Kemeja, blazer, & ruff, Jan Sober. Denim & sneakers, milik pribadi
Sekarang saya sadar betapa pentingnya dikelilingi orang-orang yang bisa menjadi fondasi kuat buat saya.
Kemeja, blazer, & ruff, Jan Sober. Denim & sneakers, milik pribadi
“Menurut saya, perbedaan yang paling signifikan itu mungkin dari sisi kepercayaan diri, ya. Memasuki umur 22 ini, I feel like I’ve found a sense of comfort in just being myself,” ujarnya tanpa banyak jeda, seolah ia sudah tahu persis apa yang ingin ia sampaikan.
Empat tahun telah berlalu sejak Gabriel Prince pertama kali berbincang dengan Harper’s Bazaar Indonesia, ketika usianya masih 18 tahun. Pada Kamis siang di sebuah studio di Kemang, Bazaar kembali duduk bersama penyanyi dan juga aktor ini untuk menengok kembali apa saja yang telah berubah, dari karier hingga cara ia melihat dirinya sendiri.
Selain menjadi lebih nyaman dengan dirinya sendiri, menginjak usia kepala dua, ia juga mulai menyadari pentingnya memiliki support system yang kuat. “Sekarang saya sadar betapa pentingnya dikelilingi orang-orang yang bisa menjadi fondasi kuat buat saya. Saya rasa, itu yang saya sadari menjadi perbedaan paling besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.
Atasan & bolero, Yosafat Dwi Kurniawan. Kemeja & collar, milik stylist
Sekarang saya sadar betapa pentingnya dikelilingi orang-orang yang bisa menjadi fondasi kuat buat saya.
Selama beberapa tahun terakhir, Gabriel Prince telah akrab dengan sorotan publik. Namun, ketika memiliki waktu luang, ia memilih untuk menjalani harinya dengan ritmenya sendiri. “Nobody can rush me. I’m doing everything in my own time. Jadi, kalau sedang tidak ada jadwal, saya biasanya bangun tanpa alarm dan memulai hari dengan sarapan. Setelah itu, I just take things really slow. Kalau sedang ingin, saya akan berolahraga. Atau saya menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman terdekat. Entah nonton film bareng atau jalan-jalan ke kafe,” tuturnya.
Meski begitu, ia tetap menyempatkan diri untuk melakukan sesuatu yang produktif di penghujung hari. “Saya tidak bisa menjalani satu hari penuh tanpa melakukan sesuatu. Jadi, menjelang akhir hari, saya tetap ingin punya sesuatu yang bisa saya kerjakan dan selesaikan. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya checklist dan rasanya tetap produktif,” tegas aktor yang akrab disapa dengan Prince.
Datang dari keluarga besar, Prince bercerita tentang kedekatannya dengan keluarga yang kini memiliki kesibukan masing-masing. “I come from a family of seven. Sekarang orang tua saya sudah berpisah dan ketiga kakak saya sudah memiliki kehidupan masing-masing. Saya tinggal bersama Mama dan adik-adik saya yang masih kecil. Jadi, ada empat anak di rumah, tetapi kami semua juga punya kesibukan masing-masing," jelasnya.
Kesibukan masing-masing tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang. Prince dan keluarganya justru menyempatkan waktu untuk benar-benar hadir satu sama lain. “Begitu ada waktu luang untuk bertemu, semua handphone disimpan. Ketika itu, kami akan saling bercerita tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan masing-masing, saling berbagi kabar, dan benar-benar meluangkan waktu untuk satu sama lain. “Once we do find the time to talk to each other, that’s where the love shows.” Ketika ditanya apakah meluangkan waktu bersama orang-orang terdekat merupakan love language-nya, Prince langsung mengiyakan. “I would say so, 100%. I would say so,” ujarnya.
Jaket, Louis Vuitton. Brooch, Tha. Turtleneck & scarf, milik stylist
Nobody can rush me. I’m doing everything in my own time.
Kedekatan Prince dengan keluarganya, terutama sang ibu, turut membentuk cara ia melihat perjalanan kariernya. Sang ibu yang juga pernah berkecimpung di industri hiburan kerap membagikan nasihat tentang bagaimana menghadapi dunia yang penuh sorotan ini. “Hal yang selalu ia ingatkan kepada saya adalah untuk selalu rendah hati,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar nasihat, Prince juga banyak belajar dari cara sang ibu menjalani kesehariannya. “Sejak kecil, saya selalu melihat bagaimana Mama memperlakukan orang lain. Dia tidak pernah lupa untuk tersenyum, dan itu menjadi sesuatu yang selalu saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Walaupun sedang capek atau berada dalam kondisi apa pun, Mama selalu berusaha untuk tetap tersenyum."
Dalam perjalanan kariernya, Prince telah mengeksplorasi berbagai bidang, mulai dari akting hingga musik. Ketertarikannya pada musik pun bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Semasa SMA, pelajaran olahraga dan musik menjadi salah satu mata pelajaran yang paling ia sukai, hingga ia menyadari bahwa dirinya lebih tertarik pada bidang kreatif.
Atasan & celana, Hartono Gan
Saya mungkin bukan anak yang akan unggul secara akademis seperti kebanyakan orang. Tapi saya tahu apa yang saya minati, yaitu musik dan seni.
Menyadari hal tersebut, ia pun pernah mengatakan kepada sang ibu, “Saya mungkin bukan anak yang akan unggul secara akademis seperti kebanyakan orang. Tapi saya tahu apa yang saya minati, yaitu musik dan seni, dan saya ingin mendalaminya. Saya ingin belajar lebih banyak tentang ini.”
Dalam mencari genre yang paling sesuai dengan dirinya, Prince mengaku masih terus bereksperimen. “Sejujurnya, saya masih mencari tahu genre mana yang paling cocok untuk saya. Selama ini, saya sudah mencoba begitu banyak genre yang berbeda, dan sebagian besar di antaranya masih belum dirilis," terangnya.
Eksplorasi itu juga tercermin dalam cara ia menciptakan lagu. Prince lebih suka membiarkan proses kreatifnya mengalir secara spontan melalui freestyle. “Yang saya suka lakukan adalah freestyle. Setelah itu, saya memilih topik, lalu saya tinggal menyanyikan apa pun yang muncul dari topik tersebut,” jelasnya.
Kemeja, celana, half-skirt, Wilsen Willim. Leather armor, Wilsen Willim x Peau. Sneaker, milik pribadi
Prince juga tak ragu menuangkan perasaannya ke dalam karya musiknya. Hal tersebut terasa dalam rilisan terbarunya, Berdebu Memori, kolaborasinya bersama Naomi Ivo yang ternyata terinspirasi dari kisah nyata dalam persahabatan mereka. “Sedikit backstory, sebenarnya ada satu masa dalam hidup kami ketika saya dan Naomi sangat dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama dan menjadi dekat dalam waktu yang cukup singkat. She became like my little sister. Tapi kemudian ada satu kejadian yang akhirnya membuat hubungan kami merenggang. Setelah itu, kami sampai tidak berbicara selama setahun,” ungkapnya.
Selama setahun itu, Prince mengaku banyak orang turut memberikan pandangan mengenai persahabatan mereka hingga akhirnya ia ikut terpengaruh. Namun, keduanya kemudian kembali bertemu, membicarakan apa yang terjadi, dan perlahan kembali dekat. “Sebenarnya kami sudah lama ingin membuat lagu bersama, tetapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat. Sampai akhirnya, tahun ini kami bisa berkolaborasi. Bagi saya, makna lagu ini sendiri sudah menjadi memori yang sangat berarti. Saya bukan tipe orang yang mudah memberikan kesempatan kedua. Tapi ternyata, orang bisa tumbuh dan berubah," ceritanya.
Dalam ranah akting, Prince turut merefleksikan perjalanannya sejak pertama kali mendapat peran hingga kini. “I love acting so much,” ujarnya. “Peran pertama yang saya dapatkan sebenarnya tanpa casting. Saat itu, bahasa Indonesia saya masih cukup kaku dan saya juga belum memiliki pengalaman akting sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa setiap orang punya prosesnya masing-masing. Saya pun memutuskan untuk mengikuti acting course dan terus mengasah kemampuan saya, hingga akhirnya mendapatkan peran besar pertama saya dua tahun lalu lewat film Laut Tengah,” tuturnya.
Jaket, coat, & celana, Raegitazoro. Brooch, Two Stitches. Scarf & hat, milik stylist
Saya bukan tipe orang yang mudah memberikan kesempatan kedua. Tapi ternyata, orang bisa tumbuh dan berubah.
Sebagai seseorang yang senang menantang dirinya sendiri, Prince ingin mengambil peran yang benar-benar berbeda dari karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya. Ia pun tertarik untuk mencoba karakter seperti pembunuh atau penjahat. “I would love to be a serial killer. Kedengarannya cukup seram, tapi sebenarnya sejauh ini saya selalu mendapatkan peran yang bisa dibilang cukup aman. Memang karakternya berbeda dari diri saya, tetapi belum sampai benar-benar berbanding terbalik dengan diri saya,” jelasnya.
Sebagai public figure, Prince tentu tidak asing dengan berbagi kehidupan dan kepribadiannya kepada publik. Meski begitu, ia menyadari bahwa ada banyak sisi dirinya yang belum terlihat di media sosial. “Saya pernah berpikir, ‘Apa ini benar-benar saya, atau hanya Gabriel Prince yang orang-orang lihat di media sosial?’ Tapi sebenarnya, ini tetap saya. Hanya saja, ini adalah salah satu sisi diri saya yang saya tunjukkan kepada publik,” ujarnya.
Jaket, Sean Sheila. Scarf, Raegitazoro
Di balik sosok yang terlihat di media sosial, Prince merasa masih banyak sisi personal yang belum ia bagikan. Ia pun ingin membuat para pengikutnya mengenalnya lebih dekat. “Saya jarang sekali benar-benar duduk dan berbicara dengan followers, atau membuat konten seperti a day in my life. I want to let my followers get to know me a little bit more personally. I think that’s definitely what I want to work on,” tutupnya.