Saat The Devil Wears Prada tayang perdana, saya berusia sembilan tahun. Saya tidak ingat pertama kali menontonnya. Yang saya tahu, film ini dengan cepat masuk ke dalam kanon masa pembentukan saya, dan tetap berada di sana. Dua puluh tahun kemudian, saya adalah jurnalis fashion di sebuah majalah besar, berpindah dari runway show ke acara cocktail, mungkin mengenakan sesuatu yang luar biasa, tetapi tetap dengan sedikit kabut stres yang mengiringi pandangan saya. Jelas, ada sesuatu yang melekat.
BACA JUGA: Meryl Streep Memadukan Mantel Prada dengan Clutch Runway di Premiere London The Devil Wears Prada 2
Film ini menawarkan sekilas dunia yang sulit dijangkau yang saya impikan untuk dimasuki suatu hari nanti, sebagaimana juga dirasakan oleh banyak pecinta fashion dari generasi saya. Andy Sachs, diperankan oleh Anne Hathaway, adalah outsider sejati, atau “gadis polos yang menjajakan cerita korannya dengan penuh kesungguhan,” yang berjuang masuk ke dalam “istana” Runway, sebuah majalah fashion fiktif yang kuat, sambil menghadapi tuntutan yang berlebihan, glamor tinggi, rekan kerja yang kompetitif, serta dampaknya terhadap kehidupan sosialnya di sepanjang perjalanan. Ia memberi kita gambaran tentang rapat-rapat yang membentuk konsep pemotretan, membawa kita ke Paris Fashion Week, bahkan mengajarkan arti istilah run-through. Kita menjadi target yang siap menerima di masa ketika media sosial belum menghadirkan Instagram Stories spontan atau TikTok lo-fi yang mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
The Devil Wears Prada sama sekali bukan dukungan penuh terhadap industri fashion. Film ini pada dasarnya adalah parodi dari kisah horor dunia fashion, tetapi astaga, para karyawan yang menjadi “korban” ujian berat tersebut tetap tampil luar biasa stylish, berkat kostum dari desainer ternama Patricia Field. Meski dipenuhi berbagai tanda peringatan tentang fashion sebagai jalur karier, film ini tetap melukiskan gambaran yang memikat tentang bisnis tersebut sebagai klub eksklusif yang aspiratif. Yang terpenting, film ini memvalidasi kecintaan terhadap fashion sebagai sesuatu yang serius, melalui pidato “cerulean” yang legendaris dari Miranda Priestly, yang diperankan oleh Meryl Streep.
Menjelang perilisan sekuelnya yang sangat dinantikan, kami mengumpulkan pandangan dari berbagai publicist, penulis, desainer, dan editor yang keinginannya untuk masuk ke industri fashion dibentuk oleh The Devil Wears Prada dalam satu cara atau lainnya, baik positif maupun negatif.
“The Devil Wears Prada adalah pintu masuk saya ke dunia fashion pada masa ketika saya menghabiskan sore sepulang sekolah dengan berbaring di lantai kamar mandi marmer ibu saya yang dingin, membolak-balik majalah Vogue, W, dan Harper’s Bazaar, serta katalog Saks. Pada usia itu, editorial terasa seperti sesuatu yang tercipta dengan keajaiban yang sama seperti yang saya lihat di film Disney. Baru setelah menonton The Devil Wears Prada saya mulai memahami bahwa ada orang-orang, dan orang-orang yang berkuasa, di balik cerita-cerita yang membentuk diri saya. Segala hal tentang film ini membangkitkan kegembiraan saya terhadap fashion. Film ini melukiskan industri sebagai menara emas yang hanya bisa disentuh oleh yang terbaik, dan tentu saja saya ingin masuk ke dalamnya. Bagi diri saya yang berusia sembilan tahun, Miranda Priestly terasa seperti sosok yang ilahi. Saya belum pernah melihat seorang perempuan yang begitu glamor, begitu kuat, dan begitu yakin dengan keputusannya. Itu adalah tingkat kepercayaan diri yang membuat diri saya yang masih pra-remaja merasa iri. Jika tujuan film ini adalah untuk menakut-nakuti orang agar menjauh dari industri dengan ego-ego besarnya, efeknya justru sebaliknya bagi saya. Melihat kembali sekarang dari dalam “menara emas” tersebut, film ini tidak jauh dari kenyataan. Saya telah menonton film ini setidaknya 20 kali, tetapi tidak ada yang benar-benar mempersiapkan Anda untuk kepribadian-kepribadian yang akan Anda temui. Seperti industri lainnya, ini soal bertahan atau tenggelam. Anda bisa memilih untuk benar-benar berkomitmen atau keluar dari permainan.” Vienna Vernose, 28, Fashion Editor
“Saat saya menonton The Devil Wears Prada, saya sudah tahu ingin bekerja di dunia fashion, tetapi film ini membuat industri tersebut terasa lebih menarik daripada yang saya bayangkan. Saya menyukai bagaimana semua orang di Runway terlihat rapi dan betapa seriusnya mereka dalam menjalani pekerjaan. Ada sesuatu yang sangat menarik dari tingkat dedikasi tersebut, yaitu fokus untuk melakukan pekerjaan dengan baik sekaligus tampil polished setiap hari. Saya juga ingat menyadari bahwa sebagian besar anggota tim adalah perempuan, dan hal itu terasa sangat memberdayakan bagi saya. Melihat dorongan dan ambisi seperti itu ditampilkan dengan cara tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk menjadi bagian dari dunia itu.” English Bartholomieux, 36, Publicist
“Saya merasa adrenalin dalam kehidupan Andy sangat memikat. Ada semacam ritme ‘terus bergerak’ yang mengikat keseluruhan film, dan saya memasuki dunia PR dengan pola pikir bahwa pekerjaan tidak pernah berhenti.” Lindsey Solomon, 34, Publicist
“Saya selalu tertarik pada fashion, tetapi tumbuh di Meksiko membuat saya sangat jauh dari bayangan karier tersebut. Saat itu belum ada media sosial yang menunjukkan seperti apa dunia di luar sana, sehingga film ini terasa seperti sekilas gambaran di balik layar. Saya menyukai gagasan bahwa jika Anda bekerja cukup keras, Anda bisa memiliki kehidupan yang luar biasa dan glamor. Film ini jelas menanamkan keinginan untuk pindah ke New York; saya siap melakukan apa saja untuk ‘berhasil’ seperti Andy.” Karina Avelar, 30, Senior Communications Manager, PR
“Film ini menunjukkan lingkungan yang cukup toxic, dan itu masih sangat nyata di industri ini. Itulah yang saya bayangkan dan, sayangnya, juga yang saya alami. Sekarang, saya berusaha mengubahnya dengan membawa lebih banyak kebaikan.” Gulia Canu, 32, Editor and Marketing Executive
“Film ini menarik saya secara visual sejak kecil dan memberi saya mimpi tentang kehidupan di kota besar. Saya menyukai gagasan berada di dunia di mana apa yang Anda kenakan memiliki nilai dan pengaruh. Sekarang saya bekerja di bidang kostum untuk TV dan film, dan saya jauh lebih menyadari kerja di balik layar.” Hannah Stempky, 28, TV/Film Costumer
“Karakter Andy sangat relate dengan saya. Saya pikir saya akan mengalami pengalaman seperti Andy, tetapi justru sedikit kecewa ketika tidak mengalaminya.” Sarah Wood Gonzalez, 29, Freelance Writer
“Film ini memberi saya gambaran tentang kehidupan sehari-hari di industri fashion dan memperkenalkan banyak referensi baru.” Anonymous, 32, Fashion Publicist
“Film ini menyalakan ambisi dalam diri saya. Dari sekadar mimpi, saya akhirnya benar-benar mewujudkannya.” Bella Warton, 26, Celebrity Stylist
“Film ini membuat saya ingin bekerja di majalah fashion lebih dari apa pun.” Anna Caroline Turner, 26, Publicist
“Andy sangat relate dengan saya sebagai desainer muda. Film ini mengingatkan saya pada awal karier saya.” Katherine Psaltos, 25, VIP Design and Development Coordinator
“Film ini membuat saya tetap mengejar mimpi meski penuh risiko. Meskipun tidak sepenuhnya realistis, film ini tetap terasa cukup akurat.” Iman Balagam, 29, Fashion and Beauty Writer
BACA JUGA:
Penampilan Para Bintang di Premiere Film The Devil Wears Prada—Dulu dan Sekarang
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
