“Saya ingin mencoba memotivasi banyak generasi, khususnya anak muda untuk bisa survive. Karena tidak bisa dipungkiri, di era digital, di mana semua orang bisa berkomentar dan menjadi apapun yang mereka mau, Anda harus mempunyai mental yang tangguh.”
Irama penuh energi dari album Everyone’s A Star milik 5 Seconds of Summer menyuntikkan semangat yang hidup di ruang pemotretan Harper’s Bazaar Indonesia bersama Devano siang itu. “Everyone’s a star, baby it’s a dream. Show me who you are…” Penggalan liriknya terasa selaras dengan sosoknya. Devano, seorang bintang muda yang tengah menikmati setiap dinamika dan kesibukan dalam kesuksesan perjalanan kariernya sebagai seorang aktor dan musisi.
Lima tahun lalu, kami pernah berbincang dengan sang aktor dalam kesempatan yang berbeda. Jeda waktunya cukup panjang untuk seseorang berkembang dan memperkaya kualitas diri. Sejumlah film dengan berbagai genre telah ia bintangi, seperti Antares (2022), Malam Pencabut Nyawa (2024), serial Zona Merah (2024), dan Perayaan Mati Rasa (2025). Puncaknya adalah film Gowok: Javanese Kamasutra (2025) yang tembus ke Festival Film Rotterdam dan film Pangku (2025) yang premiere di Busan International Film Festival. Saat kami bertemu, ia telah menyelesaikan syuting film Zona Merah versi layar lebar dan kabarnya agendanya sudah terisi hingga tahun depan. Ia juga telah merilis albumnya Nanti Pasti Kan Ada pada September 2025 lalu.
Rasanya mungkin tidak terbayangkan berada di titik ini, tetapi Devano tetap terlihat tenang. “Sebenarnya tidak ada yang berubah, sih. Hanya menjadi Devano yang berpikir dan bergerak lebih luas karena kita pasti juga bergerak dari tahun ke tahun. Semakin dewasa, matang, dan keren,” ucapnya dengan nada ceria yang membuat pembuka obrolan terasa akrab. “Mungkin belakangan saya punya ambisi yang sangat besar, tapi cara mengekspresikannya pun tidak berlebihan. Jadi saya merasa bahwa apa yang saya lakukan sekarang masih dalam ranah yang seimbang dan itu menjaga supaya saya tetap fun menjalaninya. Saya melewati semuanya secara humble saja,” ia mengungkapkan caranya mengimbangi kesibukannya. “Sepertinya masing-masing orang memiliki caranya sendiri, kalau saya mungkin dengan cara menjadi manusia. Di luar kamera saya suka jalan sendirian, naik MRT sendiri, dan apapun saya bisa lewati sendiri,” lanjutnya.
“Saya ingin mencoba memotivasi banyak generasi, khususnya anak muda untuk bisa survive. Karena tidak bisa dipungkiri, di era digital, di mana semua orang bisa berkomentar dan menjadi apapun yang mereka mau, Anda harus mempunyai mental yang tangguh.”
Devano memaknai aktif bukan dalam hal memaksakan diri, melainkan tetap bergerak tanpa kehilangan rasa nyaman dalam menjalaninya. Sebagai sosok yang mengaku santai, rasa nyaman dapat muncul bukan hanya dari cara ia menikmati hari, tetapi juga dari apa yang ia kenakan. “Menurut saya, kenyamanan itu sesuatu yang bisa kita rasakan dengan cara yang tidak berlebihan. Saya anak yang sangat into fashion dan Onitsuka Tiger menjadi salah satu pilihan saya karena koleksinya klasik, banyak model yang saya sukai, dan tentu saja nyaman. Itu adalah rasa terpenting dalam menjalani kehidupan, karena kalau kita tidak nyaman, kita tidak bisa melakukan semuanya dengan santai. Oleh karena itu saya memilih sepatu yang membuat saya bisa melangkah dengan lebih rileks seperti koleksi dari Onitsuka Tiger,” tuturnya. Dalam pemotretan hari itu ia berkesempatan mencoba beberapa pasang sepatunya. Pilihannya jatuh pada PLABALA yang memadukan plat (berarti flat dalam bahasa Latin), Lunar, dan Ballet. Sepatunya yang ringan merepresentasikan fleksibilitas dalam bergerak, sesuai dengan ritme perjalanan Devano. “Saya juga sering banget melihat di media sosial kalau sekarang sedang tren pria memakai sepatu balet dan itu adalah salah satu yang justru unik.”
Baik dari dirinya sebagai aktor maupun musisi, keduanya sama-sama menyumbangkan peran yang membantunya untuk bertumbuh. Dunia keaktoran adalah yang paling memberinya banyak pelajaran. “Saya dulu adalah anak yang sering baca buku di sekolah, lalu tiba-tiba harus banyak bicara dan akting di depan kamera. Awal-awal akting saya masih suka belibet. Jadi ya, itu yang paling menantang dan saya bisa melewati semuanya sendiri. Saya juga orang yang sangat ingin belajar untuk menjadi lebih baik, oleh karena itu, saya suka nonton dan membaca skrip pelan-pelan dan mungkin dalam keadaan yang tidak mudah,” ceritanya. Perjumpaannya dengan sosok yang ia anggap sebagai mentor seperti Dian Sastrowardoyo yang ia panggil dengan sebutan Ibu, Lukman Sardi, dan Reza Rahadian turut membantunya termotivasi.
Sementara itu, dunia musik sudah menjadi hal yang dekat dengannya sejak kecil. “Saya bukan orang yang bisa menceritakan semua hal yang saya rasakan, sehingga semuanya tertuang ke tulisan. Sebenarnya bukan langsung dalam bentuk lagu, tetapi seperti semacam jurnal yang saya tulis setiap hari dan itu yang bisa dibuat menjadi lagu. Beberapa lagu saya diambil dari jurnal yang saya tulis sejak sekolah dasar,” jelasnya. Kebiasaannya menulis jurnal lambat laun membuatnya lihai untuk romanticized kata-kata dan keadaan serta membentuk karya yang puitis dan reflektif. Seperti halnya lagu Beribu Cerita dari album Nanti Pasti Kan Ada. Lagunya menarik perhatian Bazaar berkat lirik tentang menjadi dewasa. “Lagu itu memang menceritakan tentang diri saya, bagaimana cara saya berkembang, dan bagaimana cara saya melihat dunia pada saat itu sampai sekarang. Saya sudah mengikhlaskan semua hal yang terjadi dalam diri saya. Let’s say, semua orang tahu apa yang saya lewati dan prosesnya seperti apa. Itu tidak mudah. Saya ingin mencoba memotivasi banyak generasi, khususnya anak muda untuk bisa survive. Karena tidak bisa dipungkiri, di era digital, di mana semua orang bisa berkomentar dan menjadi apapun yang mereka mau, Anda harus mempunyai mental yang tangguh.”
Devano berulang kali bercerita bahwa ia sering melakukan banyak hal sendirian tanpa rasa canggung. Mungkin itulah yang membantunya membentuk kekuatan berpijaknya sekarang sebagai sosok yang mandiri. Terlihat sederhana, tapi justru ini menyimpan banyak makna. Ia tampak memiliki keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi dirinya sendiri. Obrolan bersama Devano hari itu menjadi sebuah refleksi bahwa kemandirian bukan tentang menutup diri dari orang lain, melainkan tentang mengenal diri dan kekuatan sendiri. Album Everyone’s A Star yang terus mengiringi proses pemotretan akhirnya sampai pada lagu terakhir. Penggalan liriknya yang berbunyi “In a dark crowded room through a million faces, hey, I’ll find you” seakan menjadi relatable untuk seseorang yang telah menemukan dirinya.