Wawancara Eksklusif Bersama Clare Waight Keller di Tokyo Tentang Fashion dan Uniqlo : C

Skyline perkotaan Tokyo menjadi latar belakang cantik selama perbincangan.

Clare Waight Keller saat berada di Tokyo untuk pesta peluncuran Uniqlo : C


Topik tentang kolaborasi paling anyar antara Uniqlo dan Clare Waight Keller menjadi tajuk koleksi Uniqlo : C masih hangat dan dibicarakan para pencinta fashion. Siapa yang tidak menunggu-nunggu kabar dari Clare, seorang desainer fashion asal Inggris yang sejak berita kemundurannya sebagai creative director rumah mode Givenchy pada tahun 2020, belum terdengar lagi.

Akan tetapi sejak tengah tahun 2023, berita mengenai kerja sama ini menarik perhatian. Sempat melakukan aktivasi di kota Paris di awal bulan September bersama para media fashion dan lifetsyle dunia, minggu lalu pesta perayaannya pun juga digelar di Tokyo secara meriah di Andaz Hotel Toranomon Hills.

Clare melakukan interview bersama Harper's Bazaar Indonesia

Tentu, Clare hadir di sana, menjelaskan dengan detail mengenail proses pengerjaan sampai hasil tiap potongan yang dipresentasikan baik pada model maupun instalasi. Di sela waktunya, Bazaar mendapat sesi exclusive interview untuk menanyakan sederet keingintahuan kami akan kolaborasi istimewa ini.

Harper's Bazaar Indonesia (HBI): Kemarin di pesta, Anda dan Yukihiro (Fast Retailing Group Senior Executive Officer and Head of R&D untuk Uniqlo) sempat membahasnya, apabila Anda ternyata sudah mengetahui label Uniqlo ini sejak lama. Boleh diceritakan lagi, reaksi Anda ketika pertama kali dihubungi oleh Uniqlo?

Clare Waight Keller (CWK): Tentu saya sangat excited! Saya sudah menjadi penggemar brand ini sejak lama dan membeli beberapa barangnya, sehingga saya juga mengetahui dengan persis kolaborasi yang pernah terjadi sebelumnya. Jadi saya berpikir: "Oh, ini mungkin akan sangat menarik, hanya karena skalanya sangat besar." Ini merupakan tantangan berpotensi yang sangat berbeda dengan apa yang pernah saya alami sebelumnya.

HBI: Bagaimana Anda bekerja sama dengan label yang mempunyai kultur (Jepang), di samping Clare sendiri juga tumbuh bersama budaya British yang tak kalah kuat?

CWK: Saya pikir ada beberapa hal yang serupa, tapi nyatanya sebagian besar sangat berbeda hahaha… (tertawa). Maksud saya, gaya Inggris memang cukup eksentrik, dan seseorang di Uniqlo pernah bercerita kepada saya jika 150 tahun lalu mereka semua mengenakan kimono. Dan yang sesungguhnya, fashion merupakan hal yang sangat baru bagi Jepang. Jadi menurut saya itu adalah dinamika menarik karena dapat bekerja bersama budaya yang sangat tua, bersejarah, dan indah, namun cukup segar dalam industri fashion. Sehingga mereka mempunyai pandangan yang inovatif dan modern, sedikit lebih fungsional daripada Inggris. Di sisi lain, Inggris memiliki sejarah mode yang sangat tua dan kami telah menciptakan hal-hal ikonis selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad. Maka dari itu menyatukan kedua kultur ini sangatlah menarik.

HBI: Lalu, bagaimana Anda menerjemahkan women empowerment terhadap seluruh karya Anda?

CWK: I think for me femininity is a power. Saya tahu itu adalah hal yang agak kontroversial. Namun saya percaya bahwa: hanya karena sesuatu itu lembut dan ada movement atau menerawang, lantas bukan berarti tidak bisa menjadi powerful. Saya pikir Anda bisa tampil mencolok, contohnya dress warna (kuning) lemon dari koleksi Uniqlo : C yang banyak dipakai oleh perempuan di sini malah begitu menarik perhatian di tengah pesta. There's something powerful in that, there is a strength in that sort of femininity. Saya tidak memerlukan bahu besar ber-statement, atau siluet yang sangat ketat, saya lebih menginginkan sesuatu yang lebih lembut. So I think that has its own power.

HBI: Ya benar, warna kuning pada Uniqlo : C benar-benar menarik perhatian, begitu juga dengan pilihan warna lainnya. Apa ide dari pemilihan warna-warna tersebut?

CWK: Pengakuan ini cukup lucu, karena saya belum pernah menggunakan warna kuning sebelumnya. Hmm... ada satu koleksi, pre-collection di Givenchy yang saya buat, ada warna kuning. Tapi saya selalu menggunakan warna-warna segar, dan itu hal penting karena biasanya ketika Anda berpikir mengenai musim gugur atau musim dingin, semua yang keluar menjadi gelap. Kemudian saya juga membayangkan, ketika koleksi-koleksi ini tiba di toko pada bulan Agustus, September, di mana cuaca masih sangat terang dan matahari cerah, terutama buat Anda yang tinggal di Asia. Saya yakin banyak pemakai di sini yang sangat menghargai sesuatu item yang terasa relevan dengan iklim tempat mereka tinggal. Di sisi lain saya juga senang dengan gagasan bahwa ada semacam semangat musim dingin dan musim gugur pada pakaian ini, tapi palet warnanya sangat segar, membuatnya lebih mudah dipakai untuk saat ini.

Warna kuning ini juga seolah menjadi warna pelengkap yang segar untuk kulit Anda, tak peduli siapa sang pemakai. Faktanya, warna kuning ini sangat cocok dengan warna camel, abu-abu, dan putih. Yang ingin saya eksplorasi adalah bagaimana semua warna bisa dipadukan begitu saja, sehingga tidak perlu ada arahan ketat. Benar-benar multifungsi agar bisa menggunakan warna basic seperti kuning pun bisa dipadukan dengan hitam, karena lembut dan saling melengkapi. So it's a really versatile palette.

HBI: Apakah kolaborasi ini bisa dikatakan ethical dan sustainable?

CWK: As much as it can be, yes. Maksud saya, tentu kedua hal tersebut selalu menjadi pertanyaan menantang karena pada akhirnya "keberlanjutan" adalah tentang menyimpan sesuatu di dalam lemari pakaian untuk jangka waktu yang lama. Menurut saya sangat sulut jika pakaian fisik bisa ramah lingkungan. Ya, Anda dapat sebisa mungkin menggunakan serat murni, dan itu menjadi salah satu hal yang saya coba lakukan. Jadi 100% kasmir, 100% lambswool, 100% katun, dan bahan-bahan ini sangat mudah didaur ulang. Nah, ketika Anda mulai mencampur-campurnya, semua jadi lebih kompleks. Jadi saya sudah mencoba melakukan semampunya yang saya bisa. Dan tentu saja, hal ini juga tentang menciptakan "timeless" di dalam lemari. Sehingga ketika Anda membeli trench coat ini, tidak seperti mendapat hem asimetris unik yang akan menjadi kuno di musim depan. Modelnya klasik, seperti proporsi yang sempurna. Dan coat ini akan tetap di lemari pakaian Anda selama lima sampai sepuluh tahun. And to me that is a sustainable approach to fashion.

HBI: My last question, your favorite C in your wardrobe!

CWK: (Tertawa) Baiklah, Cashmere. Saya suka kasmir dan saya punya sangat banyak, baik itu berupa rok, gaun, sweter, itulah sebabnya saya menambah kasmir dalam koleksi Uniqlo : C. Kemudian Colors (warna-warni), ya walau saya pakai pakaian hitam hari ini. Tapi saya punya beragam palet di dalam lemari pakaian, ada berbagai macam kemeja biru, rok hijau, mantel krem, saya juga punya banyak corak warna berbeda sehingga saya bisa memadukannya di musim panas. Terakhir adalah City (kota), saya suka gagasan tentang perkotaan, saya pikir Anda punya gaya hidup di kota yang terkadang membuat Anda harus berpenampilan chic, kemudian sesaat pergi ke pesta koktail. Maka Anda ingin punya gaya kasual yang anggun bukan? Ide tentang hal yang bersilangan sangatlah penting, kuncinya Anda jadi paham dengan versatility di dalam lemari pakaian.

(Transkrip: Riza Arya Prasetya; Foto: Erica Arifianda dan Courtesy of Uniqlo)