Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Bicara Rahasia Gadis: Cara Adelle Odelia dan Dhika Himawan Menemukan Self-Love

Menyimak cerita di balik kampanye #KamuBerharga dan hal-hal seputarnya.

Bicara Rahasia Gadis: Cara Adelle Odelia dan Dhika Himawan Menemukan Self-Love

Bazaar bertemu dengan dua sosok di balik Rahasia Gadis, Adelle Odelia & Dhika Himawan, yang menuturkan cerita personal dan perjuangan untuk membantu gadis-gadis melalui platform mereka. Dalam sesi ini, kami bersama memahami pentingnya berbagi pengalaman dan saran guna menemukan solusi dalam permasalahan hidup para perempuan belia di luar sana.

 

Harper’s Bazaar (HB): Seperti apa awal mula terbentuknya Rahasia Gadis? Apa yang membuat ide tersebut muncul?

Dhika Himawan (DH): Jadi Rahasia Gadis itu dibuat tahun 2014 bukan oleh kita, tapi oleh Valen teman kita dan suaminya. Dulu awalnya mereka buat untuk halaman berbagi tip kecantikan, quotes, dan lain-lain. Belum terlalu serius. Hanya berupa Instagram page. Habis itu saya dengan Adelle tahun 2018 pulang setelah lulus kuliah, terus kita ketemu Valen, ada mutual friends. Kita jadi dekat dan menyadari, sebenarnya Rahasia Gadis ini bisa jadi lebih dari sekadar Instagram page. It can be so much more than just sharing beauty tips. Jadi di situ saya dan Adelle masuk bergabung dengan Valen dan mulai mengembangkan platform ini, sampai beneran ada komunitasnya, dengan value dan visi kita. Untuk membantu para gadis menyadari/mengetahui nilai mereka, hak mereka, dan kekuatan mereka. Jadi enggak cuma untuk sharing tips saja tapi juga benar-benar untuk mengedukasi seluruh gadis di Indonesia mengenai pentingnya mental health, sexual education, relationship advice, dan lainnya. Kenapa kita buat seperti itu? Karena melihat dari DM (direct message) yang masuk ke akun, kita tidak menyangka bahwa banyak banget gadis-gadis yang enggak punya wadah buat bercerita mereka, sehingga mereka bercerita di Rahasia Gadis lewat DM. Dari masalah menstruasi sampai masalah pelecehan atau bunuh diri. Dengan begitu kita bisa menjangkau gadis-gadis yang ada jauh di daerah. Sekarang kebanyakan saya dan Adelle mengembangkan Rahasia Gadis menjadi platform.

Adelle Odelia (AO): Saya berharap Rahasia Gadis menjadi seperti big sister bagi jutaan gadis-gadis Indonesia karena memang kita mulai dari support system di mana kita menampung ribuan cerita gadis-gadis, kemudian kita kasih dukungan dan jalan keluar. Sekarang kita sudah lebih dari sekadar media sosial, sekarang kita juga sudah ada leaders program. Tahun lalu saya dan Dhika berpikir enggak bisa kalau hanya Rahasia Gadis yang jadi support system untuk jutaan gadis-gadis. Kita harus bisa mulai empower gadis-gadis lain untuk bisa menjadi support system di daerah mereka masing-masing. Di mana kita ada lebih dari 150 gadis-gadis yang tersebar di lebih dari 30 kota. Dan mereka sendiri yang menjadi support system di daerah mereka. Jadi kita sangat bangga bukan hanya karena media sosial tapi juga gadis-gadis yang sudah menjadi bagian dari komunitas kita. Program ini dimulai sewaktu IWD (International Women’s Day) tahun lalu. Kemudian tahun ini kita rayakan dengan kampanye #KamuBerharga.

Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
 

HB: Apakah kalian merasa kalau perempuan muda di Indonesia kurang menerapkan self-love?

AO: Menurut saya self-love itu rumit, insecurities ya. Dari apa yang saya baca seperti DM Rahasia Gadis itu banyak banget gadis-gadis yang memiliki insecurities. Saya termasuk salah satunya jadi saya bisa berbicara dari pengalaman bahwa kalau self-love itu sesuatu yang sangat sulit, itu pun masih banyak yang berada dalam proses. Saya mungkin berada dalam satu titik saat ini. Mungkin juga Anda sudah self-love tapi ada tahapan ups and downs setiap hari selamanya. Tapi Anda bisa belajar untuk lebih mencintai diri sendiri dan menurut saya cukup susah karena di era social media di mana kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain tempat kita melihat picture perfect life of other people. Dan bukan hanya saya tapi juga internal, di mana kita punya keraguan dengan kita sendiri, jadi menurut saya itu adalah salah satu dari banyak masalah gadis-gadis. Saya adalah advokat self-love. Karena menurut saya itu penting banget buat gadis-gadis untuk memiliki itu. Itulah perhentian pertama untuk self-awareness. Kita juga sebaiknya jangan terlalu hard on ourselves, karena banyak yang seperti itu kepada diri mereka sendiri.

DH: Karena menurut kita banyak sebenarnya, enggak cuma gadis yang tapi semua orang punya keraguan dan insecurities. Anda enggak pernah 100% mencintai diri Anda sendiri, ya kan? Pasti ada beberapa hari yang Anda yakin atau “I'm feeling good today”, tapi memang kebanyakan dari masalah-masalah yang kita lihat di DM itu mereka sangat jahat sekali ke diri mereka sendiri. They think very lowly of themselves, dan itu juga enggak cuma pengalaman di Confession Room. Dari diri kita sendiri sering merasakan itu. dan menurut saya karena itu banyak hal yang gadis-gadis dan saya sendiri yang menerima keadaan di bully, dan berpikir karena kita memang enggak layak. Pemikiran-pemikiran itulah yang justru nyambung ke masalah-masalah yang lain seperti mereka terjerumus ke dalam toxic relationship, mereka di-bully atau mem-bully. Insecurities adalah intinya. Once you put yourself down, misalnya kamu kurang self-worth banyak hal yang akan kalian terima ... Dan kalau misalnya kalian setidaknya bisa merasa bahwa you deserve good situations atau kamu itu berharga, itu justru bisa membuka dan memberanikan diri kamu untuk menolak orang-orang yang merendahkan kamu dan lebih membuka kesempatan lebih banyak lagi sebagai gadis.

Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
 

HB: Ceritakan mengenai campaign #KamuBerharga.

AO:  Jadi ini campaign dalam rangka hari International Women's Day, tapi buat saya ini artinya sangat dalam dan personal buat saya dan Dhika. Ada dua cerita yang paralel, mungkin dari cerita pribadi dulu. Jadi 2 tahun yang lalu setiap saya di dalam situasi yang sangat kurang baik, di masa-masa saya belum tahu harga diri, saya sangat insecure, memperbolehkan banyak hal untuk terjadi kepada diri saya. Salah satu advice yang melekat di hati saya adalah "Delle, know your worth",  teman saya bilang. Dua tahun kemudian Dhika juga sedang mengalami beberapa hal (nanti Dhika yang cerita). Benang merahnya dari 2 cerita itu adalah advice itu sih. Yang kita dengar dari teman yang benar-benar menyadarkan kita. Sebagai gadis kita juga harus tahu self-worth, we are so deserving of love, kenapa kita memperlakukan diri kita seperti ini. Jadinya di saat kita memikirkan tentang kampanye International Women's Day, kita mau sesuatu yang sangat personal. Yang juga sangat powerful dan bisa merubah hidup kita. Sambil memikirkannya, saat melihat data Confession Room disebutkan bahwa tahun ini khususnya lagi naik banget cerita-cerita dari gadis-gadis kita tentang kekerasan (abuse), tentang toxic relationships. Sering kali ketika mereka mengalami itu mereka bertanya, “Apa sih gunanya aku di dunia ini?”, “Kenapa sih ini terjadi?”, jadinya benar ceritanya mereka ini adalah seorang gadis yang diperlakukan secara negatif atau mengalami trauma sering kali menyalahkan diri sendiri. Jadinya untuk meningkatkan self-awareness terhadap perempuan dan juga untuk shine a positive light dan membagikan saran kepada gadis-gadis Indonesia kita membawa campaign #KamuBerharga. Dan pesan utamanya adalah no matter what you've been through or what you think about yourself, Anda masih berharga, karena harga diri itu enggak tergantung dari faktor eksternal, bukan tergantung dari perkataan orang tua, pacar, teman atau pengalaman negatif datang dari diri kamu sendiri yang cinta diri kamu sendiri.

DH:  Adelle adalah orang yang yang memberitahu saya untuk know your worth. So, I went through a really bad breakup, terus habis itu saya seperti jatuh ke dalam depresi. Lalu saya berpikir, “Kok saya bisa dibeginikan ya?”. I feel like I don’t deserve all the love in this world. Situasi itu bukan atau enggak harusnya bikin kita jadi menyalahkan diri sendiri. Dan dari situ saya juga melihat banyak satu kata yang saya lihat (dari gadis-gadis yang mengalami korban kekerasan seksual atau break up) adalah "Aku enggak berani keluar dari hubungan ini untuk menemukan orang lain, atau atau set boundaries”.  Kita menerima perlakuan seperti ini karena kita merasa tidak layak untuk dicintai siapa pun. Itu juga adalah benang merahnya. That's really crazy, dari masalah yang benar-benar seperti kekerasan seksual sampai hubungan yang buruk, mereka semua merasa seperti itu.  Jadi kita bikin satu tagar #KamuBerharga, itu enggak menuntut Anda untuk menjadi orang lain, melainkan accepting everyone's being. All girls being, mau Anda lagi ada di situasi yang buruk, atau happy banget, atau kamu pernah diperlakukan seperti ini, kamu tetap berharga. Dua kata itu sangat simpel tapi kita sering kali diabaikan.

Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia

HB: Hal tersebut ada hubungannya juga dengan cara Anda membawa diri di era modern seperti saat ini. Tekanan tak hanya datang dari lingkungan fisik tapi juga dunia digital. Menurut kalian berdua hal-hal apa saja yang harus diingat saat kita terjun ke dalam social media?

AO:  Saya selalu bilang ke Dhika, bahwa sepertinya kita harus lebih aktif di social media pribadi karena saya sama Dhika kurang aktif. Tapi menurut saya ironisnya adalah ketika saya masih kuliah 4 tahun yang lalu itu saya sangat struggle dengan media sosial, tapi sekarang bisnisnya social media. Karena dari dulu saya pernah harus 6 bulan lepas social media karena merasa itu berdampak negatif sekali terhadap kesehatan mental saya. Saya merasa sangat cemas, merasa selalu di-judge orang, mendapatkan komentar negatif. Kesimpulan saya itu social media itu bukan baik atau buruk, tapi netral. Yang menentukan adalah cara kita menggunakannya sehari-hari. Saat ini yang selalu saya ingatkan pada diri sendiri adalah pertama, karena saya masih mencoba untuk aktif tapi kadang kala masih insecure sejujurnya. Intinya cuma satu harga diri kamu itu enggak datang dari following, likes, dan engagement. Sekarang saat saya ingin mengunggah foto, mindset-nya bukan untuk dapat validasi dari orang lain, tapi karena suka dengan fotonya. Yang kedua adalah nothing as perfect as it seems on social media. Semua orang kan pasti hanya show off hal-hal yang paling perfect saja di hidup mereka dan saat saya melihat harus konstan mengingatkan diri sendiri. Pasti orang itu punya perjuangan mereka sendiri-sendiri. Kita harus bisa jangan cemburu, tapi mencoba merayakannya, ikut senang untuk mereka. Meskipun terkadang itu satu hal yang susah di untuk dilakukan. Dan mungkin hal ketiga yang saya coba saat ini adalah (wish me luck) adalah be more authentic. Karena di dunia social media semua orang itu mau picture perfect. Tapi saya merasa postingan itu bisa lebih powerful saat kita jujur dengan diri sendiri dan juga berani untuk menggunakan platform ini untuk bersuara. Kemarin kita baru Instagram Live dengan Cinta Laura, lalu dia sangat meng-encourage orang untuk menggunakan platformnya, tidak peduli berapa pun followers yang kamu punya, untuk bersuara tentang isu-isu yang mungkin enggak banyak orang bicarakan. Jadi itu mindset saya terhadap social media sekarang. Karena menurut saya sudah enggak cukup hanya untuk menunjukkan what I wear, where I'm at. Tapi lebih ke passion, kepribadian saya.

DH: I don't think social media is for everyone. Jadi gini, kita melihat fenomena dimana anak-anak umur 9 atau 8 tahun sudah pakai media sosial, contohnya saudara saya. Dia itu kemarin menangis karena tidak ada cukup likes di Tiktok-nya. Dan kemudian dia membuat video Tiktok mengenai itu. That is really scary. Yang tadi Adelle bilang bahwa social media netral itu betul, tapi kalau misalnya kita belum berkembang, atau kepribadian kita belum berkembang juga atau kepercayaan diri kita belum tumbuh, social media bisa jadi alat yang berbahaya. It's a choice whether to be in social media or not. It's always a choice. Bukan berarti kalau enggak ada di social media Anda itu dungu. Bukan berarti aktif banget di social media berarti pansos juga. Jadi cara menangani dunia ini yang tadi Adelle bilang saya setuju banget membuat social media sebagai alat untuk melakukan apa pun yang Anda inginkan. As long as you can handle it. Selama Anda tidak mencari validasi di sana. Yang saya ingin tekankan juga, itu tadi bahwa social media is not really for everyone.  Jadi kalau misalnya Anda merasa umurnya tidak cukup dan tidak bisa membawa diri di dalamnya, tidak apa-apa, Anda tidak punya keharusan. Orang juga harus mengerti bahwa social media adalah pilihan, seperti hal-hal lainnya seperti memakai makeup. Karena mungkin saat ini orang berpikir wajib untuk punya social media padahal tidak.

Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia
Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia

Portfolio ini:

Fotografer: Saeffie Adjie Badas

Pengarah gaya: Ardhana Utama

Retoucher: Ragamanyu Herlambang