Menyelami Ruang Kreatif Mawar De Jongh Lewat Rajutan Melodi

Di balik kiprahnya sebagai seorang pemain film, Mawar de Jongh tidak memadamkan sinarnya berkarya lewat nada


“Jika tidak ke ujung dunia, apa kau tak apa-apa? Cukup senangkah bila duduk di teras saja dan menunggu hujan reda?” Sepenggal lirik itu dilantunkan Mawar de Jongh lewat lagu pop terbarunya, “Oh Semoga”. Ia seperti memberikan ruang teduh untuk berhenti sejenak, menghadirkan pelukan, memberikan harapan, dan mengajak pendengarnya agar tetap tenang menghadapi kekhawatiran masa depan melalui tekstur vokalnya yang lembut dan intimate. Namun jika melihat pribadi dan karier perjalanan Mawar yang terus melaju, ia seperti tak pernah benar-benar berhenti. Pemahaman akan nilai penerimaan yang tersirat di lagunya turut membantu jiwa seni dalam dirinya untuk tumbuh dan memberi perspektif baru. “Mungkin salah satunya di awal karier, saya merasa pernah mengalami beberapa penolakan saat casting dan belum berjodoh di sana. Saat itu pasti ada rasa sedih dan kecewa, tetapi pelan-pelan belajar untuk let go perasaan itu dan belajar ikhlas kalau mungkin kesempatannya belum di sini,” Mawar berefleksi. “Tetapi ketika saya mulai menerima ketika suatu hal belum jadi kesempatan saya, akhirnya saya jadi lebih bisa belajar lagi dan tidak fokus pada penolakan dan harus terus belajar supaya saya bisa mendapat kesempatan-kesempatan yang lain.”


enzy-storia

“Oh Semoga” merupakan singel kedua Mawar tahun ini setelah “Kan” yang dirilis Agustus lalu. “Kalau “Kan”, lagu ini ditulis oleh Iqbal Siregar, Denis Ligia, Faishal Muhammad Fasya, dan Kamga. Saya ingat sekali, waktu itu lagunya dikirim oleh tim Trinity dan saat mendengarnya saya langsung senyum karena rasanya relate sekali dengan kehidupan kita sehari-hari,” tutur Mawar, masih dengan suaranya yang lembut tetapi kali ini terinjeksi dengan nada excitement. “Sementara lagu “Oh Semoga” memang sudah diciptakan dengan indah sekali oleh mereka. Saya sudah sangat senang saat mendengarnya, secara konsep dibawa ke perasaan yang hopeful,” lanjutnya.



“Kejujuran adalah salah satu kunci untuk kita bisa sampai ke hati banyak orang.”

Mawar membuktikan dirinya mampu menembus batas. Wajahnya telah dikenal di panggung seni peran Indonesia dan menghiasi sejumlah film seperti “Sampai Titik Terakhirmu”, “Tinggal Meninggal”, dan “Bumi Manusia”. Kabar terbarunya, ia akan muncul di film “People Pleaser” yang akan tayang pada 19 November 2026 mendatang, di mana ia bermain bersama Fatih Unru dan Cut Mini Theo. Namun kesuksesannya berakting tidak menutupi passion dan bakatnya di dunia tarik suara. Nyatanya, sebelum berakting, Mawar sudah menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. “Dari kecil saya ingin sekali jadi penyanyi, sih,” ia mengakui. “Saya bersyukur sekali melalui audisi-audisi yang saya ambil dulu dan belajar lewat sanggar akhirnya menuntun saya ke perjalanan karier yang sekarang. Setelah mengikuti Miss Celebrity 2015, saya mendapat kesempatan untuk bermain FTV waktu itu. Tidak pernah terbayang sebelumnya (untuk menjadi pemain film), tetapi saya langsung jatuh cinta pada seni peran dan kemudian ingin mencoba lebih banyak karakter.”


enzy-storia

Di balik kelembutan yang terpancar dari gerak-geriknya, perempuan kelahiran Amsterdam pada 26 September 2001 ini memiliki tekad dan kemauan yang pasti soal pilihan kariernya. Lewat obrolan santai di salah satu sudut ruangan bernuansa floral anggun dan selaras dengan karakternya femininnya, kami mengajaknya kembali ke satu momen yang membulatkan tekadnya untuk meniti tangga melodi. “Saya ingat sekali momen panggung pertama saya ketika saya sudah lebih besar dan aware dengan situasi. Melihat reaksi audiens adalah sesuatu yang tak kalah magical. Di momen itulah saya tahu bahwa saya ingin menjadi penyanyi dan ingin sekali membuat album,” tuturnya dengan tatapan mata yang berbinar. “Waktu itu di Java Jazz, saya menyanyikan lagu kedua saya, “Lebih dari Egoku.” Saya bernyanyi bersama audiensnya dan saya berkaca-kaca. Performing secara langsung itu menurut saya dulu sangat menakutkan karena kita bisa melihat reaksi penontonnya secara langsung, tetapi ternyata semakin ke sini, reaksi audiens yang langsung itu justru membuat suasana lebih hidup ketika sedang bernyanyi. Jadi seperti sama-sama berbagi energi.” Agustus tahun ini, ia berkesempatan tampil di panggung Brightspot bersama Bryan Domani membawakan lagu “Tak di Tanganku” yang versi aslinya merupakan kolaborasi bersama Juicy Luicy. “Itu deg-degan banget. Enggak menyangka melihat reaksi audiensnya. Mereka senang sekali ketika kita bertemu dan kemudian bernyanyi bersama. Ini juga menjadi salah satu momen yang tidak bisa saya lupakan, sih.”



Bagi Mawar, musik dan akting adalah dua media ekspresi yang berbeda tetapi saling mengisi dalam menyalurkan isi hati. “Keduanya sama-sama bercerita. Kalau lewat lagu, lebih Mawar,” ucapnya. “Kalau di film lebih mewakili karakter yang diperankan. Menurut saya, dua-duanya sama-sama mengekspresikan dan mengeluarkan perasaan, hanya saja dengan cara yang berbeda.” Lantas, apakah ia menjadi lebih jujur lewat lagu? “Mungkin saya merasa lebih banyak memasukkan Mawar dalam lagu daripada ketika sedang berakting,” jawabnya, mengingat ketika bermain peran, seorang aktor harus mampu menampilkan karakter yang dibawakannya secara maksimal. Lebih dalam lagi, berbicara tentang ekspresi lewat seni sebenarnya adalah tentang autentisitas. Tentang bagaimana sang seniman tetap jujur dalam menyampaikan emosinya. Mawar menyadari pentingnya hal tersebut selain menunjukkan sisi vulnerability, karena, “Kejujuran adalah salah satu kunci untuk kita bisa sampai ke hati banyak orang.”


enzy-storia
“Tidak ada kata cukup dalam belajar, baik di dunia akting dan dunia seni musik. Sampai sekarang pun saya masih belajar tentang musik, cara untuk mengolah vokal, menyentuh nada-nada baru, sampai menyentuh gol-gol baru.”

Di sela jeda pemotretan siang itu, perbincangan kami bersama Mawar mengalir begitu saja, perlahan menyingkap sisi lain dari sang aktris muda. Mawar ternyata memiliki impian sejak kecil untuk menjadi seorang desainer fashion. “Karena banyak menonton show musik dan melihat gaun-gaun cantik yang dipakai, dari situ lalu mulai mencoba menggambar. Saya selalu senang menggambar saat masih kecil. Mungkin kalau saya tidak bekerja di dunia hiburan, saya mau mencoba jadi desainer fashion,” senyumnya kembali merekah. Bukan sekadar berandai-andai, Mawar bahkan sudah mencoba mempraktikkannya. Ia kemudian menceritakan sepotong kisah masa lalu yang membekas di hatinya ketika jemarinya pertama kali mencoba membuat karya dalam rupa pakaian. “Salah satunya waktu itu saya mencoba menjahit sebuah kemeja untuk hadiah ulang tahun, dibantu juga sih, sebenarnya. Tetapi menurut saya, momen itu membuat saya jadi belajar banyak tentang proses membuat satu pakaian yang lumayan panjang serta ketelitian dan kesabaran di balik itu.” Hal serupa ia pelajari dari kegemarannya merajut, di mana lewat tarian jemari dan benang ia diajak untuk being present. “Kita benar-benar harus tahu momen. Ketika kita membuat kesalahan dan berjalan terlalu jauh, kita harus mengulang dan memperbaikinya. Saya mengimplementasikan itu ke kehidupan sehari-hari dengan berlatih, being present, dan fokus.”



Baginya, bertumbuh adalah sebuah proses dan tentang bagaimana ia melaju membuka diri terhadap hal baru. Prinsipnya tak goyah yaitu, “Tidak ada kata cukup dalam belajar, baik di dunia akting dan dunia seni musik. Sampai sekarang pun saya masih belajar tentang musik, cara untuk mengolah vokal, menyentuh nada-nada baru, sampai menyentuh gol-gol baru,” tutur sosok yang bermimpi untuk dapat berkolaborasi dengan Tulus dan Christine Hakim ini. Kami menutup percakapan hari itu dengan melihatnya berpose effortlessly di depan kamera. Mawar, dalam balutan busana Rodo hitam bersiluet yang memperkuat karakter femininnya, memancarkan ketenangan yang menggambarkan karakter sang aktris sesungguhnya.

Keseluruhan tas dan sepatu, Rodo



© 2026 Harper's BAZAAR Indonesia.