Ini Tips Bijak Gunakan Sosial Media, Salah Satunya Jaga Privasi Anda!

"Menurut gue tombol ‘likes’ di sosial media sangat menarik, dan likes itu seperti narkoba. Jadi begitu adiktifnya, dan siapa sih yang tidak suka di likes?", ujar Marissa Anita

Brunch With Dave Hendrik


Dalam sesi Brunch With Dave Hendrik bersama dengan seorang jurnalis yang sekarang juga telah terjun ke dunia akting, Marissa Anita, Dave berbincang seputar dampak besar yang mungkin akan memengaruhi manusia sebagai akibat dari penggunaan media sosial. Sepanjang sesi Brunch With Dave Hendrik, Marissa pun berbagi tip agar dapat bijak bermain dan menggunakan sosial media agar kesehatan mental tetap dapat terjaga. Mari simak tipnya di bawah ini:

1. Bijak tentukan tujuan menggunakan sosial media

Tahu tujuan Anda menggunakan media sosial adalah hal utama dan mendasar yang perlu Anda pertanyakan pada diri Anda sendiri terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun dan “candu” pada dunia media sosial. Memang sebenarnya tidak ada salahnya jika Anda gemar bermain dan menjelajah di dunia maya terutama jika Anda adalah seseorang yang baru membuka usaha dan ingin mengembangkan usaha tersebut atau ingin megembangkan personal branding.

How do you respond kepada beberapa komen teman-teman yang masuk di kolom komentar, kalau teman-teman yang perlu membesarkan, mengembangkan personal brand, mereka kan merasa ‘tools’ untuk itu semua kan adalah sosial media, what do you think?” tanya Dave.

That’s okay, thanks okay. Again, gue balik ke yang tadi, selama kita yang menggunakan teknologi tidak apa-apa, jangan sampai teknologi yang menggunakan kita. Misalnya adik gue ya dia juga baru buka bisnis makanan, dia jual kateringnya lewat sosial media. Ya tidak apa-apa toh elo dapat keuntungan dari itu. You actually received a personal gain, apakah itu financial gain, ya tidak apa-apa. Jadi intinya yang harus kita kuatkan adalah awareness kita terhadap apa yang kita rasakan.” jelas Marissa

2. Kenali karakter dan seberapa kuat Anda dapat bertahan melawan berbagai sisi negatif yang mungkin muncul dan memengaruhi kesehatan mental

Tahu kekuatan dan kelemahan diri terutama jika harus diperhadapkan pada sisi gelap dari media sosial adalah suatu hal yang penting. Marissa pun mengibaratkan media sosial sebagai sebuah narkoba.

“Misalnya seperti gue, banyak orang bertanya, ‘Mbak, tidak tertarik lagi untuk balik ke Instagram?”, menurut gue enggak, karena gue aware kekurangan gue ada di mana, menurut gue tuh ‘likes’ sangat menarik, likes itu seperti narkoba. Jadi begitu adiktifnya, siapa sih yang tidak suka di likes? Oh, kalau misalnya berapa ribu gitu, elo kan jadi encourage untuk posting, posting, dan posting, akhirnya elo buang waktu. Nah, karena gue tahu likes itu seperti narkoba buat gue, dan ketika Instagram kan elo mesti posting foto, dan misalnya elo posting dan likes-nya tidak banyak, berarti elo akan berpikir there’s something with me ya? Ada yang salah di muka gue? What’s wrong? I don’t need that. God, seriously Dave, life in general sudah full of struggle. Ngapain gue nambah-nambahin hal yang sebetulnya tidak penting untuk mental gue juga. Makanya gue sampai sekarang orang bilang kuat ya tidak balik lagi ke IG. Of course, because it’s not good for my mental health. Tapi kalau untuk bisnis, sure go ahead. Tapi kita kan cuman manusia ya, we are only human, kita pasti affected apakah skalanya 1 atau skalanya 10. Nah, kita harus cari tahu sendiri nih, gue affected-nya sebesar apa ya, kalau gue udah merasa terganggu mentalnya, mendingan gue mundur. Puasa! Puasa dulu deh 3 bulan, setelah gue puasa gue akan rethink my relationship with social media.”

3. Ingat, bahwa apa yang Anda unggah di media sosial tidak akan pernah hilang selamanya.

Perlu Anda ingat bahwa semua hal yang Anda unggah di dunia maya akan selamanya ada dan tidak akan pernah lenyap mungkin sekalipun Anda sudah menekan tombol “delete”. Oleh sebab itu, Anda sebagai pengguna media sosial perlu mempertimbangkan secara matang-matang sebelum membagikan privasi ada kepada masyarakat digital.

I cherished the idea of privacy a lot. Bahwa privasi itu bukan untuk diumbar-umbar. Sederhananya gini aja deh Dave, elo pasti pernah nemuin beberapa kali di sosial media misalnya hubungan percintaan itu diumbar-umbar. Terus tidak lama cerai, atau tiba-tiba domestic violence. Jadi ya menurut gue jangan taru sesuatu yang ada kemungkinannya menjadi tidak permanen. Relationship it can break, it can stay, tapi kalau misalkan kalian sudah taruh itu di luar sana, itu akan selamanya di luar sana. Kita belum ada policy atau kebijakan ‘the right to be forgotten’. Kalau di Europe atau di mana gitu sudah ada kebijakan itu di mana elo punya hak untuk postingan itu tadi bisa dihapus dari internet dan tidak lagi menjadi sejarah. So di Indonesia belum ada, Undang-Undang kita masih dalam proses perjalanan yang panjang,” bagi Marissa.

Merangkum semua tip dari perbincangannya dengan Dave Hendrik ia pun berpesan. “Intinya stop, observe what’s going on, dan cari jeda! Itu penting banget deh untuk stop dan going back to yourself is very very fast era,” tutup Marissa.

Nantikan berbincangan lengkap Dave Hendrik bersama Marissa Anita di seri Brunch With Dave Hendrik yang akan tayang di kanal YouTube Harper's Bazaar Indonesia segera!

Baca juga:

Alasan Marissa Anita Tak Memiliki Akun Media Sosial dan Kenikmatan yang Ia Miliki Sekarang

(Foto:Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia)