Menguping Obrolan Christine Hakim dengan Reza Rahadian

Kedekatan keduanya memang sudah bukan rahasia lagi. Kali ini kami mendengarkan keseruan pembicaraan mereka.



Untuk edisi ulang tahun majalah Harper’s Bazaar Indonesia pada bulan Juni lalu, kami merekam kedekatan aktris senior dan produser film, Christine Hakim, dengan aktor berbakat, Reza Rahadian.

Kedekatan keduanya memang sudah bukan rahasia lagi, namun seperti apakah ketika mereka berinteraksi langsung?

Kami menemukan keduanya di sanggar Teater Populer Teguh Karya, dan menyimak mereka berbincang bersama seputar profesi, film, dan favorit mereka.

Harper’s Bazaar (HB): Di mana Anda berdua bertemu untuk pertama kalinya?

Christine Hakim (CH): Di mana? Ingat tidak?

Reza Rahadian (RR): Pendekar Tongkat Emas

CH: Bukan

RR: Iya. Pertama kali ketemu di Pendekar Tongkat Emas, pertama kali syuting bareng baru di Jejak Dedari.

CH: Salah!

RR: Oh iya, di Museum Layang-Layang.

CH: Jadi, siapa yang lebih muda ingatannya? Museum Layang-Layang, saat itu Reza lagi direct film pendek.

RR: Ketemu ibu saat itu langsung starstruck.

CH: Aku juga bingung kenapa ya anak ini excited banget.

RR: Gimana ya, namanya mengidolakan, melihat ibu Christine sebagai sosok yang menginspirasi, I learned a lot from her.

CH: Dari mana awalnya? Film ibu yang pertama kamu tonton apa?

RR: Cut Nyak Dien. Di Balik Kelambu, waktu ada pemutaran film-film Teguh Karya, aku nonton beberapa film ibu. Jadi memang udah mengagumi apalagi melihat rekam jejak Christine Hakim. Saya rasa semua aktor muda di Indonesia atau generasi saya, kayaknya nggak ada yang nggak mengagumi sosok Christine Hakim. You inspire us a lot.

CH: Amin

RR: Ibu film pertamanya apa?

CH: Cinta Pertama dong. Kalau kamu?

RR: Sinetron pertama kali. Culunnya Pacarku tahun 2005.

CH: Kamu yang jadi si culun?

RR: Nggak, waktu itu supporting.

CH: Siapa yang jadi si culun? Ayo dites.. Siapa?

RR: Waktu pertama itu Zumi Zola, hanya pas saya udah zamannya Hessel Steven, yang menggantikan Zumi Zola.

CH: Berarti kamu umur berapa waktu itu?

RR: 19. Kalau ibu umur berapa?

CH: 16

HB: Bagaimana memilih film pertama yang diperankan?

CH: Saat itu saya tidak memutuskan. Ketika Teguh Karya meminta saya untuk main film, saya justru datang ke kantor mas Teguh untuk menolak tawaran itu. Dia lalu mengajak saya: “Yuk, kita ke kantor om yang satu lagi.” Dengan alasan sopan santun, saya ikut ke sana.

RR: Main ke kantor untuk menolak, tapi pak Teguh lalu mengubah sudut pandang ibu?

CH: Belum. Jadi dia mengajak saya untuk dikenalkan ke produser sebagai pemeran filmnya. Lalu saya bilang ke pak Teguh, “Kan, saya tidak mau main filmnya, om.”

RR: Lalu apa yang membuat ibu ada di film Cinta Pertama?

CH: Ibu lalu dijemput oleh mas Slamet Rahardjo di sekolah waktu itu di SMA 6, lalu jalan-jalan di taman Barito. Rupanya mas Slamet punya misi untuk mencari tahu ibu itu seperti apa. Setelah itu, ia langsung mengajak ke Sanggar Teater Populer, mereka saat itu sedang persiapan syuting. Kemudian disuruh datang lagi untuk mengukur baju. Tiap hari datang ke sana karena selalu disuruh datang oleh pak Teguh. Seminggu kemudian langsung mulai syuting, tidak pakai reading. Waktu itu ibu merasa diberikan kepercayaan dan berusaha untuk memberikan apa yang diminta, sebaik mungkin.

RR: Dan, Piala Citra waktu itu? Best actress. Jadi sebenarnya orang-orang yang membuat ibu terjun ke film, selain Teguh Karya, Slamet Rahardjo, semua itu membimbing ibu sampai akhirnya menjadi aktris.

CH: Exactly. Mereka seperti menjaga dan membimbing, terutama Teguh Karya. Terperangkap deh...

RR: Terperangkap tapi menemukan jati dirinya di situ.

CH: Setelah film Kawin Lari, pandangan ibu terhadap film berubah. Awalnya ibu tidak menyukai film karena sepertinya terlalu glamorous.

RR: Ternyata film bukan begitu, dan ibu mendapat visi baru.

CH: Tepat sekali, mendapat ilmu pengetahuan. Kalau kamu kenapa? Kenapa timbul hasrat untuk main film?

RR: Karena saya suka seni peran.

CH: Kenapa? Mengenal seni peran dari mana?

RR: Pertama kali umur 16 tahun main teater jadi Hanoman. Ada pertukaran budaya antara anak-anak pekerja lokal dengan pekerja asing di kantor ibu aku. Akhirnya menjadi senang dengan seni peran. Kemudian main sinetron, lalu dapat film. Dulu saat casting film selalu dilihat sebelah mata karena dianggap “anak sinetron”.

CH: Film pertama kamu apa?

RR: Film Horor

CH: Apa judulnya?

RR: Film Horor, itu judulnya. Semacam Scary Movie-nya Indonesia.

CH: Sutradaranya siapa?

RR: Toto Hoedi. Sebagai anak muda yang baru berkarier, ketemu film langsung senang sekali, tidak peduli ceritanya apa, dan lain-lain. Tapi tanpa film ini, tanpa kenal mas Toto, tanpa kenal Ismail Sofyan Sani (sutradara Culunnya Pacarku), maka mungkin keseriusan aku dalam seni peran juga akan berbeda. Akhirnya dari situ terus-menerus mencari sampai bertemu dengan mas Hanung di Perempuan Berkalung Sorban.

CH: Turning point apa yang kamu rasakan saat itu?

RR: Dapat script yang tepat, cerita yang bagus, karakter yang baik.

CH: Lalu apa yang kamu rasakan?

RR: Proses menggali karakternya berbeda, seperti memerlukan keaktoran. Ada tuntutan dari sutradaranya: “Kalau kamu memang merasa bahwa kamu adalah aktor, ini yang harus kamu lakukan.” Jadi ada satu tantangan baru.

CH: Peran utama?

RR: Supporting. Dapat Piala Citra pertama untuk Supporting Actor.

HB: Saat merasa tertantang, apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan berakting?

RR: Untuk meningkatkan skill kemampuan bermain lewat lapangan langsung dan buku-buku tentang seni peran. Tapi, at the end of the day, sebenarnya proses kehidupan lah yang paling banyak mengajarkan tentang seni peran. Kejujuran dalam bermain, kepekaan rasa.

CH: Dalam sebuah diskusi, saya juga menjelaskan proses mendalami seni peran itu sama seperti mendalami kehidupan itu sendiri. Seberapa banyak yang kamu bisa serap dari kehidupan ini dengan rasa atau pikiran kamu, itulah yang akan menjadi bahan dan kekuatan dari bobot keaktoran kamu.

RR: Secara teori memang ada akademi-akademi yang mengajarkan seseorang seni peran secara khusus. Namun, akting itu seni kehidupan.

CH: Buat ibu, badan kita ini ibaratnya menjadi medium buat keluar masuknya karakter dan roh orang lain. Makanya saya selalu bilang pemain itu harus punya karakter dan keimanan yang kuat. Setiap napas, setiap langkah yang kita ambil itu adalah sebuah pelajaran, sehingga...

RR: Cukup peka kah kita atau tidak untuk melihat itu sebagai pelajaran?

CH: Exactly. Pendidikan formal itu sebagai dasar dan arahan.

CH: Dua tahun lalu saya ke FFI karena diancam sama Reza, dan biar saya mau datang diberikan Lifetime Achievement Award.

RR: Bukan saya yang memberikan penghargaan. Saya pernah bersama ibu saat ibu punya keinginan lain, yaitu pensiun. Dan, saya merasa seperti orang patah hati. No, no it’s not the right time for you to retire. Sampai akhirnya ibu juga melihat ada fungsi lain.

CH: Manusia itu lahir diurusi dari bayi sampai besar. Nah sekarang, Reza secara tidak langsung menyadarkan saya ini sekarang udah di fase yang berbeda, yaitu sebagai ibu. Misi saya mendirikan perusahaan film agar berkesempatan mengajar mereka. Sekarang sudah banyak anak-anak muda bikin film yang bagus, ya sudah, ibunya berpikir untuk pensiun.

RR: Itulah pentingnya mengapa generasi muda perlu apresiasi generasi sebelumnya. Itulah yang di masa sekarang agak kurang. Kita yang masih muda, perlu belajar banyak. No matter what, mereka sudah ada di industri ini selama itu

CH: Sebagai orang tua kita juga harus terus belajar dan memahami bahwa zaman sudah berbeda. Jadi bukan hanya yang muda saja yang belajar, tapi saya pun juga belajar dari mereka, agar terjadi komunikasi dua arah.

RR: Yang muda harus mengerti mereka tidak akan ada tanpa generasi sebelumnya.

CH: Yang tua harus lebih bijak, tidak harus merasa tersaingi, dan terancam. Harus ada keikhlasan untuk di posisi masing-masing.

RR: Ini yang paling banyak saya pelajari dari ibu dan senior lainnya. Saya merasa sangat beruntung masih bisa bertemu dan berdiskusi dengan mereka tentang seni peran, seni kehidupan, sudut pandang, bagaimana menyerap sesuatu, mengasah sensitivitas.

CH: Kenapa? Karena kita nanti jadi nyaman, kemudian kita lupa. Dari pengalaman saya, kita bisa melihat aura bintang itu bukan berarti dimiliki oleh orang terkenal, karena bobotnya itu juga ditentukan oleh kualitas di dalam menghadapi berbagai macam hal. Tapi memang, kecerdasan itu mutlak untuk dimiliki oleh seorang pemain. Salah satunya saya selalu bilang, jangan ge-er, kecerdasan Reza di atas rata-rata.

RR: Okay, next question!

CH: Tapi, kecerdasan kalau tidak diasah akan tumpul. Jadi, selalu berpikir, selalu mengkritik diri sendiri. Ini yang hampir tidak pernah dilakukan.

HB: Memuji diri sendiri mudah, tapi mengkritik diri sendiri itu..

RR: Itu yang paling susah.

HB: Kalian menikmati bentuk seni lain selain seni peran?

RR: Saya suka tata ruang, lukisan, dan musik. Kalau sedang tidak syuting pasti akan selalu bersinggungan, termasuk dengan fashion.

CH: Kalau saya, di luar film saya banyak menjadi penikmat saja.

RR: Penikmat dan pengamat. Dan banyak gerakan-gerakan gerilya di bawah tanah. Saya yang ceritakan saja. Di bidang pendidikan, perlindungan terhadap anak, autisme, dengan UNESCO dan dulunya UNICEF.

HB: Anda ada proyek berdua?

RR: Banyak. Salah satunya film Pria Semayat, bu Christine sebagai produser dan pemain, sutradara Garin Nugroho, dan saya sebagai pemain. Duet maut Christine Hakim dan Garin Nugroho setelah 12 tahun.

RR: Lalu, menurut ibu, wajah film Indonesia hari ini seperti apa?

CH: Film itu merupakan produk budaya dan cerminan dari negeri di mana film itu dibuat. Jadi wajah film Indonesia sekarang, itulah wajah kita sekarang.

Kalau kita ingin menciptakan film Indonesia yang lebih baik dari sekarang, maka kita pun harus menciptakan kehidupan di alam Indonesia ini dengan lebih baik, supaya produknya juga akan lebih baik.

Wawancara lengkap terdapat pada majalah Harper's Bazaar Indonesia edisi Juni 2018.

Portofolio ini:
Fotografer: Rakhmat Hidayat
Editor Fashion: Riesca Chekka
Busana: Alexander McQueen, Celine, Ermenegildo Zegna, Etu, Iwan Tirta, Hugo Boss, Norma Hauri
Lokasi: Sanggar Teater Populer Teguh Karya
Videografer: Rudi Ferdianrus
Asisten Videografer: Putri Hanifa
Makeup artist: Andre
Hair: Teguh Widodo