Eva Celia Menulis Sendiri Kisahnya Lewat Seni

Sebagai musisi dan aktor di luar jejak keluarga, ia membangun kekuatannya lewat pengalaman dan kegemarannya menyelami buku.


I feel like Audrey Hepburn,” ucap Eva Celia dengan riang sembari melangkah menuju area pemotretan dalam balutan gaun Dior berwarna abu dari koleksi Autumn/Winter 2026. “Rasanya seperti punya kepribadian baru. I feel like a powerful lady,” lanjutnya. Ekspresinya ketika ia mengenakan busana itu tak bisa dikatakan berlebihan, terutama sebagai penggemar Jonathan Anderson. “Saya memang a huge fan of Jonathan Anderson. The fact that I could wear the piece itu seperti dream come true.”


Eva-Celia

Dari perbincangan kami bersama Eva, tersirat bahwa sosok powerful itu sudah terbangun dalam dirinya. Selang empat tahun sejak terakhir bertemu dengan Bazaar, ia telah mencatatkan perubahan besar inwards. “Mungkin tema terbesar di dalam hidup saya empat tahun belakangan ini memang judulnya perubahan pada cara saya memandang diri sendiri. Dulu saya mungkin lebih sering merasa harus membuktikan sesuatu, tetapi sekarang sudah jauh lebih tenang dan menyadari bahwa hidup dan karier itu bukan perlombaan melainkan perjalanan panjang. It is a learning process,” tuturnya memulai percakapan. “Saya juga sekarang semakin nyaman menjadi seseorang yang terus belajar. Saya berusaha untuk berdamai dengan kenyataan bahwa I do not always have the answer to everything. Justru saya sekarang lebih menikmati proses, menjadi student of life baik itu dalam mempersiapkan karakter, menulis lagu, membaca buku, bahkan belajar olahraga baru atau skill baru. Sepertinya hobi saya adalah mengoleksi hobi,” ia melanjutkan dengan tawa seolah baru menyadari sebuah pola dalam hidupnya yang menegaskan semangatnya mencoba hal baru tanpa henti. “I think there is a certain freedom ketika kita tidak lagi mengejar kesempurnaan, tetapi justru fokus pada perjalanannya,” lanjut perempuan penggemar olahraga ini.


Eva-Celia

Untuk akhirnya sampai pada pemikiran serupa tentu tidak mudah dan tidak sama rata rasanya bagi semua orang. Eva melalui prosesnya sendiri. “Empat tahun terakhir banyak sekali momen penting dalam hidup saya, tetapi rasanya perubahan itu terjadi ketika saya berulang tahun ke-30. Ketika banyak orang bertanya bagaimana rasanya menginjak usia tiga puluh tahun, saya justru selalu merasa ini adalah momen terbaik dalam hidup saya karena you become your own woman and you stop listening to what people think about you and just start living truly for yourself. Ada keinginan yang kuat bahwa saya ingin menulis cerita saya sendiri dan hidup dengan cara saya sendiri. Bukan sesuai standar orang lain melainkan sesuai dengan apa yang saya rasa baik dan exciting.” Lahir dari lingkungan keluarga yang dekat dengan seni tidak serta merta membuat jalannya sudah tergariskan. “Saya tidak hanya ingin meneruskan cerita yang sudah ada. Benar, saya mengikuti jejak keluarga, tetapi penting juga untuk saya bisa menemukan bahasa saya sendiri dalam memahami manusia. Misalnya, musik mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap emosi, sementara di dunia akting saya belajar untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dua profesi ini bukan jalan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.”


Eva-Celia

Saya berusaha untuk berdamai dengan kenyataan bahwa I do not always have the answer to everything. Justru saya sekarang lebih menikmati proses, menjadi student of life.

Melengkapi dalam arti bahwa seni musik dan seni peran turut mengasah dan memperkaya karakternya sebagai manusia. Ia menyadari satu hal, “Keduanya menuntut kerentanan. I have to be okay with being vulnerable in front of people. Sebagai musisi saya harus membagikan bagian yang paling personal dari diri saya. You know, saya menulis lagu sendiri. Sementara sebagai aktor, saya justru harus melepaskan identitas saya supaya saya bisa menjadi orang lain. Yang paling rewarding adalah ketika karya itu membuat orang lain merasa lebih dimengerti entah melalui lagu atau film. It is an amazing feeling when someone tells you bahwa ‘saya tidak merasa sendirian.’ Prinsip yang selalu saya pegang adalah vulnerability is a super power. Tentu tidak mudah tetapi harus dimiliki.”



Menjadi sosok powerful juga terbentuk dari hobinya membaca buku, sarana yang kerap menjadi mentornya. Tak jarang Eva membagikan ceritanya berburu buku di media sosial. Yang menarik, ternyata awalnya kebiasaan membaca bukanlah sesuatu yang langsung ia sukai meski melihat sang ibu gemar menekuni buku. “Mungkin karena saya anaknya suka penasaran, akhirnya saya belajar untuk jatuh cinta dengan membaca,” ucapnya. Pernah berada di titik itu tampaknya membuat ia paham bahwa membaca memerlukan usaha ekstra. “But you can learn to love reading once you find the right books and once you fall in love with stories. Hubungan saya dan buku pun terus berubah. Dulu saya membaca untuk mencari informasi, tetapi sekarang berkembang menjadi cara yang membantu saya untuk melatih empati karena buku memungkinkan kita untuk hidup sebagai orang lain lewat setiap halamannya. Menurut saya, itu adalah pengalaman yang sangat berharga terutama sebagai aktor. It is such an enriching experience. That’s why I love reading and I love being surrounded by books. I think it is magical mengetahui bahwa saya dikelilingi oleh inner world orang lain.”


Eva-Celia

Vulnerability is a super power.

Tren membaca yang tengah naik daun saat ini pun tak luput dari pandangan Eva. Menyenangkan baginya melihat trennya terus tumbuh tetapi secara bersamaan terlihat kompleks karena tren ini mungkin hanya terjadi di kota besar dan terkadang terlalu disederhanakan menjadi sebuah kemalasan berliterasi. “Menurut saya literasi adalah ekosistem, bukan kebiasaan individu. Banyak sekali lapisan yang tidak kita lihat, misalnya aksesnya yang belum merata. Jika akses itu terbatas, sulit rasanya mengharapkan budaya membaca itu tumbuh secara organik. Mengingat pengalaman sekolah dulu, pendidikan masih berorientasi pada jawaban yang benar. Saya merasa bahwa anak-anak diajarkan membaca untuk menjawab soal, bukan untuk memahami, berpikir secara kritis, dan menangkap idenya. Sehingga membaca rasanya seperti aktivitas utilitarian.”


Eva-Celia

Ia pun tidak menyanggah bahwa memiliki waktu luang untuk membaca buku di masa digital sekarang, di mana informasi mengalir serba instan dan praktis, adalah sebuah kemewahan baru. “Justru karena itu saya berusaha melindungi waktu membaca saya seperti saya melindungi jadwal kerja. Bagi saya, membaca buku bukan reward setelah selesai bekerja, tetapi itu adalah bagian dari pekerjaan saya sebagai seniman. The more I read, the more I understand human being and the better I can do my job.” Di tengah kesibukannya, ia meluangkan setidaknya tidak lebih dari tiga hari tanpa membaca, minimal dua hingga tiga halaman sehingga tidak terlalu overwhelming. “Yang harus saya ingatkan pada diri sendiri adalah it is always quality over quantity, karena kita selalu ingin membaca banyak sekali buku dalam setahun, dan benar, ada banyak sekali buku bagus untuk dibaca tetapi sebaiknya luangkan waktu dan selami ceritanya tanpa harus diburu-buru.”



Masih banyak cerita yang kita nantikan dari Eva. Bab yang baru ia tulis saat ini adalah tentang sebuah komunitas silent reading party yang ia bangun dan rencananya ingin diadakan setiap bulan. “Saya happy sekali. Awalnya saya kira tidak ada yang hadir, ternyata daftarnya sudah penuh dalam waktu satu jam. I had so much fun.” Bagaimana dengan film? Aksinya dapat segera kita tonton di film Laut Bercerita di mana ia berperan sebagai Ratih Anjani, seorang seniman yang sayangnya hidup dalam situasi yang tidak pasti. “Saya merasa dekat dengan keyakinannya bahwa seni bukan sekadar hiburan, Seni bisa menjadi alat untuk kita mengingat dan melawan lupa.”


Eva-Celia


© 2026 Harper's BAZAAR Indonesia.