Stacey Bendet, Founder, CEO, sekaligus Creative Director Alice + Olivia, menggelar acara cocktail eksklusif di Hong Kong pada 9 Oktober 2026. Bertempat di The Magistracy, Tai Kwun, acara ini mempertemukan sahabat jenama, selebritas, tamu VIP, media, serta komunitas kreatif Hong Kong dalam sebuah perayaan imersif bertajuk World of Stace, yang merepresentasikan semesta kreatif Alice + Olivia. Acara tersebut dihadiri sejumlah figur ternama, termasuk Friend of the Brand sekaligus bintang K-pop asal Korea Selatan, Jeon Somi, bersama Grace Chan, Jeannie Ng, Gigi Cheung, Hedy Chan, Elanne Kong, Larine Tang, Asha Cuthbert, Jen Zhou, Taylor R, dan Sue Chang.
Memanfaatkan karakter historis The Magistracy sebagai latar, Alice + Olivia menghadirkan interpretasi visual yang merefleksikan identitas khasnya melalui romantisisme, kemewahan, sentuhan whimsical, dan glamour yang ekspresif. Instalasi bunga yang rimbun, permainan warna yang kaya, serta detail dekoratif bernuansa vintage mengubah ruang tersebut menjadi sebuah panggung teatrikal yang membawa para tamu memasuki dunia estetika sang label. Salah satu instalasi utama malam itu adalah presentasi gaun dramatis dengan motif mawar Rouge Romance, yang menyambut kedatangan para tamu sekaligus menjadi pusat perhatian. Sementara itu, Stace Face, motif ikonis yang telah menjadi identitas visual Alice + Olivia, hadir di berbagai sudut ruang dan menginspirasi sejumlah kolaborasi kreatif yang dirancang khusus untuk acara di Hong Kong.
Dalam perayaan ini, Alice + Olivia berkolaborasi dengan seniman boneka Hong Kong, Ning Lau, untuk menghadirkan interpretasi Stace Face dalam bentuk aksesori boneka koleksi eksklusif. Para tamu juga berkesempatan mempersonalisasi pilihan busana Alice + Olivia melalui layanan bordir khusus, memberikan sentuhan personal pada karya yang mereka pilih. Kreativitas lokal turut mendapat panggung melalui Natari Sadik, seniman Hong Kong yang melukis secara langsung sepasang jeans berhias detail dekoratif, menciptakan karya unik yang dikenakan oleh Katherine Saje. Pengalaman malam itu semakin meriah dengan kehadiran Glambot, yang mengabadikan penampilan para tamu melalui visual sinematik yang dinamis.
Melengkapi suasana, Alice + Olivia menghadirkan sajian manis hasil kolaborasi dengan toko roti Hong Kong, Butter, serta gelato spesial dari Messina. Alunan musik dari DJ Christi McGarry menutup perayaan tersebut, menegaskan pertemuan antara fashion, seni, gastronomi, dan budaya lokal dalam sebuah pengalaman yang merefleksikan semangat kreatif Alicve + Olivia.
Lebih dari dua dekade sejak didirikan, Alice + Olivia terus dikenal melalui rancangan busana yang penuh warna, ekspresif, dan berkarakter. Di balik identitas tersebut, terdapat visi Stacey Bendet, pendiri sekaligus CEO dan direktur kreatif merek asal Amerika Serikat ini, yang percaya bahwa fashion bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan juga cara untuk membangun kepercayaan diri perempuan. Perjalanan Alice + Olivia bermula dari sebuah gagasan sederhana: menciptakan celana dengan potongan yang sempurna. Bagi Bendet, busana yang dirancang dengan baik memiliki kemampuan untuk mengubah perasaan seseorang. Ketika seorang perempuan mengenakan celana yang pas di tubuhnya, ia dapat merasa lebih percaya diri, kuat, dan cantik. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi landasan filosofi Alice + Olivia hingga saat ini.
“Fashion dapat mengubah perasaan seseorang,” menjadi prinsip yang tercermin dalam setiap koleksinya. Dalam wawancara ekslusif Bazaar bersama Stacey, ia menjelaskan bahwa tidak hanya ingin menghadirkan pakaian yang indah, tetapi juga menciptakan busana yang membuat perempuan merasa berdaya dan nyaman mengekspresikan dirinya.
Salah satu momen penting dalam perjalanan merek ini terjadi pada 2011, ketika Stacey membuka butik pertamanya di Madison Avenue, New York. Berlokasi di salah satu kawasan belanja ternama dunia, kehadiran butik tersebut menjadi pencapaian yang sangat berarti baginya. Seiring waktu, ekspansi ke kota-kota seperti Hong Kong dan London semakin memperkuat jangkauan Alice + Olivia. Namun, bagi Bendet, kebahagiaan juga hadir dalam momen sederhana, seperti melihat seseorang mengenakan gaun rancangannya di jalanan.
Menjalankan peran sebagai CEO sekaligus direktur kreatif membuat Bendet harus membagi perhatian antara strategi bisnis dan proses kreatif. Meski tidak selalu mudah, ia justru melihat kedua tanggung jawab tersebut sebagai bagian yang membuat pekerjaannya menarik. Bendet menyebut pendekatan ini sebagai founder mode, yaitu pola pikir seorang pendiri yang terus membangun, mengembangkan, dan mengubah perusahaannya. Baginya, semangat tersebut memungkinkan dirinya tetap terlibat dalam visi kreatif sekaligus memimpin arah bisnis.
Ia juga melihat kecerdasan buatan AI sebagai peluang baru dalam dunia desain. Teknologi ini memungkinkan ide dikembangkan dengan lebih cepat, mulai dari mengubah gambar bunga menjadi motif hingga membayangkan bagaimana motif tersebut dapat diterapkan pada sebuah gaun atau rok. Alih-alih memandang AI sebagai ancaman, Bendet melihatnya sebagai alat yang dapat memperluas kemungkinan kreatif. Ia juga meyakini bahwa perkembangan teknologi dapat membantu industri fashion bekerja lebih efisien, sekaligus membuka kesempatan untuk menghasilkan bisnis yang lebih sehat.
Identitas Alice + Olivia selalu mengedepankan gaya yang glamor, menyenangkan, dan berani. Tantangannya adalah mempertahankan karakter tersebut tanpa terjebak dalam tren yang datang dan pergi. Bagi Stacey, kreativitas terletak pada kemampuan melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, kemudian menerjemahkannya menjadi sesuatu yang menarik dan relevan. Pendekatan tersebut terlihat dalam koleksi Fall/Winter 2026 yang terinspirasi oleh Gilded Age, periode sejarah Amerika yang dikenal dengan kemewahan dan kemegahannya. Koleksi ini menghadirkan detail keemasan, sulaman, embellishment, siluet bervolume, serta estetika maksimalis yang kaya karakter.
Ketertarikan Stacey terhadap periode tersebut tidak hanya berasal dari gaya berbusananya, tetapi juga dari karakter perempuan pada masa itu. Melalui koleksi ini, ia mengangkat kembali semangat perempuan yang kuat dan penuh sikap, lalu menerjemahkannya melalui bahasa desain yang modern. Meski tampil mewah, setiap busana tetap dirancang agar dapat dikenakan dengan beragam cara. Sebuah atasan berornamen, misalnya, dapat dipadukan dengan celana pendek senada dan sepatu bot tinggi untuk tampilan yang dramatis, atau dikenakan bersama celana jeans untuk gaya yang lebih santai. Stacey ingin setiap perempuan memiliki kebebasan untuk memadukan busana sesuai kepribadian masing-masing. Baginya, setiap potong pakaian seharusnya mampu menambahkan sentuhan kemewahan dan glamor ke dalam lemari pakaian tanpa membatasi kreativitas pemakainya.
Bendet percaya bahwa fashion selalu memiliki hubungan dengan situasi sosial dan budaya. Perubahan kondisi ekonomi, misalnya, kerap berjalan beriringan dengan perubahan tren berpakaian. Demikian pula, masa-masa penuh ketidakpastian dapat memengaruhi cara masyarakat memandang dan menggunakan busana. Di tengah dunia yang terus berubah, ia melihat adanya keinginan perempuan untuk kembali merasakan kemewahan dan tampil glamor. Pandangan ini sejalan dengan karakter Alice + Olivia yang merayakan ekspresi diri melalui busana yang berani dan penuh energi.
Ke depan, Bendet berharap dapat memperluas kehadiran Alice + Olivia, khususnya melalui penambahan butik di Hong Kong. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali mengembangkan bisnis di Asia, menandakan bahwa kawasan ini tetap menjadi bagian penting dalam rencana pertumbuhan merek tersebut. Lebih dari sekadar pakaian, Alice + Olivia dibangun di atas keyakinan bahwa fashion dapat menghadirkan perasaan yang berbeda bagi setiap perempuan. Melalui kreativitas, kemewahan, dan kebebasan berekspresi, Stacey Bendet terus membawa visi tersebut ke dalam perjalanan mereknya.
(Teks: Geofanny Tambunan, Foto: Courtesy of Alice + Olivia)
