Seiring musim terbaru Celebrity Traitors mendekati babak akhir, kita kembali dibuat sibuk menebak siapa yang berbohong dan siapa yang berkata jujur. Dari balik layar, penonton memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki para faithful: kita sudah mengetahui identitas para pembohong. Setiap jeda percakapan, lirikan mata, hingga gerakan kecil pun terasa seperti petunjuk yang dapat membongkar penyamaran mereka. Situasi ini mungkin membuat kita merasa mampu mengenali kebohongan dengan mudah. Namun, seberapa akurat sebenarnya kita membaca perilaku seseorang ketika belum mengetahui kebenarannya?
BACA JUGA: Teruslah Berteriak: Mengapa Perempuan Tertarik pada Film Horor
Ternyata, kemampuan tersebut tidak sebaik yang dibayangkan. Sebuah meta-analisis terhadap lebih dari 24.000 penilaian kebohongan menemukan bahwa manusia hanya mampu membedakan pernyataan jujur dan bohong dengan tepat sebanyak 54 persen. Angka tersebut hanya sedikit lebih tinggi dari peluang menebak secara acak. Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan kita terlalu mengandalkan tanda-tanda yang keliru. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada rangkaian gerak tubuh tertentu yang secara konsisten dapat membuktikan seseorang sedang berbohong, termasuk menghindari kontak mata atau menyentuh wajah.
Bahkan, sebuah tinjauan besar terhadap penelitian tentang kebohongan menemukan bahwa petugas kepolisian yang mengandalkan petunjuk visual seperti mengalihkan pandangan dan gelisah justru kurang akurat dalam membedakan kebohongan dari kebenaran. Hal ini masuk akal karena orang yang tidak bersalah pun dapat merasa tertekan, gugup, atau tidak nyaman ketika menjalani pemeriksaan intensif.
Lantas, apa yang sebenarnya dapat mengungkap kebohongan? Sejumlah ahli di bidang perilaku menipu, komunikasi, dan bahasa tubuh membagikan sembilan petunjuk yang patut diperhatikan, sekaligus meluruskan anggapan yang selama ini kerap dipercaya.
Berikut 9 Tanda yang Perlu Diperhatikan untuk Mengidentifikasi Jika Orang Sedang Berbohong
1. Perhatikan Perubahan Perilaku
“Jika bahasa tubuh merupakan ilmu yang sangat presisi dan para ahli mampu membedakan kebenaran dari kebohongan, kita semua mungkin sudah berada di Las Vegas untuk meraup keuntungan di meja poker,” ujar Judi James, pakar komunikasi dan bahasa tubuh. Menurutnya, sinyal setiap orang berbeda. Karena itu, memperhatikan perubahan perilaku, nada suara, dan pola pernapasan seseorang jauh lebih berguna daripada mengandalkan satu gerakan tertentu.
Judi menjelaskan bahwa berbohong merupakan proses kompleks. Bagi seseorang yang merasa bersalah ketika berbohong, situasi tersebut dapat memicu tekanan yang mengubah kondisi tubuh dan menimbulkan respons stres. Gejalanya dapat berupa gerakan yang tersentak-sentak, ketegangan otot, napas pendek, hingga nada suara yang lebih tinggi. Kuncinya adalah membandingkan perilaku tersebut dengan kebiasaan orang yang bersangkutan, bukan langsung menganggapnya sebagai bukti kebohongan.
2. Amati Kedipan Mata yang Berubah
“Kita cenderung percaya bahwa mata adalah jendela jiwa, dan memang benar bahwa mata manusia mampu memperlihatkan ratusan ekspresi kompleks, sering kali tanpa disadari,” kata Judi. Namun, ia mengingatkan bahwa kontak mata tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.
Orang yang berbohong juga mengetahui bahwa menghindari pandangan mata sering dianggap sebagai tanda ketidakjujuran. Karena itu, mereka mungkin justru berusaha mempertahankan kontak mata. Menurut Judi, tubuh lebih sulit dikendalikan sepenuhnya. Salah satu hal yang dapat diamati adalah rangkaian kedipan cepat yang muncul ketika seseorang sedang menyampaikan kebohongan.
Contoh menarik terlihat dalam musim terbaru Celebrity Traitors, ketika Richard E. Grant terlibat dalam adu tatap intens dengan Joe Lycett sebelum menyatakan bahwa Joe adalah seorang pengkhianat. Joe menduga Richard merasa panik ketika berada di bawah tekanan untuk menyusun kebohongan yang meyakinkan, sehingga ia memilih menyampaikan sesuatu yang benar dengan harapan dapat mengubahnya menjadi double bluff.
3. Dengarkan Pengulangan Kata
Dr. Kirsty King, dosen komunikasi di University College London sekaligus penulis The Language of Lies menyarankan agar kita lebih mengandalkan pendengaran daripada penglihatan ketika mencoba mengenali kebohongan. Perhatikan bukan hanya isi perkataan seseorang, tetapi juga cara ia menyampaikannya.
Salah satu tanda yang patut dicermati adalah pengulangan kata, frasa, atau kalimat. Menurut dr. Kirsty, seseorang yang berbohong dapat terus mengulang pernyataan yang sama atau menyampaikan hal serupa dengan susunan berbeda. Hal ini terjadi ketika mereka berusaha terlihat kooperatif, tetapi pada saat bersamaan menghindari detail yang berpotensi memberatkan atau sulit diingat.
Dr. Kirsty mencontohkan kasus seorang perempuan yang berbohong tentang penemuan jari manusia di dalam makanannya di sebuah restoran cepat saji. Ketika menjelaskan kejadian tersebut, ia berkata, “Saya sedang makan, makan, makan.” Pengulangan tanpa tambahan informasi baru justru membuat pernyataannya terlihat mencurigakan.
4. Kenali Upaya Mengulur Waktu
Jika pertanyaan sederhana tiba-tiba disambut jeda panjang, pertanyaan yang diulang kembali, atau respons defensif, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Judi menjelaskan bahwa otak membutuhkan waktu untuk memproses dan menyusun kebohongan.
Pada awalnya, seseorang akan memikirkan jawaban yang sebenarnya. Setelah itu, ia perlu menekan jawaban tersebut sambil merangkai cerita lain. Proses ini dapat membuat seseorang mengulur waktu melalui jeda yang mencolok atau respons yang mengalihkan pembicaraan.
Beberapa contoh respons tersebut antara lain, “Apakah Anda sedang menyebut saya pembohong?”, “Anda benar-benar berpikir saya akan melakukan itu?”, atau sekadar mengembalikan pertanyaan kepada lawan bicara, seperti “Apakah saya seorang pengkhianat?”
5. Perhatikan Jarak Psikologis dalam Percakapan
Menurut dr. Kirsty, petunjuk linguistik lain yang dapat mengarah pada kebohongan adalah jarak psikologis. Hal ini terjadi ketika seseorang secara tidak langsung menjauhkan dirinya dari orang, peristiwa, atau tindakan yang sedang dibicarakan.
Dr. Kirsty memberikan contoh seorang ayah yang berbohong mengenai keberadaan putrinya yang hilang. Salah satu petunjuknya terlihat dari cara ia menyebut sang anak. Alih-alih menggunakan ungkapan “putri saya” atau menyebut namanya, ia berulang kali menggunakan istilah “sang putri”.
Dengan menyebut anaknya sebagai sosok yang tidak spesifik, ia seolah menjauhkan diri dari hubungan pribadi tersebut. Dalam kasus ini, pilihan bahasa itu menjadi petunjuk penting karena sang ayah ternyata telah membunuh putrinya.
6. Perhatikan Perilaku yang Justru Menghilang
“Jangan hanya memperhatikan perilaku baru, tetapi perhatikan juga perilaku yang tiba-tiba menghilang,” ujar dr. Lara Warmelink, psikolog dari Lancaster University yang berfokus pada penelitian tentang kebohongan.
Jika kita mengenal seseorang dengan baik, perubahan dari kebiasaan sehari-harinya dapat menjadi petunjuk yang lebih berarti dibandingkan tanda-tanda kebohongan yang umum dipercaya. Seseorang yang biasanya sering bergerak gelisah, misalnya, mungkin sengaja menghentikan kebiasaan tersebut karena merasa sikap itu akan membuatnya terlihat tidak meyakinkan.
7. Jangan Terburu-buru Mengisi Keheningan
“Ketika seseorang berbohong, bahasa tubuhnya sering kali tidak selaras dengan perkataannya. Seolah-olah tubuh memberikan sanggahan terhadap apa yang sedang diucapkan,” kata Judi.
Namun, ia menyarankan agar kita tidak hanya mengamati seseorang ketika sedang menjawab pertanyaan. Perhatikan juga apa yang terjadi sesaat setelah ia selesai berbicara. Jangan terburu-buru mengisi keheningan dengan pertanyaan atau komentar lain. Dalam momen tersebut, seseorang mungkin memperlihatkan gerakan kecil yang bertentangan dengan ucapannya, seperti ekspresi wajah atau gerakan spontan yang muncul ketika ia merasa malu karena menyadari dirinya sedang diamati.
8. Gali Informasi Secara Lebih Spesifik
Dalam The Traitors, bertanya secara langsung kepada seseorang, “Apakah Anda seorang pengkhianat?” bisa terasa canggung, terutama jika kita sebenarnya ingin mempercayai jawabannya. Menurut Judi, rasa tidak nyaman ini terkadang membuat kita tanpa sadar membantu seseorang mempertahankan kebohongannya. Kita mungkin menambahkan berbagai pertanyaan yang justru memberi ruang untuk menghindari jawaban atau mengalihkan pandangan sebelum mendapatkan penjelasan lebih jauh.
Untuk mengenali kebohongan, Judi menyarankan agar kita mengajukan pertanyaan dengan susunan yang cermat, kemudian mendengarkan jawabannya. Petugas kepolisian, misalnya telah dilatih untuk menanyakan hal yang sama beberapa kali dan memperhatikan detailnya. Sebab, detail merupakan bagian yang sulit dibuat-buat sekaligus diingat.
Seseorang mungkin menjawab pertanyaan, “Di mana Anda pada malam tanggal 25?” dengan sederhana, “Di rumah menonton televisi.” Namun, pertanyaan berikutnya dapat menggali lebih jauh, seperti, “Acara apa yang Anda tonton malam itu?” Semakin spesifik pertanyaannya, semakin besar kesempatan bagi cerita yang dibuat-buat untuk menunjukkan ketidakkonsistenan.
9. Waspadai "Othello Error"
Salah satu jebakan terbesar ketika mencoba mengenali kebohongan adalah fenomena yang disebut Judi sebagai “Othello Error”. Istilah ini diambil dari drama Othello karya William Shakespeare. Dalam kisah tersebut, Othello keliru menanggapi terkejutnya Desdemona yang tidak bersalah ketika dituduh berselingkuh sebagai bukti bahwa sang istri memang bersalah.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Judi, orang yang berkata jujur pun dapat memperlihatkan bahasa tubuh yang tampak mencurigakan hanya karena merasa terpojok oleh sebuah tuduhan.
Bayangkan ketika sedang berbelanja, lalu tiba-tiba bertatapan dengan petugas keamanan. Meski tidak berniat mencuri apa pun, kita mungkin mendadak terlihat gelisah seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah. Hal ini terjadi karena otak menangkap situasi tersebut sebagai bentuk tuduhan, kemudian mulai mengatur perilaku agar terlihat “normal”. Justru dalam proses itulah sejumlah gerakan yang tampak mencurigakan dapat muncul.
Mengenali kebohongan bukan tentang mencari satu gerakan atau ekspresi tertentu, melainkan memahami pola perilaku, ketidakkonsistenan, dan konteks percakapan. Seperti yang kerap diperlihatkan dalam The Traitors, seseorang yang terlihat bersalah belum tentu sedang berbohong. Bisa jadi, ia hanya menyadari bahwa dirinya sedang diawasi.
BACA JUGA:
Detail The Last House 2026 Sebelum Menontonnya di Netflix
23 Acara Misteri Pembunuhan Terbaik
(Penulis: Lisa Harvey; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)
