Relasi Antara Seni dan Fashion di Art Jakarta 2017

Karya seni yang berhubungan dengan fashion di pergelaran Art Jakarta 2017



Interpretasi tentang seni ditranslasikan dalam wujud karya seni yang dipamerkan di perhelatan Art Jakarta 2017. Ketiga desainer ini memutuskan untuk mengeksplorasi fashion melalui medium berbeda untuk menarik atensi pengunjung.


Shill x Gaku Igarashi

Pertemanan Shill dan Gaku Igarashi berawal sejak kecil di kota Sydney, Australia. Ketika dipertemukan kembali di tahun 2017, mereka kemudian memutuskan untuk bekerja sama. Hadirnya pergelaran Art Jakarta 2017 menjadi wadah sempurna untuk melakukan kolaborasi tersebut. Palet warna-warni, peri kurcaci, dan anak-anak merupakan beberapa kegemaran dari Shill dan Gaku yang mendasari kolaborasi ini. Mereka pun mempunyai tujuan yang mulia yaitu membuat orang bahagia melalui karya seni yang dibuat. Uniknya, kolaborasi ini digarap secara langsung di muka publik lewat sebuah proyek live painting selama tiga hari berturut-turut. Fakta bahwa Shill adalah seorang desainer aksesori, sedangkan Gaku merupakan guru seni di sebuah Taman Kanak-Kanak di Jepang menggarisbawahi relasi erat antara fashion dan seni yang digawangi mereka. Elemen utama dari hasil karya tersebut sendiri terpusat pada sosok peri kecil yang memang merupakan karakteristik desain dari Gaku.



Patrick Owen Anthology - featuring EmTe, Tatiana Romanova, Fajar P. Domingo, dan Anton Ismael

Booth kecil berukuran 20x20 pojok area Art Jakarta 2017 merupakan tempat bernaung bagi hasil kolaborasi antara Patrick Owen dengan sejumlah desainer grafis Indonesia yaitu Tatiana Romanova dan EmTe (Muhammad Taufiq), dan Anton Ismael. Latar belakang dari kolaborasi ini adalah sebagai bentuk apresiasi Patrick bagi para desainer grafis tersebut. Seluruh hasil karya tersebut dicetak dalam wujud embroidery dan disematkan di atas baju dalam koleksi yang berbeda tiap musimnya. Ketika ditanya mengenai relasi antara hasil karyanya dengan seni, Patrick bertutur bahwa ada kesinambungan secara langsung terhadap dua disiplin yang berbeda tersebut dan bahwa fashion juga merupakan sebuah karya seni. Tidak hanya di bagian luar, kolaborasi Patrick dengan seniman visual lainnya seperti Fajar P. Domingo juga dipamerkan di dalam area ekshibisi.



Stephanie Burt & Alexandra Alberta - Yeo Gallery

Latar belakang Stephanie Burt sebagai pelukis dan Alexandra Alberta sebagai desainer perhiasan merupakan perpaduan yang tepat untuk mencanangkan kolaborasi ini. Keduanya mempunyai aspek sentimentil terhadap setiap karya yang mereka kerjakan hingga menghasilkan sesuatu yang dapat dibilang personal. Setelah bereksperimen dengan berbagai media layaknya lukisan, gambar, ilustrasi, dan sculpture, Stephanie ingin mengeksplor sesuatu yang baru, yaitu membuat sesuatu di atas material lain. Kemudian, terbentuklah kolaborasi yang ditranslasikan dalam wujud perhiasan. Alexandra sendiri merasa tertantang untuk melakukan kolaborasi ini karena Ia terbiasa mendesain sesuatu yang girly untuk lini perhiasannya, hingga datangnya ajakan ini ketika Ia terpacu untuk membuat sesuatu dengan konsep powerful dan glamor. Perpaduan ini dapat dilihat pada penggunaan palet pastel seperti pink dan turquoise serta emas dan ornamen chunky dalam waktu bersamaan.





Franziska Fennert, Heaven is Mindset - Gallery Semarang

Lewat karya yang difokuskan pada satu karakter bernama Janus, Franziska Fennert mencoba mentranslasikan analogi desainnya dengan sejumlah instalasi berbalut variasi tekstil berbeda seperti resin dan kain perca. Bahkan, Franziska menggunakan beberapa baju miliknya yang sudah tidak terpakai pada Janus. Nama Janus sendiri didapatkan dari nama seorang Dewa di mitologi Yunani dan salah satu Dewa terawal yang disembah pada masanya. Lewat perbincangan singkat Bazaar dengan Franziska, Ia bertutur bahwa instalasi ini mempunyai relasi yang erat dengan fashion meski tidak secara langsung.






(Foto: Dok. Bazaar)