Naomi Campbell Cerita Fakta Kehidupan Model di Era '90-an

Mulai dari dunia malam penuh cerita hingga penyelamatan oleh polisi, Naomi Campbell membagikan cerita kehidupannya dalam buku terbarunya.



Naomi Campbell, salah satu model ternama dunia, telah menjalani hidup yang tidak biasa. Di usianya yang menginjak 50 tahun, ia telah meluncurkan buku dengan penerbit Taschen, membagikan perjalanan kehidupan karier dan pribadinya, menelusuri bagaimana seorang remaja berkulit hitam asal Streatham kini menjadi kekuatan yang membawa perubahan dunia dan kesetaraan.

Di sini, ia membagikan ceritanya, seluk beluk kehidupan supermodel di era '90-an, ketika dirinya, Linda Evangelista, Christy Turlington, Cindy Crawford, dan Kate Moss menjadi bintang di masa itu. Dunia malam di New York, pesta mewah, dan momen bersama dengan penggemar. Namun, ini adalah cerita sekelompok perempuan, tanpa memandang hadiah estetis, menjalani hidup mereka untuk menjadi momen bersejarah dalam dunia fashion.

Belum ada yang benar-benar memahami dampak yang kami rasakan, khususnya ketika kami tampil bersama di video penyanyi George Michael atau pergelaran busana Versace. Kami tidak tahu bagaimana hal tersebut diterima. Kami berada di antara tersebut, sibuk berpergian untuk keperluan kerja. Banyak pekerjaan menarik yang ditawarkan dan kami kerap harus memilih karena kami tidak dapat berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Saya ingin sebuah iklan untuk Jasper Conran ketika mereka tidak mendapatkan saya sehingga mereka mengajak ibu saya. Proyek ini dikerjakan bersama dengan Robert Mapplethorpe, salah satu orang yang saya berharap dapat bekerjasama tetapi belum terjadi.

Kemudian sebuah bencana ketika salah satu majalah melakukan wawancara dengan Linda, Christy, dan saya untuk edisi mereka pada Juni 1990. Ketika artikel tersebut dirilis, kami mengerti bahwa kami tidak bisa melakukan wawancara bersama lagi. Kami ingin mengajak sang jurnalis untuk merasakan malam yang menyenangkan di New York: pertama, makan malam di sebuah restoran, Punch, lalu menikmati malam di kota. Ini tidak selalu menjadi sesuatu yang kami lakukan untuk diri kami.

Jurnalis yang melakukan wawancara, Elizabeth Sporkin (saya tidak tahu mengapa saya mengingat namanya), ternyata tengah mengandung. Jadi, kami mengajak seorang perempuan yang hamil besar ke berbagai tempat untuk menunjukkan kepadanya, sosok menarik dari diri kami. Kami mengajaknya ke klub-klub malam dan area West Side Highway untuk menemui beberapa transvestites dan teman kami dari House of Xtravaganza.

Saya mengenakan gaun rancangan Isaac Mizrahi dan dalam satu kesempatan saya mengatakan sesuatu yang buruk karena ada perempuan lain di sebuah restoran mengenakan gaun yang sama; saya meminta agar gaun ini tidak lagi saya kenakan dan harus dilepas secepatnya. Pada dasarnya, kami dianggap sangat kekanak-kanakkan meski itu bukan maksud kami. Kami ingin menunjukkan betapa menyenangkan hidup kami. Kami tidak menyadari bahwa hal tersebut dipandang berbeda. Sebelumnya, kami tidak memiliki tim publikasi untuk membantu kami.


Kemudian, di tahun yang sama, sebuah wawancara dalam sebuah majalah ternama edisi Oktober, Linda memberikan pernyataan bahwa kami tidak akan keluar dari tempat tidur untuk pekerjaan dengan bayaran kurang dari 10,000 dollar Amerika (148 juta rupiah), atau pernyataan serupa.

Ia tidak bermaksud untuk menyinggung – pernyataan itu adalah sebuah lelucon – tetapi pernyataan tersebut menghantui kami selama bertahun-tahun. (Jika ingin berterus terang, desainer seperti Gianni, Azzedine, dan Karl Lagerfeld yang menentukan nominal bayaran kami; media menganggap bahwa kami yang meminta harga tersebut, tetapi kami tidak memintanya.) Sebelumnya, kami berbicara cukup bebas kepada media, tetapi setelah saat itu, kami sadar bahwa kami harus berhati-hati. Banyak hal yang mudah untuk disalahartikan. Momen tersebut adalah pelajaran berharga bagi kami.

“Kami dianggap bersikap kekanak-kanakkan, meski itu bukan maksud kami.”

Banyak orang yang mulai menggunakan istilah supermodel. Setiap hal yang kami kenakan dan setiap restoran yang kami kunjungi akan muncul di surat kabar. Kami sempat menganggap hal ini aneh ketika orang-orang merasa perlu tahu. Kami tidak dapat berjalan di ruang publik tanpa dikejar banyak orang. Saya ingat ketika kami berbelanja di Roma dan kami tidak dapat keluar dari toko karena banyak penggemar yang mengerumuni toko tersebut. Pihak kepolisian harus datang dan menolong kami. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Ketika Peter Lindbergh mengajak kami untuk terlibat dalam Models: The Film, kami mulai paham bahwa banyak orang yang ingi tahu lebih banyak tentang kami


Film ini dibintangi oleh Cindy, Tatjana, Linda, Stephanie, dan saya sendiri. Peter berhasil mengambil gambar diri kami masing-masing dan menggunakannya sebagai inspirasi awal untuk film Models. Kami melakukan proses syuting di beberapa lokasi sekitar Brooklyn, Jones Beach, dan Coney Island. Film ini berkisah tentang kami sebagai model, tetapi kami juga memerankan karakter. Linda memainkan akordeonnya dan saya menyanyikan lagu C’est Si Bon, lagu yang saya nyanyikan dalam iklan untuk Yves Saint Laurent Jazz.

Semua melakukan hal yang dekat dengan diri mereka. Saya rasa film ini membantu banyak orang untuk memandang kami dengan kacamata baru, sebagai selebriti dibandingkan hanya model fashion. Namun, Models masih menjadi pekerjaan bagi saya; saya tidak pernah merahasiakan kehidupan pekerjaan saya. Saya sangat tertutup dengan kehidupan pribadi saya dan sesuatu yang sulit ketika kehidupan pribadi kami menjadi subjek kritik banyak orang. Dengan siapa kami berkencan? Siapa orang-orang yang bertemu dengan kami? Dalam banyak kesempatan, cerita yang muncul adalah rangkaian kebohongan. Saya sempat menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat terkenal saat itu dan saya mulai pahami alasan ia sangat protektif terhadap kehidupan pribadinya.

“Saya menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat terkenal saat itu dan mulai memahami alasan ia bersikap sangat protektif tentang kehidupan pribadinya”

Namun, ada beberapa tempat yang tetap terasa aman bagi kami, seperti Café Tabac, sebuah kafe yang berlokasi di Second Avenue, East Ninth Street. Kami dapat pergi ke sana, bersantai, dan menikmati waktu kami jauh dari pandangan orang lain, mungkin karena tempat ini dikelola oleh teman kami, Roy Liebenthal. Kafe ini adalah tempat yang dapat Anda kunjungi untuk makan malam romantis, tempat menari, dan melepaskan kepenatan. Tempatnya memiliki musik yang enak didengar serta steak dan kentang yang enak. Anda juga dapat bermain bilyar. Tempat ini nyaman, tidak terlalu besar, kafe yang mudah untuk menghabiskan waktu luang, alasan kami menyukainya. Siapapun yang berada di kota dari fashion, musik, maupun film akan datang.

The Roxbury di Los Angeles juga sama, hanya sedikit lebih besar dan lebih banyak bintang film. Teman kami, John Enos adalah satu pemiliknya sehingga kami berkunjung untuk mendukungnya. Saya juga suka berkunjung ke Muse, sebuah restoran di Los Angeles, tempat ketika Herb Ritts mengadakan pesat ulang tahun untuk saya dan Tatjana yang ke-22. Saya juga menyukai Laura Belle di New York, tempat saya merayakan ulang tahun ke-21. Kami mendapatkan banyak perhatian saat itu. Jason Weinberg dan Kelly Cutrone merancang pesta tersebut dan mengundang banyak orang: Madonna, Steven Meisel, Isaac Mirzahi, Beverly Peele, Sante D’Orazio. Kamu juga mengundang salah satu majalah ternama untuk meliputnya secara eksklusif.


Oribe dan François yang menata rambut dan makeup di apartemen saya dan saya kembali mengenakan gaun hitam putih bermotif kotak-kotak rancangan Alaïa. Saya sempat mencobanya lagi beberapa waktu lalu dan ternyata masih cukup. Saya rasa saya beruntung. Saya tidak pernah melakukan diet. Saya selalu dapat memakan apapun yang saya inginkan dengan jumlah yang cukup. Namun, kini, saya menerapkan konsumsi makanan yang sehat.

(Penulis: Naomi Campbell; Alih Bahasa: Vanessa Masli; Disadur dari BAZAAR UK; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)