Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Tips Sukses Memulai Suatu Usaha dan Cara Menjaganya Dari Didiet Maulana

Khususnya untuk usaha di tengah pandemi ini.

Tips Sukses Memulai Suatu Usaha dan Cara Menjaganya Dari Didiet Maulana
Courtesy of Instagram @didietmaulana

Kembali lagi bersama seri Brunch with Dave Hendrik yang disiarkan langsung pada hari Sabtu, 14 Agustus 2021, di akun resmi Instagram Harper's Bazaar Indonesia (@bazaarindonesia). Dave kali ini menyapa penonton setianya dengan mengajak salah satu pengusaha Tanah Air yang bergerak di dunia mode, sambil menikmati menu brunch dari Pasola, Ritz Carlton Pacific Place Jakarta. Merupakan pendiri dari merek pakaian IKAT Indonesia, Didiet Maulana, sangat dikenal suka berbagi ilmu mengenai entrepreneur. Dengan topik besar Dari Fashion Professional ke Fashion Entrepreneur, Didiet banyak memberikan masukan kepada penonton dan cerita kepada Dave bagaimana dirinya bisa mencapai titik sekarang ini. Simak perbincangan menarik keduanya di bawah ini:

"Nah, kalo Didiet diminta untuk mengurutkan dari yang paling kuat hingga paling kecil, menurut Didiet faktor kesuksesan Ikat Indonesia 10 tahun ini apa saja?" tanya Dave.

Berikut jawaban yang kami simpulkan:

1. Menjaga Visi

"Visi harus dijaga, visi kami adalah ingin mengajak yang lain untuk maju bersama, kalau senang, tidak senang sendiri," ujar Didiet.

2. Integritas

"Kemudian kedua adalah integritas. Bagaimana kami bisa menjaga integritas kami, dan bagaimana integritas tersebut juga dimiliki oleh semua tim. Sehingga kami tidak berperang sendiri, tetapi kami istilahnya satu kompi, kami paham apa yang ingin kami dapatkan dan bersama-sama berjalan ke sana," pesannya.

3. Lihat Peluang

"Ketiga adalah kuncinya bagaimana kami bisa melihat keterbatasan sebagai peluang. Jadi, walaupun sedang ada keterbatasan yang terjadi, saya selalu terinspirasi dari Charles Windle, masalah dalam hidup itu hanya 10% dan yang membedakan kita dari orang lain adalah bagaimana kita meresponsnya dalam 90% ini," tambahnya.

4. Komunikasi, Jangan Asumsi

"Komunikasi sangat penting. Karena di Ikat Indonesia, kami bilang bahwa asumsi itu membunuh. Jadi, kami tidak boleh saling asumsi, kalau tidak mengerti, tanya, kalau tidak tahu, tanya. Di Ikat tidak ada yang 'saya kira, saya pikir, bukannya' itu tidak ada. Kami tidak ada yang boleh asumsi sendiri, karena kadar setiap orang berbeda. Sehingga kami sebagai tim, harus mengerti bagaimana kami bisa merespons," kata Didiet.

5. Sadar Potensi

"Terakhir kelima, kita harus bisa melihat potensi orang di mana dan bagaimana kita bisa mengoptimalkan posisinya (staf) di posisi yang tepat," jelas Didiet dengan antusias.

Tak hanya itu, Dave juga menanyakan mengenai memperlakukan sebuah brand lebih personal seperti Ikat Indonesia, "Seberapa penting personal brand? Figur di balik brand dalam kesuksesan sebuah brand," ujarnya. 

"Jadi kalau di Indonesia, sebenarnya sekarang di seluruh dunia, orang sekarang ingin tahu. Dengan teknologi semakin maju, orang semakin ingin mengenal hubungan manusia, semakin humanis. Di mana sebuah brand, kemudian menjadi sebuah citra dari pendirinya. Ketika misalnya saat Ikat Indonesia berkembang, pendirinya atau direktur kreatifnya pun ikut terangkat, saling mendukung. Nanti di depan, koneksi dari brand akan menjadi koneksi dari pendiri dan koneksi pendiri sudah pasti akan mendukung brand tersebut. Jadi tidak akan bisa terlepaskan, selama memang masih ada di sana. Dan menurut saya itu bagus sekali, karena kemudian itulah yang akan memberikan jiwa pada brand. Sehingga tidak kaku, dari situ brand memiliki keunikannya tersendiri dan brand yang unik seperti itulah yang bisa terus bertahan," Didiet memaparkan. 


Sebagai seorang pengusaha yang dapat dibilang sukses, Didiet juga memberikan sedikit masukan atau ilmu mengenai kewiraswastaan untuk para pemula, yang biasanya ia bagikan di workshop dirinya kepada para pemilik UMKM:

1. Alasan membuat merek atau mendirikan usaha

"Yang pertama adalah tahu kenapa Anda membuat merek tersebut. Misalnya, Ikat, 'kenapa sih Anda ingin membuat Ikat' ternyata karena begini. Setelah mengetahui 'kenapa', ini akan menjadi titik berangkat kita untuk bisa sampai ke tujuan. Saya selalu menganalogikan, brand kita ibarat mobil dan visi akan menjadi bahan bakarnya yang akan mengantar brand tersebut mencapai tujuan atau visinya," kata Didiet

2. Riset

"Selama perjalanan, nanti ketika kita sudah mengetahui tujuan mengapa bikin brand tersebut, kita akan memulai riset. Riset target pasar, riset tentang brand positioning, ingin taruh di mana harganya," tambahnya lagi.

3. Menentukan produk

Setelah itu, kita eksplorasi produk, produk seperti apa yang ingin kita buat.

4. Promosi

"Lalu, masuk ke bagaimana kita mempromosikannya, saya mengajarkan bagaimana cara membuat konten promosi yang menarik, bagaimana rahasianya, bagaimana pengalamannya begitu," pesan Didiet.

5. Tentukan Lokasi

Jika sudah, Anda harus memikirkan tempat berjualan, akan jual di mana, apakah digital atau offline.

6. Evaluasi

"Kemudian yang terakhir adalah bagaimana cara untuk evaluasi. Kadang kita hanya memproduksi tapi tidak ada yang membeli, apa gunanya. Kalau memang betul bagus, harus terlihat dalam bentuk angka (data), kalau tidak harus melakukan evaluasi seperti 'apakah cara promosinya salah? atau harga kemahalan? atau kurang jelas keterangannya? semuanya kita bedah di sana," pungkas Didiet menjelaskan ilmu yang ia bagikan di kelas Jadi Gini Belajar Bersama yang ia ciptakan.

Nantikan video perbincangan lengkap Dave Hendrik dengan Didiet Maulana dalam episode Brunch with Dave Hendrik yang akan tayang segera di kanal YouTube Harper's Bazaar Indonesia. 

(Penulis: Gracia Sharon, Foto: Courtesy of Instagram @bazaarindonesia, @didietmaulana)