Kilau Karya dan Kehidupan Luna Maya di 2025

Sepulang dari Sicily, sang aktris berefleksi atas kekayaan karakter yang memoles perjalanan karier dan babak baru kehidupannya tahun ini

Perhiasan, Bvlgari Serpenti
Dress, Sapto Djojokartiko

Tahun 2025 menyambut Luna Maya dengan sorotan dan peluang. Langkahnya tak henti membuahkan karya baru. Film horor Sukma dan Jalan Pulang adalah beberapa di antaranya yang menampilkan wajah sang aktris di layar lebar. Ia pun tak ragu melebarkan perannya di luar layar sebagai produser eksekutif untuk beberapa film seperti Sosok Ketiga: Lintrik dan GJLS: Ibuku Ibu-Ibu. Luna menuangkan dedikasi dan jiwanya di dunia perfilman yang memang menjadi ranah ia berkreasi. Ia menyatukan craftsmanship dan kreativitas menjadi sebuah keindahan karya kaya detail dan emosi seperti filosofi koleksi Bvlgari Polychroma yang menghiasi tiap posenya di sesi pemotretan bersama Bazaar kali ini.

Di atas semua itu, hidupnya menghadirkan klimaks yang paling menyentuh. Ia memutuskan untuk mengikat janji pernikahan dengan Maxime Bouttier Mei lalu. Bersama Bazaar, ia berbincang mengenai bagaimana ia merayakan pencapaiannya tahun ini, merajut kekayaan karakter, dan apa saja yang bisa kita nantikan bersama darinya tahun depan.

Luna Maya

Perhiasan, Bvlgari & B.zero1
Jam tangan, Bvlgari
Atasan dan rok, Saya

Harper’s Bazaar Indonesia (HBI): Tahun 2025 akan segera berakhir. Anda dapat dikatakan cukup sibuk di sepanjang tahun ini. Mulai dari tampil di film Midnight in Bali yang tayang di Festival Film Rotterdam awal tahun 2025, lalu tampil bersama Maxime di film Gundik. Kemudian ada Sukma dan Jalan Pulang. Anda juga menjadi Executive Producer di film Sosok Ketiga: Lintrik dan GJLS: Ibuku Ibu-ibu. Bagaimana Anda melihat dan merayakan pencapaian kreatif diri Anda di tahun ini?

Luna Maya (LM): 2025 ini full of surprises. Bisa dikatakan banyak kejadian yang menyenangkan, cerita seru, dan memori yang sudah dikerjakan. Secara career-wise, banyak refleksi juga, sih. Jujur saja, selain menjadi sebuah pekerjaan, bagi saya berkarya adalah bentuk eksistensi untuk menjaga produktivitas dan bagaimana kita masih bisa terus hadir di industri ini. Dengan terus berkarya, mudah-mudahan kita bisa mencapai gol yang kita inginkan.

HBI: Apakah ada yang mungkin ingin Anda perbaiki atau sudah cukup puas dengan perjalanan di 2025?

LM: Ada yang bisa diperbaiki lagi, banyak banget. Terutama di film, saya ingin bisa lebih baik lagi, ingin mendapatkan proyek yang berbeda dan bisa membuat saya menjadi lebih berkembang.

Perhiasan, Bvlgari Serpenti
Jam tangan, Bvlgari Serpenti Tubogas
Dress, saya

HBI: Menurut Anda, apa pencapaian terbesar Anda tahun ini? Apakah sudah sesuai dengan resolusi tahunan Anda?

LM: Kalau di pekerjaan, saya bersyukur semua proyek yang saya kerjakan masih mendapatkan tempat (sorotan) yang luar biasa. Beberapa proyek masuk box office yang bisa dikatakan memberikan kepuasan. Kalau bekerja ada bentuk apresiasinya, kita ‘kan merasa dihargai secara karya. Kontroversi ada yang suka atau tidak itu masalah kedua, tetapi kerja keras kita dan apresiasi menurut saya adalah hal yang harus dirayakan sebagai seorang pelaku di industri hiburan ini. Kalau dari sisi personal, saya memutuskan untuk melangkah ke babak baru kehidupan saya. Ini juga merupakan hal yang besar karena saya menikah di usia yang tidak seperti orang pada umumnya. Waktu itu saya lebih memilih mengutamakan karier dan tidak cepat-cepat menikah. Sesuatu yang tidak semua orang pahami. Namun ya, tahun ini I decided to move on to another chapter of my life yaitu berkeluarga. Ini dapat dikatakan sebagai sebuah pencapaian. Saya cukup kaget juga, sih, I gotta say I am quite proud of it.

HBI: Apakah sempat ada di bayangan atau resolusi untuk menikah tahun ini?

LM: Saya tidak pernah menjadikan pernikahan sebagai target atau resolusi, tetapi saya selalu menargetkan punya gol untuk diri sendiri, yaitu be a better person, juga gol untuk bertemu dengan orang yang tepat di situasi yang tepat. Saya tidak pernah mau memaksakan waktu dan keadaan kalau memang belum waktunya.

Luna Maya

Perhiasan, Bvlgari Serpenti
Jam tangan, Bvlgari Serpenti Tubogas
Dress, saya

HBI: Lalu, apa tantangan terbesar yang Anda lalui dan apa pelajaran penting yang Anda dapatkan di sepanjang tahun ini?

LM: Tantangannya adalah diri sendiri yang lebih besar dari tantangan eksternal. Pikiran kita ini kadang-kadang menjadi musuh terbesar. Mungkin banyak orang berpikir kalau sudah ada di tahap seperti saya pasti tidak ada insecurities dan tidak ada masalah. Padahal, permasalahannya ada di diri sendiri. Jadi, saya mencoba untuk selalu damai, berusaha untuk meningkatkan kualitas, serta mencoba bekerja secara efektif dan tepat. I mean, mengevaluasi diri sendiri saja.

HBI: Lantas, siapa suporter terbesar untuk menghadapi tantangan itu?

LM: Suporter terbesar adalah diri sendiri. Tentu aja, pasti ada orang sekitar kita yang menjadi suporter terkuat. Namun pikiran kita terkadang ‘bermain’ dengan kita. Di saat kita down, yang bisa mengangkat diri kita adalah kita sendiri, Bagaimana pun orang selalu mendukung dan memberikan kata-kata yang membantu, tetapi kalau dari diri kita tidak bisa membuatnya sebagai action artinya percuma juga. Jadi ya, I have to say that the biggest supporter is myself. Kalau hari ini saya down, saya seperti ngomong ke diri sendiri, “Ayo, Luna. Kamu bisa.”

HBI: Selain dengan menyemangati diri sendiri, apa yang selalu menginspirasi Anda agar tetap unik, kreatif, dan relevan sebagai seorang yang bekerja di bidang seni dan entrepreneur?

LM: Saya suka belajar, tidak hanya dari yang lebih tua tetapi juga dari yang lebih muda. Bagaimana pun juga, mereka adalah generasi penerus. Mumpung saya berada di usia produktif, saya harus bisa beradaptasi karena marketnya sudah bergeser ke orang-orang yang usianya di bawah saya. Yang membuat saya tetap relevan adalah dengan belajar dari mereka, berusaha berbicara dengan bahasa mereka. Karena kalau bahasanya berbeda, bagaimana kita mau dimengerti dan bagaimana kita bisa relevan untuk mereka?

HBI: Namun tetap harus autentik, ya. Apa makna autentisitas bagi Anda dan seberapa penting menjaga autentisitas di dunia kreatif seperti karier yang Anda jalani saat ini?

LM: Harus tetap true to yourself. Beradaptasi bukan berarti kita menjadi orang lain dan sampai kapan pun kita enggak akan bisa menjadi orang lain. Apapun yang kita kerjakan harus tetap memegang jati diri karena kalau ditinggalkan, maka orang tidak akan relate. Orang lain ingin melihat kita karena ingin tahu siapa diri kita. Sehingga, bagi saya pencitraan sudah tidak zaman lagi. Mungkin diperlukan, tetapi seperlunya saja apabila untuk mengangkat citra yang ingin ditampilkan, bukan untuk menjadi sosok yang orang lain inginkan. Terus berpura-pura adalah hal yang melelahkan karena effort-nya dua kali lebih besar. Namun kalau menjadi diri sendiri ‘kan naturally you are you dan itu akan memudahkan apapun. Bagi saya, true to yourself bisa menjadi kunci kesuksesan.

Luna Maya

Perhiasan, Bvlgari B.zero1
Scarf, Bvlgari
Dress, Kalla Rona

HBI: Untuk pemotretan kali ini Anda mengenakan Bvlgari yang mengusung kecantikan lewat kombinasi material pilihan kaya warna di koleksi Polychroma. Sama seperti kekayaan karakter Bvlgari, Anda sendiri sebagai seorang aktris juga dibekali dengan pluralitas karakter keaktoran yang artinya Anda telah mempelajari keberagaman karakter manusia. Ceritakan, bagaimana keberagaman ini memperkaya Anda sebagai pribadi di titik sekarang?

LM: Menurut saya, menjadi seorang aktor adalah salah satu privilege yang luar biasa karena kita bisa masuk ke begitu banyak karakter dan cerita manusia. Itu yang membuat saya mempunyai rasa empati yang lebih tinggi karena kita bisa masuk ke sepatu kehidupan orang lain tanpa harus berada di situasinya. Bagi saya ini menyenangkan, rasanya luar biasa, dan membuat saya menjadi lebih kaya bukan secara materi tetapi secara pengalaman. Kaya terhadap rasa yang nantinya bisa kita olah untuk menjadi lebih bijak dalam bersikap. Jadi saya lebih suka lagi bila bisa memainkan semakin banyak jenis atau peran yang mungkin di luar bayangan saya. Kurang lebih everyday we learn about human.

HBI: Tetapi masih banyak yang menganggap bahwa kekayaan diraih dengan melihat angka dan hasil, padahal di dalamnya ada sebuah proses yang sering dipandang sebelah mata.

LM: Kita mungkin sudah terkontaminasi dengan media sosial sebagai sebuah wadah di mana kita bisa mengaktualisasikan diri, termasuk berbagi achievement. Ada saatnya ketika kita mendapatkan likes atau komentar yang kelihatan angkanya itu dapat meningkatkan kepercayaan diri. Kadang-kadang, kita juga menjadi terlena sehingga melakukan sesuatu yang mungkin bisa mengubah diri kita. Lalu biasanya diri kita menjadi butuh validasi dan itu yang gawat. Jadi sayang banget banyak orang yang menggunakan materi atau bentuk pencapaian material sebagai bentuk validasi kesuksesan, sehingga sekarang masyarakat kita sudah terbiasa bahwa tolok ukur kesuksesan adalah materi. Saya tidak munafik. I am not gonna lie. Pada saat kita sudah achieve ‘kan kita juga ingin show of bahwa kita mampu punya ini dan itu. Memang ada ­stage-nya dan proses perjalanan setiap manusia itu berbeda sehingga ada masanya ia menikmati itu.

Kembali lagi, karena saya pernah banyak memerankan karakter, saya jadi banyak belajar psikologi, belajar tentang manusia itu sendiri, dan less judging. Kalau sekarang buat saya yang lebih berharga adalah waktu untuk menikmati setiap momen dan menit dengan orang-orang yang dicintai dan spend time with traveling. Saya menganggap traveling adalah sebuah proses belajar. Bertemu banyak orang berbeda dan bepergian ke tempat yang berbeda itu membuka banyak sekali kesempatan untuk lebih memahami budaya, bahasa, dan kebiasaan yang mungkin berbeda Menurut saya, ini adalah journey yang tidak bisa dikalahkan dengan uang, apalagi memori.Memori itu akan kita kenang. Tanpa sadar, lewat traveling kita bisa bertemu dengan orang yang pintar dan berbagi pengalaman. I am not saying I do not like expensive, nice things. I still like it hanya saja sekarang lebih mindful.

Proses belajar terus berjalan. Kalau kita berhenti belajar, kita mati. Saya menganggap kalau saya stop belajar artinya saya menjadi mayat yang akan dimasukkan ke tanah. Saya belajar dari ibu saya yang sampai saat ini tidak pernah berhenti belajar and I admire her. Hal yang membuat kita pintar itu keren.

Anting, cincin & gelang, Bvlgari Divas’ Dream
Kalung & gelang, Bvlgari Tubogas
Dress, Saya

HBI: Berbicara tentang traveling, kami mendapat kabar bahwa pemotretan bersama Bazaar dan Bvlgari kemarin adalah kali pertama Anda ke Sisilia, Italia. Sebagai seseorang yang senang belajar dan memperkaya diri dari traveling, apa kesan yang paling Anda ingat dan apa value berharga yang Anda dapatkan dari perjalanan ke Sisilia?

LM: Yang saya ingat pertama adalah makanannya yang enak sekali dan agak sedikit berbeda dengan daerah Italia lainnya. Pemandangannya juga cantik. Kota-kotanya juga menarik untuk di datangi, waktu itu kami ke Catania dan Syracuse.

HBI: Film dan perhiasan, secara spesifik Bvlgari, sama-sama buah kreativitas. Lalu bagaimana Anda melihat hubungan craftsmanship di antara keduanya? Apakah ada benang merah yang bisa dipetik?

LM: Film dan perhiasan terutama Bvlgari sama-sama berangkat dari kerajinan tangan, keindahan detail, dan emosi. Keduanya tidak hanya tentang hasil akhir, tapi tentang proses kreatif yang penuh dedikasi dan jiwa.

HBI: Setelah mendapat begitu banyak pencapaian, apa impian yang ingin Anda raih?

LM: Masih banyak yang ingin dikerjakan lagi. Saya ingin bisa mendapatkan film yang menarik dari sisi cerita, juga mendapatkan penghargaan dari sana. Saya ingin mencoba berbagai genre film, termasuk film festival. Demikian juga dengan bisnis agar dapat beridiri mandiri dan sukses.

HBI: Bagaimana Anda ingin dikenang dan apa legasi yang ingin Anda tinggalkan?

LM: Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang memberikan dampak baik dan bisa menginspirasi orang. Walaupun hanya satu orang, tetapi itu sudah cukup membuat saya merasa berguna sebagai manusia.

HBI: Bagaimana kesiapan Anda menyambut tahun 2026?

LM: Kesiapan saya untuk 2026 semakin baik dan matang. It’s never been better. I am loving my 40s so far and only getting better. Cannot wait for 2026!

HBI: Apa yang bisa kita nantikan dari Anda dalam waktu dekat?

LM: Kalau film akan ada Suzanna di 2026, dan mungkin series. Setelah ini saya akan rehat sejenak atau hiatus dari film untuk sementara waktu dengan tujuan fokus pada keluarga dan bisnis.

Luna Maya


© 2025 Harper's BAZAAR Indonesia.