Menikmati Keheningan ala Enzy Storia

Sebuah perjalanan kembali ke diri ketika jeda, jarak, dan perubahan perlahan membentuk cara baru dalam berkarya.


Di sela-sela proses berias untuk pemotretan digital cover Harper’s Bazaar Indonesia, Enzy Storia terlihat tenang, tanpa tergesa. Balutan busana Tod’s dalam palet warna netral yang terdiri dari beige dan cokelat tampak membalut dirinya dengan nuansa lembut yang hangat dan understated, menghadirkan kesan santai, seolah tengah berlibur di Italia. Ketenangan itu terasa bukan tanpa alasan. Beberapa tahun lalu, ia kembali ke Tanah Air setelah sempat tinggal di Amerika Serikat, membawa pulang sebuah fase hidup yang membentuknya dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar kembali ke rutinitas lama, Enzy melangkah dengan perspektif baru yang lebih tenang dan lebih dekat dengan dirinya sendiri.



Ia mengenang pada momen saat dirinya harus meninggalkan Jakarta, kota yang selama ini menjadi rumah sekaligus tempat ia membangun karier di dunia hiburan. Perpindahan tersebut menandai sebuah perubahan dalam hidupnya. Dari yang sebelumnya hidup di Jakarta bersama keluarga, ia memasuki peran baru sebagai seorang istri, sekaligus menjalani kehidupan di luar negeri yang terasa jauh lebih sederhana. “Dari yang sebelumnya belum menikah, lalu menjadi seorang istri, dari tinggal di Jakarta bersama keluarga, saya harus pindah sementara ke luar negeri. Jadi hidup benar-benar hanya berdua dengan pasangan, tanpa support system yang biasanya ada,” ujarnya.

Dalam ruang yang lebih sunyi itu, ia menemukan sesuatu yang selama ini tertutup oleh kesibukan, yakni kesendirian. Yang awalnya terasa asing, perlahan menjadi cara baru untuk memahami diri. “Kita jadi lebih kenal sama diri ketika kita sendiri. Di situ saya jadi tahu apa sih kelebihan dan kekurangan saya,” tuturnya.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, ia pun mengambil jeda dari karier di dunia hiburan yang telah ia jalani selama hampir 13 tahun. Untuk pertama kalinya, ia memberi dirinya ruang tanpa tuntutan, mengisi hari dengan hal-hal yang terasa lebih personal. “Jadi banyak waktu untuk diri sendiri, untuk olahraga dan lain-lain. Dan akhirnya itu membentuk saya jadi orang yang lebih toned down, lebih tenang,” jelasnya.


enzy-storia

Self-care menjadi bagian yang perlahan mengakar dalam keseharian Enzy saat ia mulai menjalani hidup dengan lebih mindful. Kebiasaan yang ia bentuk ketika tinggal di luar negeri itu tidak berhenti di sana, melainkan terbawa hingga sekarang. “Jadi karena terbiasa di sana sendiri, saya menjadi lebih mindful dan mulai terbiasa bermeditasi. Itu terbawa sampai sekarang. Ketika mulai merasa burnout, saya biasanya langsung kembali ke meditasi,” ujarnya. Selain meditasi, ia juga mulai memperhatikan hal-hal sederhana dalam rutinitas hariannya, termasuk kebutuhan tubuh yang disadari lebih ia dengarkan daripada sebelumnya, seperti pentingnya paparan sinar matahari di pagi hari yang kini menjadi bagian dari kesehariannya.

Enzy juga melihat bagaimana pemaknaan beauty di sekitarnya kini bergerak ke arah yang lebih personal dan tidak lagi seragam. “Sekarang orang sudah lebih aware, sudah tidak terlalu terpaku pada satu beauty standard. Kalau seseorang sayang dan cinta pada dirinya, ia akan memancarkan itu dengan caranya masing-masing,” ujarnya.

“Kalau seseorang sayang dan cinta pada dirinya, ia akan memancarkan itu dengan caranya masing-masing.”

Ketika waktunya kembali ke Jakarta tiba, sang aktor itu kembali dihadapkan pada dinamika yang berbeda. Ia menyesuaikan diri dengan kehidupan yang bergerak cepat, sekaligus kembali menjalani pekerjaannya seperti sebelumnya. Di titik itu, ia menyadari adanya jarak antara kehidupan yang baru ia jalani dan realitas yang kini kembali ia hadapi. Ia pun mulai merindukan hal-hal sederhana yang sempat menjadi bagian dari kesehariannya. “Kangen sekali jalan-jalan di park, bahkan masak juga. Di sini saya jadi lebih jarang memasak karena semuanya serba mudah. Namun, justru itu membuat saya sadar, ini juga privilege tinggal di Jakarta. Semuanya mudah, semuanya ada, apa pun bisa kita lakukan,” jelasnya.


enzy-storia

Di luar proses penyesuaian dengan kehidupan personal di rumah, Enzy juga kembali ke dunia hiburan pada tahun 2025. Namun, kepulangan ini tidak ia maknai sebagai sesuatu yang menuntut banyak adaptasi, melainkan sebuah fase yang ia sambut dengan rasa siap dan antusiasme. “Saya merasa lebih siap dan lebih matang dengan pengalaman yang saya miliki, jadi ketika kembali ke dunia akting, saya menjalani semuanya dengan bekal yang lebih besar dan secara emosional juga lebih kuat. Karena saya sangat menyukai akting, saya menjalaninya dengan serius, dan 2025 kemarin terasa seperti waktu yang tepat untuk comeback,” ujarnya. Di setiap proyek, ia kembali pada cara yang sama, seolah memulai dari awal tanpa membawa terlalu banyak beban. “Setiap masuk ke proyek baru, saya menempatkan diri seperti kertas kosong,” lanjutnya.

“Saya merasa lebih siap dan lebih matang dengan pengalaman yang saya miliki, jadi ketika kembali ke dunia akting, saya menjalani semuanya dengan bekal yang lebih besar dan secara emosional juga lebih kuat.”

Waktu yang ia habiskan jauh dari industri yang membesarkan namanya justru membuka ruang yang lebih luas untuk kreativitasnya. Jarak dari rutinitas yang berulang menghadirkan perspektif baru, membuatnya melihat banyak hal dengan cara yang lebih segar. Dari sana, muncul dorongan untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah ia coba sebelumnya, sekaligus membaca ulang arah yang ingin ia ambil ketika kembali. “Dengan memberi jarak pada hal yang sudah kita lakukan berulang-ulang, itu justru menimbulkan ide kreatif yang baru. Rasanya jadi lebih fresh dan lebih semangat lagi,” tuturnya.



Semangat itu kemudian tecermin dalam berbagai pilihan yang ia ambil saat kembali ke dunia hiburan. Salah satunya adalah ketika ia dipercaya menjadi co-host dari salah satu ajang pencarian bakat, sebuah peran yang membawanya ke format berbeda dari yang selama ini ia jalani. Bagi Enzy, ini bukan sekadar kembali bekerja, tetapi juga kesempatan untuk melihat industri dari sudut yang baru, terutama dalam sebuah panggung kompetisi yang menempatkan cerita para peserta di garis depan. “Yang paling menantang itu ketika kita menjadi host acara kompetisi. Fokusnya bukan di pembawa acara, tetapi bagaimana kita bisa menghidupkan dan membawa para finalis supaya perjalanan mereka terlihat oleh penonton. Bagaimana kita bisa ikut merasakan, mendukung, dan mengikuti perjuangan mereka mencapai mimpi,” ujarnya.

Percakapan kemudian ditutup dengan Enzy yang turut membicarakan fashion, terutama bagaimana ia memprioritaskan craftsmanship dalam memilih dan memaknai sebuah busana, termasuk pada busana dan aksesori dari Tod’s yang ia kenakan. Detail serta proses di balik sebuah karya menjadi hal yang memberinya rasa keterhubungan yang lebih dalam. “Menurut saya, craftsmanship Italia memiliki soul tersendiri. Semuanya terasa sangat intentional, dari detail terkecil hingga keseluruhan desain, dengan keseimbangan antara tradisi dan sentuhan modern yang membuatnya terasa timeless,” tuturnya.

Bagi Enzy, craftsmanship bukan sekadar elemen teknis, melainkan inti yang menghidupkan sebuah karya. “Craftsmanship itu sangat penting karena itu yang membuat sebuah piece terasa hidup. When you know the story behind it, you don’t just wear it, you connect with it,” terangnya.

Ia juga menyebut beberapa item favoritnya dari koleksi Tod’s Spring/Summer 2026, di antaranya Metal Dots Gommino Loafers dan Metal Dots Mini Bag.


enzy-storia

Sebelum berlanjut ke sesi pemotretan, Enzy sempat membagikan satu hal yang kini ia jaga di tengah berbagai perannya sebagai aktris, co-host, maupun dalam kehidupan personalnya. “Saat ini hal yang paling penting bagi saya adalah tetap grounded. Di tengah semua peran yang saya jalani, I try to stay connected to myself. Karena dari situ akhirnya saya bisa hadir lebih utuh dalam setiap aspek kehidupan saya,” tutupnya.



© 2026 Harper's BAZAAR Indonesia.