Kenali Pemicu Zoom Fatigue dan Cara Pintar Menghadapinya

Pahami penyebabnya, dan hadapi bentuk letih yang muncul serentak dengan pandemi tahun ini.

Ilustrasi oleh Tatiana Romanova for Harper's Bazaar Indonesia


Tahun 2020 sudah hampir habis, namun kita masih dipenuhi dengan ketakutan akan terpapar virus Covid-19. Mari kita putar sejenak waktu untuk mengingat perasaan Anda saat pertama kali bekerja dari rumah, atau work from home (WFH). Masih sama rasanya dengan hari ini? Bazaar yakin banyak dari Anda yang menggelengkan kepala.

Meski WFH pernah menjadi hal baru yang Anda sambut dengan antusias, kini hari-hari tersebut terasa lebih panjang. Tidak hanya berlaku untuk para pekerja kantoran, aktivitas yang serupa dengan online meeting ini juga diterapkan di berbagai bidang lain sebagai survival mode. Meski mempermudah segala jenis komunikasi, teknologi juga mendatangkan sebuah fenomena populer dengan sebutan Zoom fatigue yang mengacu pada aplikasi konferensi video yang banyak digunakan saat ini.

Meski selalu disambungkan dengan kecanggihan teknologi, bukan berarti ini adalah hal yang mudah untuk dijalankan. Rutinitas yang kerap kali diisi dengan menatap layar ini tak henti menguras energi. Setelah berbulan-bulan WFH banyak dari Anda yang mengaku merasakan lelah lain dari yang biasanya. Tidak dapat disalahkan pada siapa atau apa pun, ada berbagai macam faktor yang berkontribusi di balik kepenatan ini.

Mari pahami penyebab munculnya Zoom fatigue, dan juga cara pintar menghadapinya.

  1. Kehilang indikasi teman bicara
    Body language adalah salah satu hal yang Anda perhatikan ketika berbincang langsung dengan orang lain. Selain meningkatkan kualitas komunikasi, body language juga menjadi indikasi penting saat bertukar pikiran. Nah, hal tersebut tidak Anda dapatkan ketika pertemuan terjadi secara virtual. Tanpa disadari ini menambah beban pada otak Anda untuk bekerja lebih keras lagi guna mencari pengganti yang bisa dijadikan petunjuk.

    Try this: Berkomunikasi dengan jelas. Jika Anda salah satu introvert yang biasanya bertanya seusai meeting, jadikan ini kesempatan Anda untuk mengasah kemahiran berkomunikasi. Apabila Anda tidak ingin menginterupsi, maka catatlah pertanyaan terlebih dahulu, lalu tanyakan di ujung sesi.

  2. Voice-only meeting
    Pilihan gallery view adalah opsi layout yang paling sering digunakan. Meski dapat mengetahui siapa partisipan lainnya, gallery view juga membuat fokus Anda terpecah dengan memperhatikan hal lain selain yang sedang berbicara di momen tertentu. Ini disebut dengan Continuous Partial Attention (CPA). Singkatnya, CPA adalah sebuah upaya yang tubuh Anda lakukan untuk tidak melewatkan informasi apapun. Jarang disadari bahwa ini CPA adalah situasi yang mengirimkan pesan distress ke badan Anda. Orang yang merasakan CPA dapat merasa terlalu terstimulasi, sehingga sulit untuk menjadi kreatif, mengambil keputusan, dan merasa puas. Jika terjadi terus menerus, CPA akan menjadi sumber tekanan pada hidup Anda.

    Try this: Untuk menghindari split-focus yang membuat Anda merasa terkuras, ajukan saran untuk mengadakan meeting dengan pilihan voice only. Selain meminimalkan faktor penyebab fokus Anda terbagi, ini juga membantu saraf di bagian mata Anda untuk istirahat.

  3. Multitasking is a myth!
    Apakah Anda termasuk orang yang mampu multitask? Jika jawabannya adalah bisa, maka selamat. Namun untuk kepentingan kinerja kerja Anda, coba kurangi hal ini, karena hasil sebuah penelitian membuktikan bahwa multitasking itu berpengaruh pada kinerja Anda. Sebuah riset di Stanford University menunjukkan bahwa setiap pekerjaan membutuhkan bagian-bagian tertentu dari otak Anda, dan beralih antar tugas dalam satu waktu saja dapat menghabiskan waktu produktif Anda sebanyak 40 persen. Terbayang kan jika Anda mengerjakan lebih dari satu hal? Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang sering multitask memiliki daya ingat yang lemah dibandingkan dengan mereka yang fokus dengan satu hal.

    Try this: Ketika sudah mendekati jadwal meeting, tutup semua aplikasi yang dapat mengganggu konsentrasi Anda. Bukan hanya komputer atau laptop, ini juga berlaku pada smartphone Anda! Untuk kebaikan diri sendiri, usahakan untuk tetap ‘hadir’ dalam aktivitas virtual ini. Pesan WhatsApp yang baru masuk di handphone Anda bisa menunggu.

  4. Rutin rehat
    Video sudah menjadi bagian dari new normal. Banyak orang yang sudah terbiasa dengan video call dan video conference. Meski demikian, Anda tidak boleh mengabaikan fakta bahwa video juga menjadi sumber pemicu stres. Riset menunjukkan bahwa Anda dapat menerima informasi lebih baik tanpa menatap layar terus menerus. Bukan berarti Anda dapat melakukan hal lainnya, ya!

    Try this: Ketahui batasan diri Anda untuk menatap layar. Jika sudah, terapkan formula yang manjur. Contohnya, hindari duduk depan layar sebelum semua partisipan masuk dan meeting dimulai. Menurut seorang konsultan mata yang fokus di departemen glaucoma di Singapore National Eye Centre, Dr Tan Yar Li, untuk mengurangi ketegangan pada saraf mata, Anda dapat menatap pemandangan asri di luar rumah selama 30 detik setiap 30 menit.

  5. Kehilangan waktu transisi
    Dikutip dari sebuah video wawancara, Dian Sastrowardoyo mengaku betapa pentingnya masa transisi. Yang dimaksud dengan transisi adalah Dian sebagai seorang ibu rumah tangga menjadi Dian seorang entrepreneur. Biasanya itu berlangsung saat ia meninggalkan rumah lalu duduk di dalam mobil, hingga tiba di kantor. Dengan bekerja di rumah momen itu menjadi lebih pendek dan instan. Yang biasanya terjadi dalam waktu satu jam, kini dalam hitungan menit. It’s exhausting, we know.

    Try this:
    Langkah awal adalah hindari bekerja dari kamar tidur, karena godaan untuk berbaring di atas kasur pasti sangat besar. Jika memungkinkan, Anda bisa membangun ritual baru, seperti lakukan olahraga singkat sebelum bekerja, atau tidak membuka laptop sebelum jam kerja. Begitu juga dengan selesai bekerja. Jalani transisi ini dengan rutin, lambat laun Anda akan lebih menghargai waktu.

  6. Be present(able)!
    Meski bekerja di rumah, bukan berarti Anda bisa tampil lusuh dengan muka bantal. Hadirilah pertemuan virtual ini sebagaimana Anda menjalaninya di kantor. Hal lain yang juga harus Anda pikirkan adalah jangan lupa untuk memberikan respons ketika ada yang melontarkan pertanyaan. Coba bayangkan jika suatu hari Anda yang menjadi juru bicara. Seluruh partisipan mematikan fitur kamera dan juga mikrofon. Apa rasanya?

    Try this: It’s nice to be nice. Jika ada kolega yang menyalakan video, tidak ada salahnya Anda melakukan hal yang sama. Berikanlah tanggapan pada pertanyaan yang dilontarkan.

Sebagai manusia kita sudah terbiasa dengan pertemuan dan percakapan secara face to face. Tidak ada buku pedoman yang memandu bagaimana cara sebuah perusahaan beroperasi dari rumah secara efektif. Namun untuk kesehatan bersama, WFH adalah satu upaya kecil yang dapat dilakukan secara bersamaan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Selain hal-hal yang sudah Bazaar jabarkan di atas, pada dasarnya seluruh partisipan dalam virtual meeting harus berkontribusi dalam menciptakan ruang kerja virtual yang kondusif bagi semua orang.

(Ilustrasi oleh Tatiana RomanovaforHarper's Bazaar Indonesia)