Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Akankah Gaun Malam Tak Lagi Mendominasi Met Gala Tahun Depan?

Pameran Costume Institute 2027 akan mengangkat daya tarik busana sehari-hari, mulai dari kaus, celana jeans, hingga trench coat.

Akankah Gaun Malam Tak Lagi Mendominasi Met Gala Tahun Depan?
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Lebih dari dua bulan setelah Costume Institute membatalkan retrospektif John Galliano yang semula direncanakan sebagai tema pameran 2027, Met akhirnya mengumumkan konsep penggantinya. Pameran bertajuk extraOrdinary: Fashion and the Poetics of the Everyday ini mengambil arah yang sangat berbeda dari rancangan John yang dikenal teatrikal dan penuh fantasi.

BACA JUGA: Demi Moore Tampil dengan Gaun Denim dari GapStudio di CFDA Fashion Awards 2026

Pameran Costume Institute 2027 sekaligus Met Gala yang menyertainya akan menelusuri cara para desainer mengolah busana sehari-hari menjadi kreasi mode kelas atas. Pameran ini juga akan mengeksplorasi bagaimana proses mengenakan, memadukan, dan merawat pakaian turut membentuk maknanya seiring waktu.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Undercover Fall 2024

Pameran tersebut akan dibagi menjadi dua tema besar. Bagian pertama, “Familiar Forms”, berfokus pada busana ikonik seperti celana jeans, kaus, jaket pengendara motor, dan trench coat. Bagian ini akan memperlihatkan bagaimana para desainer menciptakan interpretasi baru atas pakaian-pakaian tersebut sekaligus memainkan simbolisme yang melekat padanya. Sementara itu, “Common Matter” akan menyoroti material sekali pakai seperti kertas, aluminium, dan plastik, serta bagaimana bahan-bahan tersebut diangkat menjadi bagian dari dunia mode.

“Hal-hal biasa tidak pernah sesederhana yang terlihat,” ujar Andrew Bolton, Kurator Utama Costume Institute. “Sepasang celana jeans, kemeja putih, atau sweatshirt dapat menyimpan jejak kehidupan, mulai dari kebiasaan, kenangan, hingga keterikatan yang membuat suatu benda terasa menjadi milik kita. Para desainer mengolah keakraban tersebut dan menemukan kemungkinan tak terduga dari bentuk serta material yang selama ini kita kenal. Pameran ini mengajak kita melihat kembali betapa besar imajinasi yang terkandung dalam keseharian, sekaligus mempertimbangkan bagaimana cara pandang baru dapat mengubah hal-hal yang kita hargai dan rawat.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Helmut Lang Fall 1999

Andrew melanjutkan gagasan yang sebelumnya ia angkat dalam pameran tahun lalu, Costume Art, dengan menempatkan tubuh sebagai pusat proses perancangan busana. Salah satu karya yang menarik perhatiannya adalah koleksi musim gugur 2024 Jun Takahashi untuk Undercover, bertajuk “Watching a Working Woman”, yang antara lain terinspirasi dari film Perfect Days karya Wim Wenders pada 2023. Dalam koleksi tersebut, Jun menggabungkan dan melapisi berbagai busana yang akrab dijumpai sehari-hari, kemudian mengolahnya menjadi tampilan baru yang menantang pemahaman konvensional tentang identitas dan bentuk.

Pameran akan dibuka dengan sejumlah karya dari koleksi tersebut, lalu berkembang mencakup lebih dari 200 objek. Di antaranya adalah celana jeans kulit dengan efek ilusi optik rancangan Matthieu Blazy untuk Bottega Veneta, busana dari koleksi grunge Marc Jacobs untuk Perry Ellis pada era 1990-an, celana jeans Calvin Klein milik Brooke Shields, jaket kulit pengendara motor karya Junya Watanabe, hingga puffer couture rancangan Charles James dari era 1930-an.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Marc Jacobs for Perry Ellis “Grunge” collection 1993

Tema awal pameran yang berfokus pada kehidupan dan karya Galliano pertama kali diumumkan pada akhir Juli. Namun, setelah sejumlah donor dan kritikus menyuarakan keberatan atas pernyataan antisemit dan anti-Asia yang pernah dilontarkan sang desainer, rencana tersebut ditarik kembali pada akhir Agustus. Keputusan ini menjadi hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebab Met belum pernah melakukan perubahan tema dalam tahap persiapan yang sedemikian lanjut.

John dikenal lewat karya-karyanya yang luar biasa, dengan eksplorasi tema sejarah, kemewahan, dan kemegahan. Peragaan busananya kerap menyerupai pertunjukan teater. Kini, Met tampaknya memilih arah yang bertolak belakang dengan pendekatan tersebut, dengan menempatkan kehidupan nyata di atas fantasi. Meski begitu, tema baru ini tetap akan mengamati hal-hal yang akrab melalui sudut pandang mode yang luar biasa. Sebab, tidak ada yang benar-benar biasa dari sebuah jaket pengendara motor rancangan Junya Watanabe.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Junya Watanabe Fall 2014

Masih banyak hal yang dapat digali dari tema ini. Gagasan tersebut mengingatkan kita bahwa inspirasi mode kerap datang dari orang-orang yang setiap hari kita jumpai di jalan, termasuk seragam dan pakaian yang turut membentuk cara kita memandang masyarakat. Bagi para desainer, keseharian menyimpan banyak kemungkinan untuk diolah menjadi gagasan kreatif, bahkan memancing reaksi besar dari dunia mode.

Kita dapat mengingat bagaimana industri mode terkejut ketika Marc Jacobs mengangkat cara berpakaian kaum muda yang kemudian dikenal sebagai grunge ke panggung peragaan lewat koleksinya untuk Perry Ellis pada 1993. Hal serupa terlihat dari ketertarikan publik terhadap celana jeans kulit dengan ilusi optik rancangan Matthieu Blazy untuk Bottega Veneta beberapa tahun lalu. Pada akhirnya, sesuatu hanya terasa fantastis jika dibandingkan dengan hal-hal yang kita anggap biasa. Kita tetap membutuhkan sesuatu yang akrab untuk memahami gagasan yang radikal.

BACA JUGA:

Hailey Bieber Tampil Chic dengan Jaket Chanel Iridesen & Jeans Biru Pudar

Tren Denim Ini Akan Mendominasi Musim Gugur 2026

(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)