Pada hari Jonathan Anderson menjalani debutnya di panggung haute couture Dior, langit Paris tampak diselimuti warna abu-abu khas rumah mode tersebut. Berbeda dengan suasana itu, koleksi yang ditampilkan justru terasa segar dan kreatif, sekaligus menjadi penanda babak baru bagi Dior couture.
BACA JUGA: Alexander Skarsgård Menukar Sepatu Bot “Kinky” dengan Flip-Flop yang Menggoda
Inilah yang disebut sebagai fashion moment, sebuah peragaan yang memberi dampak nyata dan dalam hal ini, menawarkan sudut pandang baru terhadap haute couture seperti seni busana Paris yang dikerjakan sepenuhnya dengan detail craftsmanship, sehingga bisa berada di puncak hierarki mode global dan kini dilindungi secara resmi oleh hukum Prancis.
“Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan couture sampai mulai bekerja di Dior, dan dengan cepat saya menyadari bahwa couture adalah soal ide,” ujar Jonathan Anderson menjelang peragaan. Bagi dirinya dan tim, atelier couture Dior berfungsi seperti laboratorium untuk mewujudkan konsep-konsep yang sebelumnya terasa mustahil, gagasan tersebut yang kemudian dapat memengaruhi line ready-to-wear serta sampai bagaimana cara orang memandang pakaian.
Koleksi ini tidak tertuju hanya pada satu estetika atau siluet tertentu. Tidak ada gimmick khusus yang diperuntukan sebagai penanda tunggal Dior versinya, selain pendekatan berbasis ide yang diwujudkan oleh petites mains, para perajin yang mengerjakan setiap elemen busana secara manual.
“Ini tidak akan pernah menjadi satu tampilan tunggal yang bisa disebut sebagai 'Dior look’,” jelasnya. “Cara berpikir saya memang tidak seperti itu. Setiap koleksi berdiri sendiri, dan fokusnya adalah menyampaikan gagasan.”
Dengan kata lain, Jonathan Anderson memahami bahwa publik sudah sangat akrab dengan Dior melalui siluet New Look berpinggang ramping. Sejarah rumah mode ini telah banyak dibahas lewat dokumenter, pameran museum, dan berbagai publikasi, hingga menjadi bagian dari pengetahuan umum. Jonathan Anderson memiliki langkah yang berbeda, ia memilih menghadirkan pendekatan baru seperti memberi ruang untuk kejutan dan interpretasi.
Tidak ada satu pun tampilan yang terasa biasa. Sejak awal, Dior memang memiliki akar pada semangat avant-garde. New Look ciptaan Dior pada masanya merupakan gagasan yang sangat konseptual. Ia membayangkan perempuan sebagai bunga, terinspirasi oleh era Belle Époque sebelum perang, dengan siluet korset dan bustle. Gagasan ini sempat memicu perdebatan luas, bahkan aksi protes di jalanan Paris, dan kemudian dikritik oleh sebagian kalangan feminis karena dianggap menghambat gerakan pembebasan perempuan.
Saat ini, dunia mode berada di era yang sangat kompetitif, Dior sebagai rumah mode yang ikonik hampir selalu memancing beragam opini, bahkan dari mereka yang tidak terlalu mengikuti mode. Jonathan Anderson menanggapi hal ini dengan menampilkan kekuatan teknis Dior secara langsung, lewat koleksi yang berhasil menarik perhatian audiens.
Sepanjang peragaan, busana diperlakukan seperti objek tiga dimensi. Dibuka dengan tiga gaun sifon sutra berlipit tangan yang jatuh ringan mengikuti tubuh, terinspirasi oleh karya keramik Magdalene Odundo, seniman asal Kenya yang sebelumnya bekerja sama dengan Jonathan Anderson di Loewe dan kembali terlibat dalam debutnya di Dior.
Koleksi kemudian berkembang menjadi rangkaian busana yang sulit dimasukkan ke dalam satu kategori. Siluet dan drapery terlihat ringan, namun jika diamati lebih dekat, menampilkan detail yang dikerjakan dengan sangat teliti seperti bulu yang dibentuk menyerupai bunga, sutra yang tampak seperti kelopak, dan sifon yang terasa sangat ringan. Terdapat pula penggunaan tapestry asli abad ke-18 serta perhiasan dari meteorit dan cameo Romawi kuno, yang menjadi pendekatan Dior couture terhadap gagasan keberlanjutan.
Alam menjadi sumber inspirasi utama, dengan anggrek dan cyclamen eksotis yang diolah melalui keterampilan tangan para perajin. Musik Massive Attack berpadu dengan Four Seasons karya Vivaldi, diselingi suara Beth Gibbons dari Portishead. Pada satu momen, model Loli Bahia tampil membawa daun besar yang dihiasi sifon, sutra nasturtium, manik-manik, dan benang perak. Sebuah visual yang merangkum esensi haute couture.
“Couture adalah gagasan tentang sesuatu yang langka, terkurasi, dan istimewa,” ujar Jonathan Anderson. Ia juga menekankan pentingnya craft. Keterampilan yang membutuhkan waktu panjang dan kerja tangan yang teliti, seperti pernah dikatakan Yves Saint Laurent, diturunkan dari generasi ke generasi. “Ini adalah seni yang terancam punah, dan akan hilang jika tidak dijaga,” tambahnya.
Bahasa craft bukan hal baru bagi Jonathan Anderson. Pendekatan ini menjadi bagian penting selama masa kepemimpinannya di Loewe, ketika ia banyak bekerja sama dengan seniman dan perajin, serta meluncurkan penghargaan khusus untuk kerajinan. Di Dior, meski koleksi dipenuhi material mewah dan detail dekoratif, yang terasa justru adalah kesan ringan dan terkendali.
Jika detail ruffle dan bunga jahit tangan diabaikan, klien couture Dior akan menemukan struktur busana yang kokoh seperti tuksedo hitam dengan kerah sutra berpilin, mantel vicuña dua sisi dengan lapel besar yang jatuh dalam, serta celana tuksedo berpotongan lebar dengan aksen satin drapery. “Bahkan jaket yang paling sederhana membutuhkan belasan toile dan proses yang sangat kompleks,” jelas Jonathan Anderson. “Saya tahu tidak semua orang akan langsung melihat ini sebagai Dior yang mereka kenal. Tapi perlahan, saya ingin menantang pandangan itu. Ini soal menjaga keseimbangan.”
“Saya mencoba mencari cara untuk membangun struktur baru dan membuatnya terasa lebih ringan, tanpa keluar dari kerangka Dior,” lanjut Jonathan Anderson. Ia menyebut Lee Radziwill sebagai salah satu referensi sosok yang membuat couture terlihat sesantai sepasang jeans. “Ini tentang menunjukkan apa yang bisa dilakukan Dior sebagai merek, sekaligus mendorongnya ke batas baru. Juga tentang memperkenalkan hal-hal baru ke dalam kosakata Dior.”
Hasilnya adalah Fashion dengan huruf kapital dengan tingkat dramatik yang mengingatkan pada era John Galliano, yang hadir di barisan depan. Jonathan Anderson mengundang John Galliano kembali mengunjungi atelier untuk pertama kalinya sejak kepergiannya dari Dior. Saat John Galliano datang membawa buket cyclamen segar yang diikat pita hitam, Jonathan Anderson tersentuh dan menjadikannya elemen visual utama peragaan, buket yang dikirim sebagai undangan, disematkan di belakang telinga model, hingga digantung di langit-langit bernuansa hutan dan dipantulkan oleh cermin antik. Gestur ini terasa personal sekaligus menjadi pengakuan atas peran besar John Galliano dalam sejarah Dior. “Saat saya masih kuliah, dia adalah sosok panutan,” ujar Jonathan Anderson. “Hingga kini, di mata publik, ia tetap identik dengan Dior.”
John Galliano pernah menggambarkan couture sebagai “parfum” sebuah rumah mode, ekspresi paling murni, bukan versi yang sudah diencerkan. Prinsip inilah yang ingin dijaga Jonathan Anderson. “Kami akan mengambil ide dari couture dan menerjemahkannya ke seluruh kategori Dior,” jelasnya. Meski ia sudah mulai menyiapkan koleksi berikutnya, peragaan ini tetap menjadi salah satu yang paling berkesan dalam musim debut ini. Pertunjukan ini tidak hanya menegaskan relevansi couture, tetapi juga membuatnya terasa penting kembali, bukan sekadar eksklusif, melainkan hidup dan penuh gagasan.
BACA JUGA:
Harry Styles Masuki Era Kiss All The Time. Disco, Occasionally dengan Kemeja Prada
Bella Hadid Perkenalkan Jenis Gaun “Naked Dress” yang Baru
(Penulis: Osman Ahmed; Artikel disadur dari BAZAAR US ; Alih bahasa: Nadhifa Fatma; Foto: Courtesy of BAZAAR US)