Perjalanan Bertumbuh Sheila Dara

Di balik berbagai karakternya yang ia perankan, Sheila Dara berbagi tentang proses belajar yang membentuk caranya melihat seni, kehidupan, dan dirinya sendiri.


Sheila Dara berkaca pada dinamika kariernya di dunia sinema yang hingga kini ia akui masih terus berakar pada proses belajar. Tahun 2025 menjadi salah satu era penting dalam hidupnya. Mulai dari eksplorasi karakter di The Most Beautiful Girl in the World hingga perannya di Sore: Istri dari Masa Depan, yang membawanya menjadi Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2025. Sheila semakin mengukuhkan posisinya di industri perfilman Indonesia. Namun, saat menilik kembali jejak kariernya, sang aktris mengaku selalu memilih untuk menanggalkan seluruh pencapaian tersebut setiap kali melangkah ke proyek baru dan memulainya kembali dari titik nol.


sheila-dara-photo1

“Setiap memulai proyek baru, saya selalu berusaha benar-benar mulai dari nol. Semua yang sudah saya pelajari dari proyek sebelumnya saya kosongkan dulu. Belakangan ini saya merasa kapasitas untuk menyerap hal-hal baru menjadi lebih besar. Jadi proses belajarnya juga semakin banyak. Saya bisa belajar dari lawan main, sutradara, sampai mendapat insight baru dari penulis naskah. Karena itu memang selalu jadi pendekatan saya di setiap proyek baru,” ucap Sheila.



Dalam perjalanan kariernya, Sheila mengaku ada dua titik balik yang membentuk cara pandangnya sebagai seorang aktor. Saat membahas hal tersebut, ia pun menoleh ke masa-masa awal kariernya. Sebagai aktor yang belajar secara otodidak, Sheila mengaku pendekatannya terhadap naskah kala itu sangat berbeda dibandingkan dengan sekarang.

“Saya selalu berusaha benar-benar mulai dari nol.”

Di awal kariernya, ia melihat naskah secara sederhana: sesuatu yang perlu dihafalkan dan diterjemahkan secara harfiah. “Saya pikir acting tuh, menghafal skrip saja. Kalau tulisannya marah, ya marah. Kalau sedih, ya sedih,” ujarnya.


sheila-dara-photo2

Menurut Sheila, cara pandang tersebut kemungkinan terbentuk karena ritme kerja yang begitu cepat pada proyek-proyek yang ia jalani saat itu. Di tengah proses produksi yang serba singkat, ia merasa tidak memiliki banyak ruang untuk benar-benar memahami naskah maupun menggali kehidupan karakter yang ia perankan.

Namun, cara pandangnya terhadap proses membangun karakter mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang casting director yang memberinya perspektif baru. Alih-alih melanjutkan sesi casting seperti biasa, sosok tersebut justru menghentikan prosesnya dan mengajak Sheila berbincang panjang. Pengalaman itu sempat membuatnya heran. “Awalnya saya pikir, kenapa kita malah mengobrol seperti ini? Kenapa tidak sekalian selesaikan casting-nya saja?” ujarnya sambil tertawa.



Setelah percakapan tersebut, Sheila diajak untuk kembali membaca dan memerankan karakter dalam naskah yang sama. Di situlah ia menyadari sesuatu yang kemudian mengubah perspektifnya terhadap akting. Bagi Sheila, akting pada dasarnya bukan sekadar memainkan sebuah karakter, melainkan memahami manusia beserta kehidupan yang mereka jalani.

“Saat itu saya jadi sadar bahwa sebenarnya kita memerankan seseorang yang punya kehidupan, punya cara berpikir, dan punya cara berbicara yang berbeda-beda. Cara mereka berbicara pun sebenarnya tidak jauh dari orang-orang yang kita temui sehari-hari,” jelasnya.

Kesadaran tersebut membuat Sheila mulai melihat karakter bukan sebagai sosok yang harus dimainkan, melainkan sebagai manusia yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum dihidupkan di depan kamera.

“Saat itu saya jadi sadar bahwa sebenarnya kita memerankan seseorang yang punya kehidupan, punya cara berpikir, dan punya cara berbicara yang berbeda-beda.”

Turning point kedua datang saat Sheila terlibat dalam proses syuting Sabtu Bersama Bapak bersama Acha Septriasa. Kala itu, ia mengamati bagaimana Acha mempersiapkan perannya dengan begitu mendalam, tidak hanya fokus pada apa yang tertulis di naskah, tetapi juga membayangkan dunia dan kehidupan karakter yang akan diperankannya secara utuh.

“Melihat cara Kak Acha reading benar-benar membuka mata saya. Ia memikirkan dunia dari karakter yang akan diperankan, bahkan jauh melampaui apa yang tertulis di skrip. Itu menjadi turning point lain bagi saya dalam memahami bagaimana seharusnya menjalani sebuah karakter,” ungkapnya.

Selain aktif di dunia akting, Sheila juga terus menjaga kedekatannya dengan musik. Tahun ini, ia kembali menyapa pendengar melalui versi baru Warm Weather, lagu kolaborasinya bersama Voxxes, grup musik sang adik. “Waktu itu Voxxes sempat rearrange beberapa lagunya, termasuk Warm Weather yang duet sama saya. Awalnya versi baru itu dibuat untuk live show saja, tapi ternyata responnya bagus. Akhirnya lagu itu dirilis juga di platform streaming,” ungkap sang aktris sekaligus penyanyi itu.

Namun, pengaruh sebuah proyek kreatif bagi Sheila tidak berhenti saat proses syuting selesai. Setelah bertahun-tahun menghidupkan berbagai karakter, ia menyadari bahwa beberapa di antaranya diam-diam turut membentuk preferensi personalnya, termasuk dalam cara berpakaian. Saat ditanya mengenai perkembangan gaya pribadinya dari tahun ke tahun, Sheila mengaku banyak terinspirasi oleh karakter-karakter yang pernah ia perankan.


sheila-dara-photo3

“Saya rasa personal style saya cukup banyak dipengaruhi oleh karakter-karakter yang pernah saya perankan. Dulu, waktu bermain sinetron, ada satu karakter yang hobinya memakai banyak gelang, dan kebiasaan itu ternyata ikut terbawa ke kehidupan sehari-hari saya. Saya ingat sekitar tahun 2015 atau 2016, saya juga sering memakai gelang dalam jumlah yang cukup banyak,” ceritanya.

Pengaruh serupa juga ia rasakan melalui transformasi fisik untuk sejumlah peran yang dijalaninya. Salah satu yang paling membekas adalah rambut biru ikonis yang karakternya miliki dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Menariknya, Sheila sempat mempertahankan kriteria itu setelah syuting berakhir. “Memang ada beberapa elemen dari karakter yang sedikit banyak terbawa ke kehidupan saya. Sejauh ini, saya merasa yang paling penting dalam personal style adalah kenyamanan. Soal pakaian seperti apa, biasanya tergantung acaranya. Tapi apa pun gayanya, yang terpenting buat saya adalah bisa merasa nyaman saat memakainya,” jelasnya.



Ketika membahas fashion sebagai medium ekspresi diri, Sheila percaya bahwa pakaian sering kali berbicara lebih dulu sebelum seseorang sempat memperkenalkan dirinya. “Saya merasa fashion itu benar-benar menjadi first impression kita. Jadi, ketika ingin mengekspresikan diri atau menunjukkan kepada dunia siapa kita, biasanya hal pertama yang terlihat adalah fashion,” ujarnya.

Kedekatannya dengan denim membuat Sheila memiliki ketertarikan tersendiri saat melihat koleksi Levi’s® Blue Tab™. Saat berkesempatan melihat langsung koleksi tersebut di Kuala Lumpur, ia langsung tertarik pada siluet dan detail yang menurutnya menghadirkan perspektif berbeda terhadap denim yang selama ini akrab dengan kesehariannya.

“Tapi apa pun gayanya, yang terpenting buat saya adalah bisa merasa nyaman saat memakainya.”

“Saya sempat datang ke acara Levi’s® Blue Tab™ di Kuala Lumpur dan melihat langsung beberapa koleksinya, termasuk yang dipakai teman-teman di sana. Saya merasa potongannya menarik banget. Ada sedikit nuansa Jepang yang saya suka,” ujarnya.

Perjalanan tersebut juga memberinya kesempatan untuk melihat dunia denim dari sudut pandang yang berbeda. Selama berada di Kuala Lumpur, Sheila bertemu dengan sejumlah pencinta denim dari berbagai negara. Lewat mereka, Sheila semakin mengenal detail dan cerita di balik material yang selama ini ia kenakan sehari-hari.

“Pengalamannya sangat menyenangkan karena saya bisa bertemu teman-teman dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Ada juga beberapa yang memang berasal dari komunitas denim, jadi saya banyak belajar dari mereka. Saya jadi tahu lebih banyak tentang berbagai jenis denim yang mereka pakai. Selama ini saya memakai jeans tanpa benar-benar tahu cerita atau detail yang ada di baliknya, jadi menurut saya pengalaman itu menarik sekali,” tuturnya.

Dari seluruh tampilan yang ia lihat, ada satu look yang langsung mencuri perhatiannya, yaitu Levi’s® Blue Tab™ Women’s Moto Jacket yang dipadukan dengan Levi’s® Blue Tab™ Women’s Moto Jeans. “Saya sangat suka setelan jaket dan celana denim itu. Potongannya pas di saya, bikin siluetnya terlihat lebih jenjang, tapi di saat yang sama tetap nyaman dipakai,” ujarnya.

Selain siluet, perhatian Sheila juga tertuju pada sejumlah detail yang menurutnya cukup mengejutkan. Baginya, beberapa desain dalam koleksi ini menghadirkan sisi Levi’s® yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Ada beberapa desain yang menurut saya menarik karena konstruksinya unik. Saya ingat ada detail yang terasa seperti patchwork, terus siluetnya juga menarik. Itu sesuatu yang tidak saya ekspektasikan ketika memikirkan Levi’s®. Karena biasanya Levi’s® identik dengan sesuatu yang sangat klasik. Mungkin itu juga yang bikin saya merasa koleksi ini terasa lebih elevated,” tuturnya.

Meski menghadirkan eksplorasi siluet dan gaya, Sheila merasa identitas Levi’s® tetap terasa kuat dalam koleksi ini. Menurutnya, keseimbangan antara kenyamanan, kualitas, dan pendekatan desain yang lebih kontemporer menjadi hal yang paling menonjol.

“Setelah memakainya sendiri, saya merasa karakter Levi’s® masih sangat terasa dari kualitas denimnya dan kenyamanannya saat dipakai. Tapi di saat yang sama, ada siluet-siluet baru yang terasa lebih relevan dengan sekarang. Jadi menurut saya masih ada sentuhan klasik Levi’s®, hanya diterjemahkan dengan cara yang lebih modern,” tutup Sheila.


sheila-dara-photo4


© 2026 Harper's BAZAAR Indonesia.