Yasamin Jasem Melangkah Melampaui Imajinasi

Cerita perjalanan sang aktris muda dalam menemukan ritme dan cintanya di industri perfilman Indonesia


Yasamin Jasem terlihat luwes berpose di depan kamera. Tak ada rasa canggung di tiap gerakannya, juga di tiap ekspresi wajah yang terkadang tajam dan terkadang santai dengan selingan senyum yang ia lemparkan saat kamera membidiknya. Tanpa mengurangi ruang gerak, padu padan busana Givenchy yang ia kenakan membentuk siluet elegan di tubuhnya dengan dominasi warna hitam dan putih. Kebetulan, warnanya sesuai dengan karakter sang aktris yang belum lama ini genap berusia 22 tahun di bulan Februari. “Baju saya di rumah sebagian besar berwarna hitam dan putih, jadi pada saat saya melihat konsep pemotretan ini, this is my safe color,” ujarnya senang. Gaya yang tepat menjadi bahan bakar pendorong kepercayaan dirinya. “Sejak kecil saya suka dress up dan mengeksplorasi gaya. Ketika menemukan gaya pakaian yang nyaman dan sesuai, saya langsung merasa percaya diri. Saya tidak takut mengeksplorasi apa yang saya suka baik itu fashion maupun makeup. Nanti juga menemukan sendiri nyamannya.”


Yasamin-jasem

Yasamin sudah mulai akrab dengan kamera sejak kecil. Ketertarikannya pada dunia akting tumbuh sejak awal keterlibatannya sebagai seorang bintang iklan cilik. Sejak saat itu, antusiasmenya tidak pernah surut. Sambil duduk santai dengan tubuhnya yang sedikit bersandar, ia membiarkan kenangan masa kecilnya menuntunnya bercerita tentang awal ia menyukai berakting. “Mama adalah biggest supporter since day one dan beliau yang notice kalau saya sepertinya suka di depan kamera. Jadi waktu itu awalnya ada teman mama yang seorang fotografer untuk sebuah majalah. Akhirnya saya syuting untuk video iklan. Sejak saat itu saya suka dan didukung, walaupun tetap saja zaman sekolah kalau nilainya tidak bagus, harus belajar dulu baru boleh lanjut syuting lagi,” kenang si anak tunggal ini sambil tertawa. “Saya memang suka akting dari hari pertama. Ada momennya mungkin bosan dan lelah, tapi saya lebih bingung kalau tidak mengerjakan hal selain syuting.”



“Saya bersyukur banget memiliki ruang untuk berekspresi di tempat yang mungkin aman."

Tumbuh sebagai anak tunggal biasanya membuat seseorang terbiasa mengandalkan kekuatan imajinasinya, tidak terkecuali Yasamin. “Biasanya kalau saya sedang tidak syuting, saya bermain di kamar, dress up, menonton film dan mendengarkan lagu sambil play pretend. Misalnya saat berpura-pura jadi musisi, saya pakai sisir untuk dijadikan mic,” ia melanjutkan. Kemampuan bermain imajinasi ini nyatanya selaras dengan dunia aktor yang Yasamin tekuni. Baginya ada keseruan tersendiri untuk mencoba beragam karakter dan mengembangkan background story­ -nya. “Saya bersyukur memiliki ruang untuk berekspresi di tempat yang terasa aman. Saat proses syuting, kami diberi kesempatan untuk benar-benar meluapkan emosi. Ada beberapa proyek yang bagi saya terasa seperti terapi, karena saya bisa melakukan hal-hal yang mungkin terlihat aneh jika dilakukan di luar konteks, tetapi justru menjadi wajar karena itu bagian dari pekerjaan. Mungkin karena saya anak tunggal dan terbiasa membayangkan berbagai situasi sendiri, jadi ketika bisa mewujudkan hal-hal yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi, rasanya seperti mendapatkan pelepasan.” lanjut gadis yang bermimpi bisa bermain dalam film fantasi seperti Narnia atau Alice in Wonderland, dengan mata berbinar.


ORM

Yasamin berusia enam tahun ketika debut di film drama musikal layar lebar Melodi (2010). Aksinya bermain peran berlanjut ke film seperti Keluarga Cemara (2018 dan 2022), Pamali (2023 dan 2025), Lembayung (2024) di mana ia beradu akting dengan Taskya Namya, Yang Tak Tergantikan (2022), dan Sampai Titik Terakhirmu (2025). Film horor Mangkujiwo yang dirilis pada 2020 mengantarkannya meraih penghargaan Piala Maya sebagai Aktris Cilik atau Remaja Terpilih. Ia juga tampil di sekuelnya, Mangkujiwo 2 pada 2023. Terakhir, Yasamin muncul sebagai Adinda di film Timur (2025) arahan Iko Uwais. Filmografinya memang cukup didominasi oleh genre horor. Namun, penggemar Laura Basuki ini tidak menutup kemungkinan untuk mengeksplorasi lebih banyak karakter. Justru dari film-film horor tersebut, ia banyak mendapatkan pelajaran yang berkontribusi pada perkembangan pribadinya. “Setelah diperhatikan lagi, ada beberapa film horor yang saya bintangi ternyata cukup women empowering jika dilihat dari lapisan ceritanya. Kita diajarkan untuk berjalan beriringan dan tidak meninggalkan satu sama lain, terutama saat menghadapi situasi sulit. Dalam banyak film horor, sering kali ada karakter yang ditinggalkan oleh temannya. Padahal, dalam lingkar pertemanan, justru di situasi yang tidak mudah kita harus tetap bersama. Nilai itu juga yang diajarkan oleh mama saya. Kita harus responsible to each other,” terangnya.



Rasa tanggung jawab dan karakter resilience juga terpupuk seiring ia bertumbuh sebagai seorang public figure. Sebuah tantangan bagi aktor muda seperti dirinya sekaligus penuntun agar berkembang semakin bijak. “Ada responsibility saya sebagai public figure. Walaupun saya percaya bahwa karakter yang saya mainkan itu seperti jodoh atau si karakter itu yang akan mencari kita, tetapi saat saya mengerjakan proyek, hasil dan keputusan saya untuk terlibat itu menjadi tanggung jawab saya,” jelasnya. “Sekarang ada media sosial, dan tentu saja orang memiliki ekspektasi terhadap Gen Z seperti saya untuk menggunakannya sebagai platform berbagi hal-hal yang positif. Itu juga merupakan bentuk tanggung jawab. Cara saya membawa diri di hadapan banyak orang pun menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut, karena saya merasa perlu memberikan contoh yang baik.”


ORM

Yasamin lahir dari latar belakang keluarga multikultural. Ia mengakui, tidak jarang pekerjaannya dipandang sebelah mata. "Sering kali orang-orang degrading my work. Mereka pikir it is easy for you to get a job karena blasteran. Di film Indonesia yang karakternya beragam, belum tentu semua karakter bisa saya dapatkan. Itu challenge-nya," ungkapnya. Di tengah industri perfilman era media sosial yang katanya permintaan aktor cukup tinggi dan banyak proyek yang berjalan bersamaan, Yasamin tak gentar dan tetap percaya diri. " Karena saya selalu merasa apa yang saya kerjakan sekarang adalah part of my life. Kalau tidak mengerjakan ini (berakting), saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan meskipun ada plan B. Tetapi sepertinya this is my main purpose," katanya meyakinkan. Ia pun rasanya tak terlalu ambil pusing dengan noises. " Saya hanya mengerjakan apa yang saya cintai dan tidak mencoba untuk membuktikan apapun pada mereka. Selama ini saya enjoy dengan apa yang saya lakukan, setidaknya untuk membuat saya bahagia," sambungnya. Bahkan ia tak ragu untuk terus berkarier jangka panjang sebagai pemain film. "Saya selalu merasa what I am working right now is part of my life. Saya ingin melakukan ini terus menerus."

“Bagaimana saya membawa diri ke banyak orang pun bentuk tanggung jawab karena menurut saya, saya harus memberi contoh yang baik.”

Di balik semua yang ia jalani, ada rasa syukur pada versi dirinya di masa kecil. Sosok yang berani berekspresi dan mewujudkan imajinasinya. “Thank you, you made that decision. Cukup dini ya, di usia lima tahun, tetapi ternyata Yasamin kecil sudah tahu apa yang ia sukai. Sekarang saya hanya melanjutkan apa yang dulu ia pilih. Jadi, saya harap saya bisa membuatnya bangga dengan proses yang sedang saya jalani,” refleksinya. Kesuksesan baginya bukan soal pencapaian semata, tetapi tentang, “When I feel enough. Saya tidak lagi merasa kejar-kejaran dengan orang lain. I feel like saya sudah berada di jalur yang tepat, saya menikmatinya, dan saya bisa achieve my goals sedikit demi sedikit, menurut saya itu sudah menjadi kesuksesan.”

Perjalanan Yasamin belum usai. Ia masih terus melaju dengan riang. “Senang sekali belakangan, saya mendapat beberapa tawaran film drama. Walaupun tahun ini masih akan ada film horor yang tayang, tetapi I am working on beberapa proyek serial drama dan film. Semoga setelah ini saya bisa explore lebih banyak genre dan proyek lagi,” ucapnya menutup pembicaraan kami.





© 2026 Harper's BAZAAR Indonesia.