Pertumbuhan Industri Tas Preloved Mewah di Indonesia

Nyatanya, pertumbuhan konsumen mode yang membeli produk tas secondhand semakin meningkat.



Di era media sosial, apa pun yang seseorang pakai seketika menjadi perhatian yang kemudian menjadikan banyak orang semakin ingin mencari tahu lebih banyak hal tentang mode sekaligus semakin ingin mengoleksi beragam rupa produk desainer terutama tas rancangan desainer-desainer ternama.

Keinginan banyak wanita untuk memiliki segala model tas desainer dari mulai model tas keluaran terbaru, tas dari koleksi klasik, tas vintage dari arsip rumah mode internasional, hingga tas yang memiliki potensi sebagai investasi semakin didukung dengan adanya luxury secondhand marketplace yang semakin diminati sebagai destinasi untuk mendapatkan produk-produk tersebut.

Fenomena ini semakin terbukti dengan nyata, dikarenakan banyaknya sosok di media sosial seperti Instagram yang mana beberapa diantaranya adalah teman-teman saya yang tampak dengan bangga menjinjing produk tas desainer vintage.


Selain para teman-teman saya, beberapa influencer mode pun turut melakukan hal yang sama. Beberapa tas yang saya perhatikan sering dijinjing oleh mereka termasuk tas bahu bahan kanvas rancangan John Galliano untuk Dior yang dibalutkan monogram Dior, Chanel classic flap bag dengan hardware berwarna emas, hingga tas Fendi Baguette vintage.

Keberadaan para luxury secondhand marketplace mendukung kebutuhan para konsumen muda yang ingin mendapatkan produk first hand dengan mudah, namun juga menjadi medium untuk para first hand buyer yang kerap membeli produk baru langsung dari butik desainer ternama untuk bisa menjual barang yang mereka sudah tidak terpakai lagi atau yang dinamakan sebagai kegiatan resale.

Setelah mereka menjual barang-barang preloved yang sudah tidak terpakai atau mendapatkan keuntungan dari barang tersebut, rata-rata para first hand buyer akan kembali berbelanja lewat butik resmi yang menjadikan seluruh rangkaian jual-beli di antara first hand buyer, second hand buyer, serta butik resmi saling menguntungkan. Bahkan, Boston Consulting Group yang dikutip oleh The Fashion Law juga mengatakan "brand yang mendukung pasar produk secondhand, rata-rata justru menjadi pemenang."

Seperti yang dikutip oleh The Fashion Law dari sebuah laporan yang dibuat oleh Boston Consulting Group, aktivitas luxury resale yang dilakukan para first hand buyer bahkan diperkirakan akan semakin melonjak pada tahun 2021 sebanyak 12 persen. Sementara itu, menurut Luxe Digital kini industri luxury resale sudah menyentuh angka 24 miliar Dollar AS, yang merupakan keuntungan dari adanya para first hand buyer sebagai penyedia produk tas preloved untuk dinikmati berbagai kalangan yang tak bisa membeli produk edisi terbatas atau produk dari koleksi kapsul, yang kemudian menjadikan para first hand buyer tersebut semakin lebih gemar berbelanja barang terbaru yang dilansir oleh butik resmi.

Lalu bagaimana dengan fenomena industri tas mewah secondhand di Indonesia? Menurut Samira Shihab, selaku Co-Founder situs online luxury pre-loved marketplace di Indonesia, Tinkerlust, "Saat ini, tren belanja barang preloved tidak lagi dipandang sebelah mata oleh sebagian besar konsumen."

"Dibandingkan pada tahun 2016 saat pertama kali Tinkerlust berdiri, respon para konsumen barang preloved semakin naik secara signifikan. Hal itu terjadi dikarenakan kesadaran para konsumen akan bahayanya industri mode. Selain itu, investasi barang preloved sering dilakukan para konsumen sejak beberapa tahun lalu. Hal tersebut terjadi dikarenakan kemudahan untuk membeli banyak barang vintage dengan harga terjangkau dan kualitas barang yang hampir sempurna," jelas Samira kepada BAZAAR.CO.ID.

Pandangan serupa pun turut disampaikan oleh Sabrina Joseph, Co-Founder Huntsreet sebuah situs authentic luxury marketplace yang juga dikenal memiliki ragam kurasi barang preloved desainer terbesar di Indonesia, "Generasi milenial dan Gen Z memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan. Stigma yang menempel di kegiatan menjual dan membeli barang preloved pelan-pelan menghilang, yang kemudian menjadikan aktivitas ini sebagai bentuk untuk mengurangi limbah yang diakibatkan industri mode."

Sabrina Joseph mendirikan Huntstreet di tahun 2015 untuk menciptakan wadah untuk para wanita yang ingin menjual barang mereka yang tak lagi terpakai, awalnya situs authentic luxury marketplace miliknya didominasi oleh first hand buyer yang sebelumnya belum pernah menjual barang-barang mode milik mereka.

Namun seiring berjalannya waktu, konsep resale semakin diterima oleh berbagai kalangan, bertumbuh pesat, dan diminati oleh lintas generasi. "Rata-rata pihak penjual barang di Huntstreet menjual barang milik mereka dikarenakan beberapa alasan yaitu karena mereka sudah terlalu sering mengenakan barang tersebut, membutuhkan ruang lebih besar untuk produk baru yang mereka baru saja beli, atau akibat berbelanja secara impulsif dan menyesalinya di kemudian hari sehingga mereka ingin mencari pembeli yang dapat mengapresiasi barang yang mereka beli dengan baik," tambah Sabrina.

Yang mana hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Samira Shihab yang melihat banyak first hand buyer semakin antusias untuk mengulang aktivitas menjual barang tak terpakai yang mereka miliki. "Sebagian besar seller Tinkerlust sering melakukan penjualan lagi bahkan setelah barang mereka terjual," ungkap Samira.

Antusiasme terhadap barang vintage atau luxury secondhand yang meningkat dan semakin menarik atensi para pencinta mode, terutama tas termasuk sebagai benda fashion yang selalu menjadi incaran para fashionista. Ditambah dengan adanya beberapa brand tas yang dinilai baik untuk dijadikan investasi, semakin membuat banyak secondhand buyer memilih untuk menambah koleksi tas milik mereka dengan membelinya dari situs secondhand luxury marketplace.

Beberapa brand tas yang selalu memiliki nilai resale yang tinggi diantaranya adalah tas lansiran rumah mode Hermès, Chanel, Louis Vuitton, dan Gucci. Bahkan, nilai jual beberapa brand tersebut dapat menjadi lebih tinggi jika produk yang dijual kembali merupakan bagian dari koleksi edisi terbatas atau langka layaknya tas koleksi Louis Vuitton x Supreme atau Birkin yang dibaluti oleh kulit eksotis.

Bahkan, menurut Jeff Berk, pendiri situs Privé Porter yang kerap menjual tas Birkin kepada The New York Times mengemukakan adanya fenomena di mana banyak wanita yang langsung membeli tas Hermès Birkin sesaat setelah tas tersebut ready stock tanpa mempedulikan lagi bentuk, warna, ukuran, hingga jenis hardware yang terkandung demi memiliki atau menambah koleksi tas Birkin milik mereka. Namun, sesaat mereka menyadari bahwa mereka tidak terlalu cocok mengenakan warna tertentu, mereka kemudian berpaling ke situs online luxury preloved marketplace untuk menjual tas tersebut. Yang mana, pola tersebut diakui semakin menghidupkan dan saling menguntungkan di antara first hand buyer dengan second hand buyer.

Mengikuti jejak tas lansiran Hermès adalah tas lansiran rumah mode Louis Vuitton, Chanel, dan Goyard. Bahkan dilaporkan oleh situs Racked.com, saat ini first hand buyer yang ingin menjual tas Louis Vuitton miliknya dapat menerima keuntungan sebanyak 70%. Sementara itu untuk tas lansiran Goyard, mereka dapat menerima keuntungan 1,3 kali lipat. Diikuti oleh tas Chanel yang dapat memberikan para first hand buyer keuntungan rata-rata sebanyak 86% hingga lebih dari itu jika tas yang akan dijual terbuat dari material spesial atau merupakan bagian dari koleksi edisi terbatas yang sudah tidak bisa dibeli melalui butik resmi.

"Faktor yang memengaruhi daya tarik investasi sebuah tas adalah brand, popularitas model tas itu sendiri, dan kondisi tas yang akan dijual. Seberapa baik seseorang merawat tas milik mereka akan turut serta memengaruhi nilai jual tas tersebut. Karena, yang membedakan rentang harga antara tas preloved dinilai dari segi kondisi dan kondisi memiliki peranan besar untuk menentukan harga jual. Selain kondisi, kelengkapan dokumen pada tas seperti kuitansi asli atau kartu authenticity juga dapat menambah nilai jual secara signifikan," jelas, Sabrina Joseph, Co-Founder Huntstreet ketika berbicara tentang faktor apa saja yang memenuhi kriteria tas sebagai bentuk investasi.

(FOTO: Courtesy of Instagram.com/@zizidonhoe, @tinkerlustid, @hunt_street, @goyardofficial, & Stock X; Layout: Tevia Andriani)