“Proses pematangan adalah tentang semakin memahami diri sendiri, belajar menghadapi emosi tanpa lari darinya, serta mampu membedakan antara kebisingan luar dan suara hati sendiri.”
Dikenal dengan visi artistiknya yang sinematik dan emosional, DPR IAN bukan hanya seorang musisi, tetapi juga seorang kreator yang menjadikan perasaan sebagai fondasi utama dalam setiap karyanya. Begitu pula dengan kolaborasinya bersama Alchemist melalui proyek OUT WEST, ia berbicara tentang proses, waktu, dan bagaimana seseorang dibentuk oleh pengalaman hidup yang terus berjalan.
Bagi IAN, dukungan para penggemarnya di Indonesia memiliki arti yang sangat besar. Ia merasa bahwa para Dreamers, panggilan untuk penggemarnya, di Indonesia tidak hanya mendukungnya sebagai artis, tetapi juga sebagai manusia yang sedang berusaha menciptakan sesuatu yang jujur dan bermakna. Kehangatan itu terasa tulus dan memberinya dorongan untuk terus berkembang. Terakhir kali ia mengunjungi Indonesia pada tahun 2024, dan energi yang ia rasakan saat itu masih membekas dengan jelas. Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang dengan koneksi emosional yang kuat.
“Proses pematangan adalah tentang semakin memahami diri sendiri, belajar menghadapi emosi tanpa lari darinya, serta mampu membedakan antara kebisingan luar dan suara hati sendiri.”
Kolaborasinya dengan Alchemist pun terjadi bukan secara kebetulan. Yang membuatnya tertarik bukan hanya konsep proyeknya, tetapi juga ketelitian dan niat yang terasa dalam setiap detail presentasi tim tersebut. IAN mengaku dirinya selalu tertarik pada orang-orang yang menghargai proses dan menciptakan sesuatu dengan penuh kesadaran. Ia melihat kesamaan antara pendekatan Alchemist terhadap parfum yang sabar, emosional, dan penuh penghormatan terhadap kerajinan dengan caranya bermusik. Kolaborasi ini terasa seperti pertemuan dua visi yang sejalan, bukan sekadar kerja sama biasa.
Konsep OUT WEST sendiri berbicara tentang refined through time atau dimatangkan oleh waktu. Bagi IAN, tidak ada batas antara dirinya sebagai individu dan sebagai artis. Keduanya tumbuh bersamaan. Ia percaya bahwa pertumbuhan bukan sesuatu yang terjadi hanya saat seseorang sedang bekerja, melainkan proses yang berlangsung setiap saat. Setiap kegagalan, keberhasilan, dan momen refleksi ikut membentuk dirinya.
Dimatangkan oleh waktu, menurutnya, bukan berarti menjadi sempurna. Kesempurnaan justru terasa kaku dan tidak hidup. Sebaliknya, proses pematangan adalah tentang semakin memahami diri sendiri, belajar menghadapi emosi tanpa lari darinya, serta mampu membedakan antara kebisingan luar dan suara hati sendiri. Seiring perjalanan kariernya, ia merasa semakin memiliki kejelasan tentang apa yang benar benar terasa autentik. Ia juga menyadari bahwa intensitas tidak selalu berarti dampak yang lebih besar. Terkadang justru kesederhanaan dan pengendalian diri yang memberi kekuatan.
Dalam kesehariannya, aroma memiliki peran penting. Bagi IAN, wewangian adalah saklar emosional yang bisa langsung mengubah suasana batin. Saat ia mencipta, aroma membantu membangun ruang mental tertentu, seperti mengatur pencahayaan sebelum adegan dimulai. Aroma membantunya fokus dan memberi sinyal bahwa ini adalah waktu untuk berkarya. Ia juga percaya bahwa aroma menyimpan memori. Beberapa wangi tertentu dapat membawanya kembali pada malam malam panjang di studio atau momen ketika semuanya terasa selaras. Bukan hanya tempat yang ia ingat, tetapi juga perasaan yang menyertainya.
Ketika pertama kali mencoba OUT WEST A.M, ia teringat suasana pagi yang tenang, jalan yang masih sepi dan sinar matahari yang perlahan menghangatkan udara. Aroma itu terasa jernih, stabil, dan penuh tujuan. Sementara OUT WEST P.M mengingatkannya pada sesi studio larut malam, ide ide yang mengalir, diskusi yang intens, dan energi kreatif yang terus bergerak. Satu terasa menenangkan dan terarah, yang lain terasa dinamis dan penuh semangat.
“Saya selalu tertarik pada orang-orang yang menghargai proses dan menciptakan sesuatu dengan penuh kesadaran.”
Sebagai kreator multidisiplin, IAN selalu memulai dari perasaan. Ketika ia sudah memahami emosi yang ingin disampaikan, termasuk beratnya, teksturnya, dan suasananya, media apa pun yang digunakan akan mengikuti secara alami, entah itu musik, visual, atau bentuk ekspresi lainnya. Baginya, semua medium hanyalah cara berbeda untuk memberi bentuk pada keadaan batin yang sama.
Melalui kolaborasi ini, ia berharap para penggemarnya di Indonesia dapat merasakan OUT WEST sebagai ruang personal, sesuatu yang bisa dihayati dengan cara masing-masing. Ia bersyukur atas dukungan yang terus mengalir, bahkan di saat saat yang mungkin tidak disadari para penggemarnya. Pada akhirnya, ia ingin karya ini menjadi sesuatu yang bertahan lebih lama dari sekadar momen, hadir secara tenang dalam keseharian, dan menemani perjalanan setiap orang dengan caranya sendiri.