; Editor fashion: Chekka Riesca; Keseluruhan busana: Petit Bateau; Makeup & hair: Felita Thea; Model: Luna Allegra Kurtz, Vallrain, Vincent, Troy (Omi Agency), Kimiki Hana Jakile; Digital imaging: Veby Citra)