Tahun 2016 tengah kembali diperbincangkan. Rasanya mustahil membuka Instagram tanpa melihat seseorang mengunggah foto dirinya di sebuah festival, mengenakan denim potongan pendek, sepatu bot setinggi mata kaki, dan kacamata hitam reflektif dengan sentuhan filter Clarendon khas Instagram atau tertutup telinga kelinci ala Snapchat. Namun, mengapa demikian?
BACA JUGA: The New Uniform: Cerminan Gaya Hidup Modern Masa Kini
Sejak musim liburan, media sosial seolah mengenakan kacamata bernuansa nostalgia. Para penggunanya, mungkin dengan sedikit kepolosan, merindukan masa yang terasa lebih sederhana. Di tengah tajuk berita yang kian mengkhawatirkan hari ini, foto konyol diri sendiri mengenakan atasan off-the-shoulder dan choker terasa seperti penghibur kecil meski membuat kita sedikit meringis saat melihatnya kembali.
Namun, terlepas dari arsip kamera pribadi, banyak hal penting terjadi di dunia mode pada tahun tersebut. Seperti apa sebenarnya lanskap industri fashion pada 2016?
Berikut ini, kami menelusuri kembali pergelaran runway yang megah, debut para desainer, tren yang datang dan pergi, serta wajah-wajah Instagramable yang populer satu dekade lalu.
Di atas Runway
Mungkin saat itu terasa lebih sederhana. Phoebe Philo masih memimpin Cèline yang bahkan masih menggunakan aksen pada penulisannya dan terus memikat pelanggan lewat pendekatan intelektualnya dalam menjembatani maskulinitas dan feminitas, fungsi dan gaya. Koleksi runway-nya pada tahun tersebut menampilkan gaun yang dikenakan di atas celana, tailoring longgar bersiluet oversized, serta gaun terinspirasi Yves Klein untuk Spring 2017 yang kelak menjadi item koleksi. Popularitasnya begitu besar hingga banyak orang mulai meniru gaya personal Phoebe sendiri: sweater sederhana, kemeja, celana lurus, dan sepatu Stan Smith.
Beralih ke Alessandro Michele, saat itu ia telah menapaki tangga karier di Gucci dan diangkat sebagai direktur kreatif pada 2015. Ia menyuntikkan sentuhan whimsical dan eksentrik ke rumah mode yang sebelumnya dikenal sleek dan sensual, dan pendekatan itu terbukti berhasil. Para model melenggang di runway mengenakan gaun payet trompe l’oeil bergaya retro, dipadukan dengan kacamata berukuran besar, tas berhias aplikasi, serta loafer horsebit yang ia hidupkan kembali. Banyak yang menyebutnya sebagai granny chic.
Pada Oktober 2015, Demna bergabung dengan Balenciaga setelah mencuri perhatian lewat Vetements dengan pendekatan mewah yang terdistorsi. Koleksi debutnya pada Maret 2016 menampilkan interpretasi dramatis dari siluet jam pasir, lapisan floral yang saling bertabrakan, serta jaket dan kemeja yang tampak seperti ditarik dari bahu para model. Koleksi keduanya pada musim gugur memperkenalkan desain bahu ekstra tebal yang dipadukan dengan Lycra ketat, detail bahu besar Demna kemudian menjadi salah satu siluet paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir.
Kemudian ada juga momen Maria Grazia Chiuri yang meninggalkan Valentino, tempat ia sebelumnya menjabat sebagai direktur kreatif bersama Pierpaolo Piccioli. Ia mempersembahkan koleksi perdananya di Dior pada September 2016, memperkenalkan gaun tulle transparan bersulam, sepatu J’Adior Slingbacks, serta kaus ikonik bertuliskan “We Should All Be Feminists” yang kini identik dengan masa kepemimpinannya. Pada musim yang sama, Pierpaolo menampilkan peragaan solo pertamanya untuk Valentino, menghadirkan estetika feminin yang lebih kaya warna.
Sementara itu, Karl Lagerfeld masih memimpin Chanel dan terus menghadirkan pergelaran mode berskala spektakuler, mulai dari set bandara hingga supermarket. Pada musim gugur, ia menghadirkan tema yang menyoroti dominasi teknologi dalam kehidupan modern, bahkan menampilkan model dengan busana menyerupai alien robotik, tentu saja tetap dalam bentuk setelan rok khas Chanel.
Di sisi lain, merek-merek seperti Hood By Air, Off-White, dan Yeezy membawa streetwear masuk ke ranah mode mewah dan menempatkannya secara tegas di atas runway. Glenn Martens mulai mencuri perhatian lewat Y/Project, begitu pula Jonathan Anderson di Loewe. Nicolas Ghesquière telah beberapa tahun memimpin Louis Vuitton, demikian juga Olivier Rousteing di Balmain. Tahun itu pula Anthony Vaccarello melakoni debutnya di Saint Laurent.
Tren
Sedikit hal yang mendefinisikan 2016 sekuat atasan atau gaun off-the-shoulder yang hampir selalu dipadukan dengan aksesori khas era tersebut: choker. Siluet ini dianggap menyanjung banyak bentuk tubuh, siapa yang tidak menyukai bahu mereka sendiri? Dan kerap dipadukan dengan rambut ikal longgar serta kacamata hitam metalik. Gaun slip dan tank top beraksen renda dikenakan di atas kaus, atasan bertali dipadukan dengan rok mini berkancing depan, sementara kemeja berlengan lonceng dikenakan bersama rok midi berlipit.
Warna Millennial Pink merajai berkat merek seperti Glossier dan platform seperti Tumblr. Pantone bahkan menetapkan “Rose Quartz” sebagai warna tahun 2016. Jaket bomber sering kali berbahan satin dan dihiasi motif harimau atau naga hadir di mana-mana. Mengapa tidak memadukannya dengan romper dan sandal horsebit Gucci? Atau bahkan dengan set pakaian olahraga? Berangkat dari estetika normcore, athleisure mulai menguasai gaya berpakaian sehari-hari. Legging atau celana yoga kini lazim dikenakan ke mana saja.
Istilah sneakerhead mencapai puncaknya, seiring para kreator seperti Virgil Abloh mendefinisikan ulang wujud sepatu sneaker. Meski demikian, banyak pula yang tetap setia pada sneaker putih bersih. Adidas Superstars, Stan Smiths, dan Nike Air Jordan 1 menjadi favorit, sementara Common Projects dipilih oleh mereka yang menginginkan sentuhan lebih eksklusif. Karya Virgil juga turut menghidupkan kembali logomania, era ketika logo Supreme berada di puncak kejayaannya.
Celana jeans mulai menjauh dari potongan super ketat. Mom jeans yang sebelumnya dianggap ketinggalan zaman kembali menjadi chic. Potongan distressed denim, sering kali dalam warna hitam pekat, mendominasi. Hampir semuanya memiliki tepi berjumbai. Ini adalah puncak gaya off-duty model, ketika fotografer street style mengabadikan para model seusai peragaan busana mengenakan skinny jeans hitam, jaket kulit, dan sepatu moto lengkap dengan sisa riasan glam.
Dalam kategori it-bag, Chloé Faye dan Drew menjadi favorit kalangan street style yang tengah berkembang. Tas lain yang tak kalah digemari termasuk Gucci Marmont, J.W. Anderson Pierce, serta lini Celine Luggage, Phantom, dan Trio yang masih populer kala itu.
Wajah-Wajah Ikonik
Para model beserta kepribadian mereka kembali menjadi sorotan sejak awal 2010-an, setelah era 1990-an supermodel sempat digantikan oleh wajah-wajah anonim di awal 2000-an. Tumblr memperkenalkan nama-nama seperti Cara Delevingne, Arizona Muse, Liu Wen, dan Lara Stone. Namun kemudian hadir Instagram, tempat Kendall Jenner dan para saudari Hadid mendominasi. Pasca kejayaan Victoria’s Secret Fashion Show, nama-nama yang kini umum terdengar, seperti Adwoa Aboah mulai menemukan panggungnya sendiri.
Pada 2016, para blogger era 2000-an telah berevolusi menjadi influencer sepenuhnya. Mereka beralih ke Instagram, bekerja sama dengan berbagai merek dan mengukuhkan posisi penting dalam dunia fashion. Susie Lau dari Style Bubble, Chiara Ferragni dari The Blonde Salad, Aimee Song dari Song of Style, Chriselle Lim dari The Chriselle Factor, hingga Charlotte Groeneveld dari The Fashion Guitar, nama-nama ini kini layak duduk di barisan depan peragaan busana dan hingga kini pun masih sering terlihat di sana.
BACA JUGA:
Bella Hadid Padukan Sweter Valentino dengan Tas Tabby Cokelat
Coach Merayakan Ekspresi Diri dalam Dimensi Baru Melalui The Sims™ 4
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Syiffa Pettasere; Foto: Courtesy of BAZAAR US)