Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Pangeran Harry & Meghan Markle Bantah Rumor Bahwa Mereka Telah "Pensiun" dari Media Sosial

"Itu adalah berita baru bagi kami," ujar Duke of Sussex.

Pangeran Harry & Meghan Markle Bantah Rumor Bahwa Mereka Telah "Pensiun" dari Media Sosial

Pangeran Harry membantah bahwa ia dan Meghan telah "pensiun" dari media sosial, mengikuti laporan yang beredar akhir-akhir ini.

Beberapa minggu yang lalu, media The Sunday Times melaporkan bahwa Duke dan Duchess of Sussex tidak berencana lagi menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengomunikasikan rencana mereka dengan yayasan baru yang mereka dirikan bertajuk Archewell, atau untuk memperbarui para pengikutnya tentang kehidupan pribadi mereka.

Laporan itu juga mengatkan bahwa hal ini terjadi karena kekecewaan Meghan dan Harry dengan trolling dan fitnah online yang mereka terima di masa lalu, yang sebagian besar secara tidak adil dan kejam ditargetkan pada Duchess of Sussex. 

Namun, Harry kini telah menanggapi laporan tersebut dalam sebuah wawancara dengan Fast Company ketika ditanya tentang bagaimana ia dan Meghan berencana menggunakan media sosial di masa depan.

"Sangat lucu Anda kebetulan bertanya mengenai hal ini karena ironisnya, kami bangun pada suatu pagi beberapa minggu yang lalu dan mendengar bahwa surat kabar Rupert Murdoch mengatakan bahwa kami telah pensiun dari media sosial," cerita pria berusia 36 tahun itu. "Itu adalah 'berita' bagi kami, mengingat kami tidak memiliki media sosial untuk pensiun, atau bahkan akun media sosial yang kami kelola dalam 10 bulan terakhir ini.

"Kami akan tentu akan menggunakan kembali media sosial saat waktunya tepat bagi kami - mungkin saat kami melihat komitmen yang lebih berarti untuk berubah atau reformasi - tetapi saat ini kami telah mencurahkan banyak energi untuk mempelajari platform ini dan bagaimana kami dapat memberikan dampak yang berarti." 

Harry dan Meghan sebelumnya berkomunikasi dengan pengikut melalui akun Instagram @sussexroyal mereka, yang berhasil memecahkan rekor akumulasi pengikut yang cepat pada April 2019, tepat sebelum mereka menikah (sampai Jennifer Aniston bergabung dengan platform tersebut enam bulan kemudian).

Unggahan terakhir mereka adalah pada Maret 2020, tak lama sebelum mereka secara resmi mundur dari peran mereka sebagai bangsawan senior (yang mereka konfirmasi dalam sebuah pernyataan melalui Instagram pada Januari 2020) dan pindah ke California. Sampai saat ini, pasangan favorit banyak orang ini masih memiliki lebih dari 10 juta pengikut di platform tersebut.

(Foto: Courtesy of Instagram @sussexroyal)
(Foto: Courtesy of Instagram @sussexroyal)

Dalam wawancara baru-baru ini, Harry juga merefleksikan perlakuan publik terhadap istrinya, mengaitkan ini dengan media sosial yang menyebarkan berita tak benar yang terus bergulir mengenai pasangan itu. "Narasi palsu itu menjadi induk dari semua pelecehan yang Anda maksud. Itu bahkan tidak akan dimulai seandainya cerita kami diceritakan dengan jujur," katanya.

Pada bulan Oktober, Meghan mengatakan bahwa ia adalah "orang yang paling dianiaya di seluruh dunia" pada tahun 2019, dengan mengatakan pelecehan yang ia terima "hampir tidak dapat diselamatkan" selama penampilan podcast untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia.

"Saya tidak peduli jika Anda berusia 15 atau 25 tahun, jika orang mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang Anda, ini tentu akan berdampak pada kesehatan mental dan emosional Anda tentu ini sangat merusak," katanya dalam podcast Teenage Therapy

Terlepas dari masalah apakah pasangan kerajaan ini meninggalkan media sosial, baik Harry dan Meghan telah vokal tentang perlunya organisasi media sosial untuk mengambil akuntabilitas dan menerapkan reformasi di bidang menangani berita palsu, kurangnya kredibilitas, serta pelecehan dan kebencian secara online.

Selain itu, Harry juga merenungkan kerusuhan di Gedung Capitol baru-baru ini terjadi di segmen lain dalam wawancara tersebut, dengan mengatakan: "Kami telah berkali-kali melihat apa yang terjadi ketika dunia nyata menerima dan mengabaikan adanya kesalahan informasi. Tidak ada boleh meremehkan isu ini. Ada serangan literal terhadap demokrasi di Amerika Serikat, yang diselenggarakan di media sosial, yang merupakan masalah ekstremisme kekerasan."

(Penulis: Olivia Blair; Artikel ini disadur dari Bazaar UK; Alih bahasa: Janice Mae; Foto: Courtesy of Bazaar UK)