Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengenal Sang Ilmuwan Kecil, Gitanjali Rao, yang Menjadi Kid of The Year Karena Membuat Aplikasi Anti Perundungan

Ilmuwan berusia 15 tahun ini dinobatkan sebagai Kid of the Year pertama versi majalah Time.

Mengenal Sang Ilmuwan Kecil, Gitanjali Rao, yang Menjadi Kid of The Year Karena Membuat Aplikasi Anti Perundungan
(Foto: Courtesy of Sharif Hamza)

Generasi muda saat ini dihadapkan pada masalah yang teramat kompleks. Mulai dari masalah baru seperti pandemi virus COVID-19 yang melanda seluruh dunia tahun ini, hingga isu perundungan siber, sebuah masalah lama yang kerap diabaikan, masyarakat muda memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan di dunia dan dapat dimulai sejak usia belia.

Ketika Greta Thunberg, aktivis lingkungan hidup asal Swedia mencatat sejarah dengan menjadi orang termuda pertama (di bawah usia 25 tahun) yang mendapatkan penghargaan Person of the Year menurut Time pada 2019 silam. Peran serta gerakannya yang luar biasa untuk menghentikan perubahan iklim semakin menekankan pengaruh luar biasa yang diberikan anak-anak muda dan bagaimana pengaruh tersebut digunakan untuk membentuk dunia sesuai dengan impian mereka.

Dengan peran dan pengaruh generasi muda yang luar biasa besar, Time pertama kali memberikan apresiasi kepada generasi paling muda di Amerika yang bertajuk Kid of the Year. Bekerjasama dengan Nickelodeon, media tersebut mengapresiasi anak-anak yang berpengaruh tahun 2020 ini melalui aksi besar maupun kecil yang dilakukan. Setelah pencarian panjang melalui media sosial dan sekolah-sekolah, Time telah menobatkan sosok ilmuwan dan kreator, Gitanjali Rao sebagai sosok Kid of the Year pertama tahun ini.

Gitanjali Rao, seorang ilmuwan berusia 15 tahun yang menggunakan teknologi untuk menuntaskan berbagai isu seperti kontaminasi air bersih, perundungan siber, hingga adiksi opioid. Misinya sederhana, sebuah keinginan untuk selalu mengukir senyuman pada wajah orang lain yang kemudian membuatnya kemudian mencari cara untuk membangun kebersamaan dan menanamkan nilai-nilai positif pada lingkungan tempat tinggalnya.

Ia baru berusia 10 tahun ketika ia ingin meneliti dan membuat sebuah teknologi sensor yang dapat mendeteksi senyawa karbon nano, salah satu fungsinya untuk mendeteksi kandungan kimiawi dalam air, yang membuatnya tertarik untuk menggunakan sains dan teknologi untuk membawa perubahan sosial. Ilmuwan yang bermukim di Colorado ini berbagi kepada aktivis dan juga aktris, Angelina Jolie dalam wawancaranya, tentang karya terbarunya yaitu, Kindly.

Sebuah aplikasi yang dibuat untuk mendeteksi tahap-tahap awal terkait perundungan siber menggunakan teknologi inteligensi artifisial. Kindly membantu para penggunanya untuk mengidentifikasi apakah frasa atau kata yang digunakan termasuk perundungan sehingga pengguna, khususnya remaja memiliki kesempatan untuk mengolah kembali ucapan mereka sebelum kembali mengutarakan pendapat di media siber.

Meski Gitanjali sadar bahwa tidak banyak ilmuwan yang tampak seperti dirinya, dan ia kerap lebih banyak melihat laki-laki berkulit putih dengan usia yang lebih tua berada di dalam laboratorium, mendorongnya untuk tidak hanya membuat sebuah perangkat untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia, tetapi juga menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk melakukan hal yang sama. Hal tersebut yang mendorong perempuan 15 tahun tersebut membuat program bertajuk innovation sessions.

Dimulai dari presentasi sederhana dan rencana belajar, Gitanjali kini telah menjadi kerja sama dengan berbagai sekolah, para perempuan di organisasi ilmu pengetahuan dan teknologi, museum di seluruh dunia, serta organisasi-organisasi besar seperti Shanghai International Youth Science and Technology, lalu The Royal Academy Engineering di London untuk melakukan workshop inovasi. Ini merupakan caranya untuk membantu para pelajar untuk memulai sebuah inovasi dalam sesi yang berdurasi selama 45 - 60 menit dan kemudian, memberikan perubahan. Melalui program tersebut, Gitanjali telah berhasil membagikan ilmu dan pengalamannya kepada 30.000 pelajar.

Dengan berbagai masalah yang dihadapi generasi muda saat ini, Gitanjali menekankan pentingnya bagi setiap orang untuk menemukan sesuatu yang mereka sangat minati dan bertekun dalam menemukan solusi, baik hal yang besar maupun kecil untuk berkontribusi dalam sebuah perubahan. Nama Gitanjali Rao terpilih dari 5000 nominasi penghargaan perdana ini.

Terdapat lima finalis yang beradu pada posisi ini antara lain, Tyler Gordon (14), seorang penyandang disabilitas yang juga menjadi korban perundungan berhasil menunjukkan talentanya dalam melukis lebih dari 500 potret tokoh kulit hitam yang ikonis salah satunya adalah Wakil Presiden Kamala Harris serta lukisan pemain NBA Kevin Durant yang kemudian menjadi viral; Jordan Reeves (14), seorang desainer dan aktivis yang mengalami perbedaan anggota tubuh, dan melalui hal tersebut, ia membuat prostetik tiga dimensi yang terbuat dari bahan yang dapat terurai untuk perusahaan besar seperti Mattel dan mendirikan organisasi bagi anak-anak dengan perbedaan kondisi fisik untuk membangun mimpi dalam bidang desain serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tyler Gordon, 14 (Foto: Courtesy of Andrew Toth)

Jordan Reeves, 14 (Foto: Courtesy of Andrew Toth)

Selain itu, Bellen Woodard (10) dengan misi inklusivitas membuat sebuah lini krayon dengan rangkaian warna kulit yang ia lihat di dunia. Pada 2019, Bellen meluncurkan sebuah organisasi More Than Peach yang mendonasikan beragam krayon dan buku gambar kepada pelajar. Paket krayonnya telah menjadi koleksi permanen dari Virginia Museum of History & Culture. Terakhir, Ian McKenna (16), menginisiasi sebuah proyek bertajuk McKenna’s Giving Garden untuk membantu komunitas tempat tinggal dalam mendapatkan bahan makanan organik.

Bellen Woodard, 10 (Foto: Courtesy of Andrew Toth)

Ian McKenna, 16 (Foto: Courtesy of Britton Orrange)

(Penulis: Vanessa Masli; Video: Courtesy of YouTube)